Rabu, 3 Juni 2026
Pemko Pekanbaru
Super Hub Pemko Pekanbaru

Angka Kemiskinan di Riau

Nilai Indeks Kedalaman dan Keparahan Kemiskinan di Kampar Tinggi, Begini Penjelasan BPS

BPS mencatat penduduk miskin Kampar sekitar 58,71 ribu jiwa. Setara dengan 6,29 persen dari jumlah penduduk. 

Tayang:
Penulis: Fernando Sihombing | Editor: Muhammad Ridho
FOTO/Edit by Canva
ANGKA KEMISKINAN - BPS mencatat penduduk miskin Kampar sekitar 58,71 ribu jiwa. Setara dengan 6,29 persen dari jumlah penduduk.  

TRIBUNPEKANBARU.COM, KAMPAR - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat indeks kedalaman dan keparahan kemiskinan Kampar tahun 2025 yang tinggi dibandingkan kabupaten/kota di Riau.

Nilai indeks kedalaman kemiskinan 0,94 dan indeks keparahan kemiskinan 0,19.

Kedua nilai indeks itu ketiga tertinggi setelah Kabupaten Kepulauan Meranti dan Rokan Hilir (Rohil). 

Indeks kedalaman kemiskinan Kepulauan Meranti 3,05 dan Rohil 1,16. Terendah di Dumai 0,20 dan Pekanbaru 0,34.

Indeks keparahan kemiskinan Kepulauan Meranti 0,70 dan Rohil 0,36. Terendah di Kota Dumai 0,02 serta Indragiri Hilir (Inhil) dan Siak masing-masing 0,06.

BPS mencatat penduduk miskin Kampar sekitar 58,71 ribu jiwa. Setara dengan 6,29 persen dari jumlah penduduk. 

Jumlah penduduk Kampar tahun 2025 sebanyak 908.390 jiwa. Terdiri dari laki-laki 464.180 jiwa dan perempuan 444.210 jiwa.

BPS juga mencatat garis kemiskinan (GK) penduduk Kampar hanya Rp600.385 per orang per bulan. Nominal tersebut kedua terendah di Riau. 

Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala BPS Kampar, Prayudho Bagus Jatmiko menjelaskan, indeks kedalaman kemiskinan atau P1 adalah ukuran rata-rata kesenjagan pengeluaran penduduk miskin terhadap GK atau P0. 

Baca juga: Garis Kemiskinan Kampar 2025 Rp600.385 per Bulan, Kedua Terendah di Riau

Ia menjelaskan, hubungan P0 dan P1 dapat diilustrasikan seperti ambang batas dengan jarak rata-rata penduduk miskin dari ambang batas tersebut.

Menurut dia, P1 dapat mencerminkan ukuran kualitas upaya pengentasan kemiskinan. Semakin rendah nilai P1, maka jarak antara pengeluaran rata-rata orang miskin dan garis kemiskinan semakin mengecil.

"Penduduk miskin semakin mudah untuk keluar dari kemiskinan karena kemampuan ekonomi mereka lebih dekat di bawah standar minimum. Demikian juga sebaliknya (jika P1 semakin tinggi)," ujarnya kepada Tribunpekanbaru.com, Sabtu (17/1/2026).

Lebih jauh, ia menterjemahkan makna P0 dengan P1 dengan bahasa yang bebas. "P0 memberi tahu kita siapa atau berapa banyak yang miskin dalam persen, sedangkan P1 memberi tahu kita seberapa buruk kondisi mereka," katanya. 

Referensi lain penjelasan tentang indeks keparahan kemiskinan atau P2. Menurut BPS, P2 adalah indikator yang mengukur tingkat ketimpangan pengeluaran di antara penduduk miskin. 

Pengeluaran penduduk miskin yang jauh di bawah GK, mendapat bobot P2 lebih besar. Semakin tinggi nilai P2, semakin parah ketimpangan dan kesenjangan di antara penduduk miskin tersebut.

( Tribunpekanbaru.com / Fernando Sihombing)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved