Pemko Pekanbaru
Super Hub Pemko Pekanbaru

Postingan Foto Korban atau Peristiwa Bom Surabaya Tidak Tampil di Facebook, Ini Penyebabnya

Pasca teror bom di Surabaya, facebook ternyata menghapus konten radikal. Hal tersebut terkait banyaknya foto yang beredar

Editor: Budi Rahmat
KOMPAS.com/GARRY ANDREW LOTULUNG
Suasana setelah ledakan bom di Gereja Pantekosta Pusat Surabaya (GPPS) di Jalan Arjuna, Surabaya, Jawa Timur, Minggu (13/5/2018). Akibat ledakan itu, 5 mobil dan 30 motor terbakar.(KOMPAS.com/GARRY ANDREW LOTULUNG) 

TRIBUNPEKANBARU.COM- Teror bom di Surabaya beberapa waktu lalu membuat linimasa Faceboook dihujani foto dan video terkait kejadian ini.

Bahkan tak sedikit konten-konten yang sejatinya tak layak diperlihatkan.

Terkait hal ini, Facebook Indonesia mengatakan telah menghapus ribuan konten soal aksi dan korban teror bom Surabaya.

Menurut Ruben Hattari, Public Policy Lead Facebook Indonesia, ribuan konten ini termasuk 472 konten yang dihapus berdasarkan permintaan Menteri Komunikasi dan Informatika, Rudiantara.

Baca: Kisah Mengharukan Bocah 13 Tahun Asal Indonesia yang Tewas Membela ISIS

"Angka 472 itu hanya dalam waktu dua hari pasca bom Surabaya. Tapi sebenarnya ada ribuan konten radikal yang sudah dihapus," ungkap Ruben saat ditemui di kantor Facebook, Jumat (18/5/2018).

Namun ia enggan untuk menyebutkan berapa detailnya.

Meski begitu, ia menuturkan bahwa penutupan tersebut bukan hanya bersumber dari laporan masyarakat dan pemerintah.

Facebook juga menegaskan memiliki tim yang selalu melakukan pengecekan.

Selain itu, Facebook Indonesia pun menuturkan tidak serta-merta menghapus begitu saja konten terkait bom Surabaya yang telah tersebar di media sosial ini.

Pasalnya ada beberapa konten yang malah sudah lebih dulu dipublikasikan oleh media mainstream.

Misalnya video saat ledakan terjadi. Kendati demikian, Facebook tetap menjaga konten tersebut agar tidak mengganggu pengguna.

Baca: Komisi II Sampaikan Rekomendasi Hukum Terkait PT MAL

Oleh karena itulah Facebook menerapkan filter untuk menandakan bahwa konten tersebut dapat bersifat sensitif.

"Ada juga konten yang kami filter seperti video ledakan bom, karena video tersebut sudah umum juga di televisi. Konten ini tidak kami hapus, hanya ditutupi dengan filter saja," ungkap Ruben.

Sebelumnya, Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo), Rudiantara, mengimbau masyarakat agar tetap tenang dan tak takut menanggapi ancaman terorisme.

Imbauan ini menyusul insiden ledakan bom beruntun yang terjadi di Surabaya dan Sidoarjo.

Sumber: Kompas.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved