Berita Riau

BI Naikkan Suku Bunga Acuan, Apindo Riau Sebut Ini Tak Mendukung Dunia Investasi

Bank Indonesia (BI) sudah menaikkan BI 7 days reverse repo rate atau suka bunga acuan beberapa kali.

BI Naikkan Suku Bunga Acuan, Apindo Riau Sebut Ini Tak Mendukung Dunia Investasi
Tribun Pekanbaru/Theo Rizky
BI naikkan suku bunga acuan, Apindo Riau sebut ini tak mendukung dunia investasi kota Pekanbaru. Foto: Suasana Pekanbaru. 

Laporan Wartawan Tribun Pekanbaru Hendri Gusmulyadi

TRIBUNPEKANBARU.COM, PEKANBARU - Dihitung sejak awal tahun 2018, Bank Indonesia (BI) sudah menaikkan BI 7 days reverse repo rate atau suka bunga acuan beberapa kali dengan persentase total 175 persen.

Beberapa waktu lalu, atau pada 15 Novevember 2018, suku bunga acuan dari 5,75 persen kambali dinaikkan menjadi 6 persen. Naik sebesar 25 basis point.

Ketua Dewan Pimpinan Provinsi (DPP) Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Riau, Wijatmoko Rah Trisno angkat bicara atas langkah dan keputusan BI tersebut.

Baca: Dimulai Pertunjukan Seni dan Budaya, Event Bono Surfing akan Dihadiri Deputi Kemenpar

Menurutnya, suku bunga acuan memang merupakan bagian dari strategi BI untuk menarik kembali uang masuk, dengan konsekwensi suku bunga kredit bank-bank di Indonesia juga mengikuti.

Namun dunia investasi cukup terpengaruh dengan langkah BI menaikkan suku bunga acuan. Paling tidak, investor akan menahan diri dulu untuk melakukan investasi termasuk di Provinsi Riau.

"Ya karena dari sisi kredit investasi kita tentu saja juga akan naik. Sehingga pada gilirannya dalam kondisi ekonomi sekarang, itu akan membuat pinjaman investasi cendrung menurun, maka investor sedikit menahan diri untuk berinvestasi," jelas Wijatmoko, Selasa (20/11/2018).

Di lain hal tambah Wijatmoko, pengaruh suku bunga acuan ini juga akan mempengaruhi jenis kredit konsumensi. Dimana suku bunga untuk setiap penjualan produk ini juga bakal ikut menyesuaikan.

Baca: Putrinya Usia 13 Tahun Hamil 7 Bulan, Ibu di Inhil Ini Pasrah Sang Anak Dinikahi Suaminya

"Kalau bunga kredit konsumsi naik, maka masyarakat juga bakal menahan diri untuk melalukan kredit konsumsi. Usaha produk konsumsi pasti kekurangan pemasukan, karena daya beli masyarakat akan produk melemah karena tingginya bunga," paparnya.

Wijatmoko mengaku, dirinya belum bisa memprediksi seberapa persen dampak suku bungan acuan BI sebeser 6 persen ini terhadap ekonomi. Pada kesimpulannya, kenaikan suku bungan BI sebesar 25 basis point, sedikit banyaknya akan mempengaruhi kredit investasi dan kredit konsumsi masyarakat.

Ia juga menambahkan, salah satu sektor yang bakal mengalami kelesuan karena penaikan suku bunga acuan yakni jual beli barang-barang elektronik. Selain karena bunga kredit yang juga harus dinaikkan, di lain hal nilai modal produk-produk juga semakain mahal karena gejolak dolar yang terjadi beberapa waktu belakangan.

"Ya meski dua minggu ini dolar cendrung stabil, tapi BI rate sebesar 6 persen ini ikut berimbas terhadap lesunya penjualan produk elektronik. Hasilnya para pemain barang elektronik akan menahan diri untuk melepas produknya di pasar, maka posisi pemain produk ini akan semakin parah," ujarnya.

Baca: 12 Peristiwa Penting Seputar Maulid Nabi Muhammad SAW di Bulan Rabiul Awal Tahun Gajah

"Idealnya untuk dunia usaha, BI tidak menaikkan suku bunga, bahkan harus menurunkan, sehingga kalau suku bunga rendah, orang akan melakukan investasi. Kalau tinggi tentu orang lebih nyaman naruh uangnya di bank, dari pada menanamkan modalnya. Intinya BI Rate pada dasarnya tidak mendukung dunia investasi," ulasnya. (*)

Penulis: Hendri Gusmulyadi
Editor: Ariestia
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved