Waspada Malaria di Riau
Malaria di Riau, Saatnya Respons Lebih Masif dan Terintegrasi
Secara umum Riau sebenarnya telah menunjukkan kemajuan. Sebanyak 12 kabupaten/kota telah mencapai tahap eliminasi malaria.
Fungsional Epidemiologi Madya Dinas Kesehatan Provinsi Riau, Dr Musfardi Rustam, SKM, M.Epid
TRIBUNPEKANBARU.COM, PEKANBARU -- Secara umum Riau sebenarnya telah menunjukkan kemajuan. Sebanyak 12 kabupaten/kota telah mencapai tahap eliminasi malaria.
Namun, status eliminasi bukan berarti risiko hilang sepenuhnya. Peluang terjadinya KLB tetap ada, terutama di wilayah dengan faktor lingkungan dan mobilitas penduduk yang masih mendukung penularan.
Kabupaten Rokan Hilir memang bukan wilayah baru dalam peta kerawanan malaria. Sejak 2020, beberapa daerah di sana telah menjadi perhatian karena tingginya kasus. Kondisi geografis dengan karakteristik air pasang surut menciptakan habitat ideal bagi nyamuk Anopheles untuk berkembang biak.
Wilayah seperti Panipahan, Bagan Siapi-api, dan Sianaboy sebelumnya tercatat sebagai daerah dengan kasus tertinggi. Panipahan bahkan sempat menjadi penyumbang terbesar kasus malaria. Namun melalui berbagai intervensi, kasus di Panipahan berhasil ditekan hingga turun sekitar 75 persen.
Sayangnya, tren berbeda terjadi di daerah rawan lain, misalnya Sianaboy. Dalam beberapa bulan terakhir, peningkatan kasus di wilayah tersebut hampir mencapai 400 persen. Lonjakan ini menjadi perhatian serius dan sedang kami telusuri lebih lanjut untuk memahami faktor pemicu yang menyebabkan peningkatan signifikan tersebut.
Berbagai upaya sebenarnya telah dilakukan. Pelatihan on the job training bagi tenaga mikroskopis terus diperkuat agar penegakan diagnosis malaria semakin akurat dan cepat. Diagnosis yang tepat menjadi hal utama dalam memutus rantai penularan.
Namun tantangan di lapangan tidak mudah. Hampir 90 persen wilayah tertentu di Rohil merupakan area potensial perindukan nyamuk malaria. Luasnya wilayah seperti di Kecamatan Kubu dan Kubu Babusallam juga menjadi kendala tersendiri dalam pelaksanaan pengendalian, baik dari sisi logistik maupun jangkauan petugas.
Upaya penyemprotan, survei darah massal malaria, serta surveilans aktif oleh petugas terus dilakukan. Idealnya, survei darah massal dilakukan setiap satu hingga dua bulan secara lebih masif. Dengan pendekatan skrining massal yang konsisten dan didukung pola hidup sehat masyarakat, penurunan kasus hingga 50 persen sangat mungkin dicapai.
Kami juga telah melakukan inovasi biologis melalui pelepasan ikan pemakan jentik. Di Panipahan, sebanyak 1.200 ekor ikan dilepas dan terbukti mampu menurunkan populasi jentik hingga 75 persen. Pendekatan ini menjadi contoh bahwa intervensi berbasis lingkungan dapat memberikan dampak nyata.
Langkah serupa juga telah dilakukan di Sianaboy pada tahun 2025 dengan pelepasan 1.200 ikan pemakan jentik. Namun fakta bahwa kasus justru meningkat tajam di wilayah tersebut menunjukkan bahwa faktor penularan tidak hanya ditentukan oleh satu intervensi. Ada kemungkinan faktor mobilitas penduduk, perubahan lingkungan, atau kepatuhan pengobatan yang perlu dievaluasi lebih mendalam.
Ke depan, penguatan sistem menjadi sangat penting. Penambahan mikroskop dan sarana diagnostik lain diperlukan agar deteksi dini semakin optimal. Namun kita juga harus jujur bahwa keterbatasan anggaran juga masih menjadi tantangan. Oleh karena itu, pengendalian malaria di Rohil memerlukan dukungan lintas sektor, penguatan kader kesehatan, serta komitmen berkelanjutan agar KLB ini tidak meluas dan upaya eliminasi malaria di Riau tetap berada di jalur yang tepat.
(Tribunpekanbaru.com/Alexander)
| Dinkes Meranti Catat Satu Kasus Malaria Sepanjang 2026, Pasien Sudah Sembuh |
|
|---|
| Bengkalis Masuk Wilayah Bebas Penyebaran Malaria, Tahun Lalu Kasus Impor dari Daerah Luar |
|
|---|
| Kadis Kesehatan Dumai Tegaskan Dumai Tidak Ditemukan Kasus Malaria |
|
|---|
| Kota Pekanbaru Masih Nihil Kasus Malaria |
|
|---|
| Hanya 7 Kasus Malaria Muncul di Pelalawan Sepanjang 2025, Diskes: Semuanya Sehat |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/pekanbaru/foto/bank/originals/Fungsional-Epidemiologi-Madya-Dinkes-Riau-Dr-Musfardi-Rustam.jpg)