Selasa, 9 Juni 2026
Pemko Pekanbaru
Super Hub Pemko Pekanbaru

Dolar Naik, Harga Karet di Kuansing Tembus Rp21.000 per Kilogram

Ketika salah satu komoditas mengalami penurunan harga, komoditas lainnya dapat menjadi sumber pendapatan alternatif bagi keluarga.

Tayang:
Tribun Pekanbaru/Guruh Budi Wibowo
POHON KARET - Harga karet di Kabupaten Kuansing tembus rekor baru 

TRIBUNPEKANBARU.COM,KUANSING - Harga karet di tingkat lelang di Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing), Riau kembali melambung. 

Pada pekan ini, harga karet tembus Rp21.000 per kilogram atau naik Rp331 per kilogram dibandingkan pekan lalu yang berada di angka Rp20.669 per kilogram.

Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan (Disbunnak) Kuansing, Andriyama Putra, Selasa (9/6/2026), mengatakan harga tersebut untuk kadar karet kering (KKK) 58 persen.

"Sudah beberapa pekan ini harga karet di atas Rp 20 ribu per kilogram, ini menjadi angin segar bagi para petani," ujarnya.

Ia meyakini tren harga karet di Kuansing akan terus berlangsung.

Selain menurunnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, tingginya permintaan industri global juga turut mendongkrak harga komoditas ini.

Andri Yama Putra berharap masyarakat yang memiliki kebun karet untuk tetap mempertahankan tanaman karetnya meskipun harga karet kerap mengalami fluktuasi.

Baca juga: Kurir Narkoba Dibekuk, Sabu 6,94 Kg dan 969 Cartridge Etomidate Senilai Rp9,8 M dari Malaysia Disita

Baca juga: Pendaftar Tembus 40 Orang di Hari Kedua, SMA Negeri 2 Siak Optimistis SPMB 2026 Terus Meningkat

Menurutnya, keberadaan dua komoditas perkebunan utama tersebut menjadi penyangga ekonomi masyarakat pedesaan.

Ketika salah satu komoditas mengalami penurunan harga, komoditas lainnya dapat menjadi sumber pendapatan alternatif bagi keluarga.

“Meski harga sawit saat ini tinggi dan harga karet masih rendah, masyarakat sebaiknya tetap mempertahankan kebun karet. Ini sebagai langkah berjaga-jaga jika suatu saat harga sawit kembali turun dan harga karet justru relatif stabil,” ujarnya.

Fluktuatifnya harga ini menunjukkan bahwa nilai komoditas perkebunan sangat dipengaruhi kondisi pasar global.

Karena itu, ketergantungan hanya pada satu jenis komoditas berpotensi menimbulkan risiko ekonomi bagi masyarakat.

Selain sebagai sumber pendapatan, keberadaan kebun karet dan sawit secara bersamaan juga menciptakan keseimbangan ekonomi di tingkat rumah tangga.

Masyarakat memiliki pilihan sumber penghasilan sesuai kondisi harga pasar yang berlaku.

“Kalau kedua komoditas ini bisa dipertahankan, masyarakat akan lebih siap menghadapi perubahan harga global. Bahkan akan lebih baik lagi jika suatu saat harga karet dan sawit sama-sama mengalami kenaikan,” katanya.

Dengan tetap menjaga keberadaan kebun karet di tengah ekspansi sawit, masyarakat dinilai telah mempertahankan fondasi ekonomi keluarga sekaligus menjaga keberlanjutan sektor perkebunan di daerah.

"Pemerintah juga terus mendorong upaya peningkatan produktivitas perkebunan karet agar komoditas tersebut tetap memiliki nilai ekonomi yang menjanjikan bagi petani," ujarnya.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved