Kasus Cacar Monyet di Riau
Waspada Cacar Monyet, Pentingnya Kebersihan Diri dan Perilaku Seksual Sehat
Pentingnya kewaspadaan terhadap penyakit cacar monyet atau yang dikenal dengan Monkeypox, begini cara mencegahnya.
Penulis: Alex | Editor: Theo Rizky
Oleh: dr. Ade Fajri Kurnia, MH, Dosen Fakultas Kedokteran UMRI dan Sekretaris IDI Wilayah Riau
TRIBUNPEKANBARU.COM, PEKANBARU - Dengan kondisi kekinian, saya melihat semakin pentingnya kewaspadaan kita terhadap penyakit cacar monyet atau yang dikenal dengan Monkeypox.
Penyakit ini sempat dianggap jauh dari Indonesia, namun kini kasusnya kini kembali dilaporkan di berbagai daerah, termasuk di Riau, bahkan sampai ada yang meninggal dunia.
Karena itu, masyarakat perlu memahami gejala, cara penularan, serta langkah pencegahan.
Monkeypox pada dasarnya memiliki gejala mirip dengan cacar air, berupa ruam atau bintil berisi cairan yang muncul di wajah, dada, hidung, mulut, hingga area tubuh lain.
Namun ada satu hal khas yang membedakannya, yaitu pembesaran kelenjar getah bening di leher, sekitar rahang, atau ketiak.
Selain itu, penderita biasanya mengalami demam, sakit kepala, nyeri otot, sakit punggung, dan badan terasa sangat lemas.
Ini semua menandakan bahwa virus tersebut sedang aktif menyerang tubuh.
Masyarakat harus tahu bahwa cacar monyet bukan hanya masalah kulit semata, tetapi infeksi virus yang bisa menular antar manusia.
Penularannya terjadi melalui kontak langsung dengan cairan tubuh, termasuk air liur, lendir hidung, atau luka pada kulit.
Virus juga bisa masuk lewat mukosa mata, hidung, maupun mulut. Itu sebabnya penting sekali menjaga jarak dan menghindari sentuhan langsung dengan penderita yang sedang bergejala.
Selain kontak langsung, penularan monkeypox juga dapat terjadi melalui hubungan seksual.
Banyak penelitian menunjukkan bahwa virus dapat ditularkan lewat kontak kulit-ke-kulit yang intens, termasuk saat berhubungan intim.
Oleh karena itu, masyarakat perlu lebih bijak menjaga perilaku seksual, menghindari seks bebas, serta setia pada pasangan.
Ini bukan hanya soal moral, melainkan juga kesehatan dan perlindungan diri dari infeksi berbahaya.
Saya sering mendapati sebagian orang merasa tabu membicarakan penularan lewat hubungan seksual.
Padahal, justru karena tabu inilah masyarakat sering salah paham dan tidak mendapat informasi yang benar.
Akibatnya, risiko penularan meningkat tanpa disadari.
Menjaga kebersihan pribadi dan perilaku seksual yang sehat merupakan bagian dari pencegahan yang sangat penting.
Di sisi lain, masyarakat juga perlu lebih peduli dengan kebersihan diri sehari-hari.
Personal hygiene atau kebersihan pribadi harus benar-benar diperhatikan.
Misalnya dengan rajin mencuci tangan menggunakan air mengalir dan sabun atau hand sanitizer, terutama setelah bersentuhan dengan orang lain.
Hal sederhana ini terbukti efektif memutus rantai penularan berbagai penyakit menular, termasuk cacar monyet.
Hindarilah kebiasaan berbagi alat makan atau minum dengan orang lain, terutama jika ada yang sedang sakit atau menunjukkan gejala ruam dan demam.
Virus dapat berpindah melalui sisa air liur yang menempel di gelas, sendok, atau piring.
Kebiasaan kecil yang sering diremehkan ini justru bisa menjadi jalan masuk penyakit.
Selain itu, jangan sepelekan kontak dekat dengan orang yang sudah terindikasi terkena monkeypox.
Walaupun tidak selalu langsung menular, risiko penularan tetap ada.
Jika ada keluarga atau teman yang sakit dengan gejala khas, sebaiknya sarankan untuk segera berobat dan lakukan isolasi mandiri sampai benar-benar pulih.
Perlu diingat, monkeypox adalah penyakit yang dapat sembuh, tetapi memerlukan ketelitian dalam perawatan.
Perawatan utamanya adalah menjaga kondisi tubuh tetap kuat, memperbanyak istirahat, mengonsumsi makanan bergizi, dan menghindari penularan ke orang lain.
Kesabaran dalam menjalani masa sakit sangat dibutuhkan, dan dukungan dari lingkungan sekitar juga penting.
Kita semua tentu berharap agar kasus monkeypox tidak meluas.
Namun, pencegahan tetap menjadi kunci. Jangan menunggu sakit baru peduli dengan kebersihan dan kesehatan.
Mulailah dari diri sendiri dengan menerapkan pola hidup bersih, menghindari perilaku berisiko, dan menjaga interaksi yang sehat dengan sesama.
Masyarakat tidak perlu panik, tetapi harus waspada. Informasi yang benar jauh lebih berharga daripada ketakutan yang tidak berdasar.
Saya mengajak semua pihak untuk terus mengedukasi orang-orang di sekitar kita, baik di keluarga, lingkungan kerja, maupun komunitas, tentang cara mencegah dan mengenali gejala monkeypox sejak dini.
Sebagai penutup, saya ingin menegaskan kembali, monkeypox bisa dicegah dengan perilaku hidup bersih, menjaga jarak dengan orang yang sakit, serta menghindari seks bebas yang berisiko.
Dengan disiplin dan kesadaran bersama, kita bisa melindungi diri sendiri sekaligus melindungi orang-orang yang kita cintai dari penyebaran penyakit ini.
(Tribunpekanbaru.com/Alexander)
Baca juga: 4 Santri di Riau Diduga Terinfeksi Cacar Monyet, 1 Meninggal Dunia, Gubri Minta Masyarakat Waspada
Baca juga: Waspada Cacar Monyet, Dinkes Bengkalis Akan Berlakukan Screening di Pintu Masuk Internasional
| Sudah Keluar, Ini Hasil Uji Lab Dua Suspek Cacar Monyet di Kepulauan Meranti |
|
|---|
| Santri di Meranti Meninggal Bukan karena Cacar Monyet, Hasil Lab Kemenkes Pastikan Negatif |
|
|---|
| Dinkes Bengkalis Pastikan Tak Ada Kasus Monkeypox di Bengkalis |
|
|---|
| 17 Santri di Meranti Diisolasi Usai Kontak dengan Pasien Suspek Cacar Monyet |
|
|---|
| Kronologi Dugaan Suspect Monkeypox di Kepulauan Meranti, Pasien Pertama Usia 13 Tahun |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/pekanbaru/foto/bank/originals/dr-Ade-Fajri-Kurnia-MH.jpg)