Kisah Penghuni Terakhir Kampung Kusta Bokor (4-Habis)
Tolong Urus Jenazah dan Pemakaman Kami
Kini mereka menghabiskan sisa umur di sebuah panti di Kelurahan Kampung Baru, Tebingtinggi, Kabupaten Kepulauan Meranti.
Editor:
Viviyanti Katharina
Sampan tradisional yang biasa digunakan Tan Cuan Sei dan Thian Sin saat mereka menjual anyaman bambu hasil karya penderita kusta ke Selatpanjang.
Tiga sejawat, Ong Siu Lan, Tan Cuan Sei, dan Thian Sian ternyata bukan generasi terakhir penderita penyakit kusta di Kabupaten Kepulauan Meranti.
KAMP pengasingan bagi penderita kusta di hulu Sungai Bokor, Desa Bokor, Kecamatan Rangsang Barat, Meranti, sudah ditinggal Siu Lan, Cuan Sei, dam Thian Sian, sejak Agustus 2011. Kini mereka menghabiskan sisa umur di sebuah panti di Kelurahan Kampung Baru, Tebingtinggi, Kabupaten Kepulauan Meranti.
Ya, mereka lega bisa kembali ke kampung halaman, setelah dikucilkan puluhan tahun. Meski gurat- gurat penderitaan belum sepenuhnya hilang, tapi setidaknya ketiga sejawat ini kembali merasa dimanusiakan.
Adalah Ketua Bidang Kepemudaan Paguyuban Sosial marga Tionghoa Indonesia (PSMTI) Cabang Selatpanjang, Han Hai yang ngotot membawa mereka "pulang". Ketika ditemui di kantor Ikatan Pemuda PSMTI Selatpanjang, pertengahan Desember 2011 lalu, pria 50 tahun yang lebih dikenal dengan nama Atai ini mengatakan sudah lama mendengar tentang keberadaan para penderita kusta di Bokor.
Namun baru pada Juni 2011 ia berkesempatan mengunjungi para penderita kusta tersebut. Saat itu bertandang ke Bokor, ia diajak Persatuan Wanita Tionghoa Indonesia (Perwanti) yang ketika itu tengah melaksanakan bakti sosial.
Sesampainya di Bokor, ia merasa sangat terkejut. Asrama tersebut hanya diisi oleh tiga orang. Selain itu, usia mereka juga sudah renta. Ditambah lagi dengan keberadaan seorang wanita dan Tan Cuan Sei yang juga mengalami gangguan penglihatan karena katarak.
Hal yang paling membuatnya haru adalah ketika mendengar keinginan Tan Cuan Sei yang hendak mengakhiri hidupnya. Bukan tanpa sebab, Cuan Sei ingin bunuh diri karena frustrasi dengan beratnya beban hidup yag ditanggung selama di pengasingan.
Keterangan Atai, Thian Sin mempunyai seorang anak angkat. Yakni anak dari adiknya yang tinggal di Batam, Kepulauan Riau. Sementara Ong Siu Lan juga masih mempunyai keluarga di Tanjung Balai.
Rencananya, kedua orang tersebut hendak pergi ke tempat sanak keluarga yang masih tersisa. Thian Sin ke Batam dan Ong Siu Lan ke Tanjung Balai. Sementara Tan Cuan Sei tidak tahu harus kemana.
Oleh karena itulah, kata Atai, Cuan Sei berpikir untuk mengakhiri hidupnya. Pada pertemuan itu, Tan Cuan Sei juga berpesan kepadanya, agar Kabid Kepemudaan PSMTI Selatpanjang ini mengurus jenazah dan pemakamannya.
"Sekarang siapa yang tidak terharu dan tersayat hatinya mendengar permintaan semacam itu. Meskipun kusta, dia juga manusia. Mempunyai hak hidup yang sama," ujar Atai berapi-api.
Sepulang dari Bokor, Atai lantas membicarakan masalah tersebut dengan PSMTI dan yayasan lain yang mengurus keberadaan mereka di Bokor. Ia meminta izin agar diperbolehkan membawa ketiganya pulang ke Selatpanjang.
Terjadi perbedaan pendapat. Akar perbedaan itu adalah sifat kusta yang menular. Tentu saja ada yang khawatir apabila ada orang dengan kusta di lingkungan sekitarnya. Setelah melalui perdebatan, sekitar sebulan kemudian, akhirnya Atai memperoleh izin untuk membawa ketiganya pulang.
"Syaratnya harus ada surat keterangan dokter yang menerangkan kalau penyakit mereka tidak menular," imbuhnya.
Sebagai langkah awal sebelum membawa mereka pulang, Atai memeriksakan kondisi ketiganya di UPTD Rangsang Barat. Bersama lima orang temannya, ia membawa ketiganya menggunakan sepeda motor ke Puskesmas tersebut.
Bukan perkara mudah membawa mereka ke Puskesmas. Pasalnya, mereka harus menempuh perjalanan melintasi jalan yang tidak mulus. Ditambah lagi, mereka juga harus menggunakan perahu untuk sampai di camp.
Setelah diperiksa, tim medis menyatakan, kusta yang diderita ketiganya sudah tidak menular kepada orang lain. Di sini, Atai berpisah dengan ketiga pengidap kusta tersebut. Bersama rekannya, ia pulang ke Selatpanjang. Sementara Tan Cuan Sei, Thian Sin dan Ong Siu Lan, pulang ke Bokor untuk berkemas-kemas.
Namun mereka belum bisa pindah saat itu juga. Pasalnya, saat itu adalah bulan tujuh. Dalam kepercayaan mereka, bulan tujuh merupakan bulan hantu.
"Jadi baru pada bulan Agustus lah mereka pulang ke Selatpanjang," ujarnya.
Sesampainya di Selatpanjang, mereka bertiga lalu ditempatkan di bangunan yang dulunya merupakan panti jompo. Sebelum kedatangan mereka, bangunan tersebut kosong. Setelah berada di Selatpanjang, kebutuhan hidup mereka kini ditanggung oleh berbagai yayasan termasuk Ikatan Pemuda PSMTI.
"Dalam waktu dekat, saya ingin memeriksakan mata Cuan Sei yang terkena katara," tuturnya.
Meskipun kebutuhan hidup mereka ditanggung, namun bukan berarti ketiga pengidap kusta ini menjadi malas. Tan Cuan Sei, Thian Sin dan Ong Siu Lan tetap membuat anyaman bambu.
Di sisi lain, persahabatan di antara ketiganya sepertinya sudah tidak bisa dipisahkan lagi. Dikisahkan Atai, sehari setelah tiba di Selatpanjang, Thian Sin pergi ke rumah anak angkatnya di Batam.
Namun, Thian Sin tidak betah tinggal bersama anak angkatnya. Sebulan kemudian ia pun memilih pulang ke Selatpanjang untuk berkumpul bersama kedua temannya.
"Sebagian besar hidup saya, saya habiskan bersama mereka. Mereka lebih dari sekadar sahabat," ucap Thian Sin menutup perjumpannya dengan Tribun.
Kusta masih ditemukan
Staf pengelola program kusta Kabupaten Kepulauan Meranti, Fitri Rahmawati ketika dihubungi Tribun, akhir Desember 2011 mengatakan, Bokor sebagai tempat pembuangan pengidap kusta sudah ada sejak zaman penjajahan Jepang.
Hal itu dikarenakan ketika itu banyak masyarakat yang menganggap kusta merupakan penyakit kutukan. Sehingga, si penderita akan mengalami dua hal mengerikan. Pertama, dia mengidap kusta dan kedua, mendapat stigma negatif dari masyarakat.
Fitri mengungkapkan, pada 2008 lalu ia pernah berkunjung ke Bokor. Ketika itu, ia merupakan tenaga kesehayan di UPTD Anastata, Rangsang Barat.
Ketika berkunjung ke sana, menurutnya ada lima orang penderita. Kelima orang tersebutsaat itu sudah sembuh secara medis. Masa pengobatan penderita kusta tersebut telah selesai.
"Pengobatan terhadap kusta antara 6 bulan hingga 12 bulan," ucapnya.
Namun ditambahkannya, para pengidap kusta tersebut tidak mau pulang ke kampung halamannya. Alasan mereka, kata Fitri, malu dan khawatir kalau mereka tidak diterima oleh masyarakat sekitar. Ditambah lagi, ada seorang mantan pengidap kusta yang sudah tidak mempunyai sanak famili.
"Karena itu, mereka memilih bertahan di Bokor," imbuhnya.
Saat ini menurut Fitri, secara nasional kasus kusta di Kabupaten Kepulauan Meranti sudah dieliminasi. Artinya jumlah pengidap kusta sudah berada di bawah 1 persen dari total jumlah penduduk.
Meskipun demikian, yang paling dikhawatirkannya adalah pihaknya masih terus menemukan kasus baru pengidap kusta. Pada tahun 2011 hingga tri wulan ketiga, ia menemukan sebanyak 12 orang pengidap kusta baru di wilayah Kabupaten Kepulauan Meranti.
Fitri menambahkan, sebagian besar kasus kusta baru ditemukan di Desa Bungur, Kecamatan Rangsang Barat. Masih satu kecamatan dengan Bokor. Di wilayah ini, katanya terdapat dua orang anak-anak dan dua orang yang sudah cacat karena kusta.
"Di Bungur, pengidap kusta yang masih menjali proses perawatan (minum obat secara rutin) dan temuan kasus baru, sekitar 10 orang," ujar Fitri.
Diakui Fitri, tenaga medis untuk menangani masalah kusta di Meranti masih sangat kurang. Bahkan, Fitri mengungkapkan, hanya ada satu orang petugas puskesmas di seluruh kawasan Meranti yang mempunyai kompetensi dalam penanganan kusta.
"Tahun depan kami akan melakukan pelatihan kepada petugas kesehatan mengenai pengelolaan program kusta," imbuh Fitri.
Kendala lain yang dihadapi oleh pihak Diskes Meranti adalah kondisi geografis wilayahnya. Di Bungur misalnya. Wilayah ini cukup sulit dijangkau. Meskipun demikian, pihaknya tetap melakukan berbagai kegiatan dalam pengelolaan program kusta. Dalam satu tahun, pihak Diskes Meranti melakukan survei ke lapangan sebanyak dua kali.
Selain itu, pihaknya juga melakukan berbagai penyuluhan terkait ancaman kusta. Hasilnya cukup menggembirakan. Menurutnya, sudah banyak warga masyarakat yang benar-benar mengerti apa itu kusta dan cara penularannya.
Semakin meningkatnya pengetahuan masyarakat mengenai kusta, diharapkan, penyebaran penyakit ini akan semakin bisa ditekan atau bahkan hingga hilang sama sekali. Fitri pun menegaskan, kusta bukanlah penyakit keturunan, kutukan, karma, ataupun guna-guna. Kusta bisa sembuh dengan pengobatan secara teratur.
Penularan kusta juga tidak mudah. Seseorang tertular kusta, biasanya setelah yang bersangkutan melakukan kontak berat secara terus menerus dengan penderita. Itupun, risikonya hanya 5 persen hingga 10 persen. (galih pujo asmoro)
KAMP pengasingan bagi penderita kusta di hulu Sungai Bokor, Desa Bokor, Kecamatan Rangsang Barat, Meranti, sudah ditinggal Siu Lan, Cuan Sei, dam Thian Sian, sejak Agustus 2011. Kini mereka menghabiskan sisa umur di sebuah panti di Kelurahan Kampung Baru, Tebingtinggi, Kabupaten Kepulauan Meranti.
Ya, mereka lega bisa kembali ke kampung halaman, setelah dikucilkan puluhan tahun. Meski gurat- gurat penderitaan belum sepenuhnya hilang, tapi setidaknya ketiga sejawat ini kembali merasa dimanusiakan.
Adalah Ketua Bidang Kepemudaan Paguyuban Sosial marga Tionghoa Indonesia (PSMTI) Cabang Selatpanjang, Han Hai yang ngotot membawa mereka "pulang". Ketika ditemui di kantor Ikatan Pemuda PSMTI Selatpanjang, pertengahan Desember 2011 lalu, pria 50 tahun yang lebih dikenal dengan nama Atai ini mengatakan sudah lama mendengar tentang keberadaan para penderita kusta di Bokor.
Namun baru pada Juni 2011 ia berkesempatan mengunjungi para penderita kusta tersebut. Saat itu bertandang ke Bokor, ia diajak Persatuan Wanita Tionghoa Indonesia (Perwanti) yang ketika itu tengah melaksanakan bakti sosial.
Sesampainya di Bokor, ia merasa sangat terkejut. Asrama tersebut hanya diisi oleh tiga orang. Selain itu, usia mereka juga sudah renta. Ditambah lagi dengan keberadaan seorang wanita dan Tan Cuan Sei yang juga mengalami gangguan penglihatan karena katarak.
Hal yang paling membuatnya haru adalah ketika mendengar keinginan Tan Cuan Sei yang hendak mengakhiri hidupnya. Bukan tanpa sebab, Cuan Sei ingin bunuh diri karena frustrasi dengan beratnya beban hidup yag ditanggung selama di pengasingan.
Keterangan Atai, Thian Sin mempunyai seorang anak angkat. Yakni anak dari adiknya yang tinggal di Batam, Kepulauan Riau. Sementara Ong Siu Lan juga masih mempunyai keluarga di Tanjung Balai.
Rencananya, kedua orang tersebut hendak pergi ke tempat sanak keluarga yang masih tersisa. Thian Sin ke Batam dan Ong Siu Lan ke Tanjung Balai. Sementara Tan Cuan Sei tidak tahu harus kemana.
Oleh karena itulah, kata Atai, Cuan Sei berpikir untuk mengakhiri hidupnya. Pada pertemuan itu, Tan Cuan Sei juga berpesan kepadanya, agar Kabid Kepemudaan PSMTI Selatpanjang ini mengurus jenazah dan pemakamannya.
"Sekarang siapa yang tidak terharu dan tersayat hatinya mendengar permintaan semacam itu. Meskipun kusta, dia juga manusia. Mempunyai hak hidup yang sama," ujar Atai berapi-api.
Sepulang dari Bokor, Atai lantas membicarakan masalah tersebut dengan PSMTI dan yayasan lain yang mengurus keberadaan mereka di Bokor. Ia meminta izin agar diperbolehkan membawa ketiganya pulang ke Selatpanjang.
Terjadi perbedaan pendapat. Akar perbedaan itu adalah sifat kusta yang menular. Tentu saja ada yang khawatir apabila ada orang dengan kusta di lingkungan sekitarnya. Setelah melalui perdebatan, sekitar sebulan kemudian, akhirnya Atai memperoleh izin untuk membawa ketiganya pulang.
"Syaratnya harus ada surat keterangan dokter yang menerangkan kalau penyakit mereka tidak menular," imbuhnya.
Sebagai langkah awal sebelum membawa mereka pulang, Atai memeriksakan kondisi ketiganya di UPTD Rangsang Barat. Bersama lima orang temannya, ia membawa ketiganya menggunakan sepeda motor ke Puskesmas tersebut.
Bukan perkara mudah membawa mereka ke Puskesmas. Pasalnya, mereka harus menempuh perjalanan melintasi jalan yang tidak mulus. Ditambah lagi, mereka juga harus menggunakan perahu untuk sampai di camp.
Setelah diperiksa, tim medis menyatakan, kusta yang diderita ketiganya sudah tidak menular kepada orang lain. Di sini, Atai berpisah dengan ketiga pengidap kusta tersebut. Bersama rekannya, ia pulang ke Selatpanjang. Sementara Tan Cuan Sei, Thian Sin dan Ong Siu Lan, pulang ke Bokor untuk berkemas-kemas.
Namun mereka belum bisa pindah saat itu juga. Pasalnya, saat itu adalah bulan tujuh. Dalam kepercayaan mereka, bulan tujuh merupakan bulan hantu.
"Jadi baru pada bulan Agustus lah mereka pulang ke Selatpanjang," ujarnya.
Sesampainya di Selatpanjang, mereka bertiga lalu ditempatkan di bangunan yang dulunya merupakan panti jompo. Sebelum kedatangan mereka, bangunan tersebut kosong. Setelah berada di Selatpanjang, kebutuhan hidup mereka kini ditanggung oleh berbagai yayasan termasuk Ikatan Pemuda PSMTI.
"Dalam waktu dekat, saya ingin memeriksakan mata Cuan Sei yang terkena katara," tuturnya.
Meskipun kebutuhan hidup mereka ditanggung, namun bukan berarti ketiga pengidap kusta ini menjadi malas. Tan Cuan Sei, Thian Sin dan Ong Siu Lan tetap membuat anyaman bambu.
Di sisi lain, persahabatan di antara ketiganya sepertinya sudah tidak bisa dipisahkan lagi. Dikisahkan Atai, sehari setelah tiba di Selatpanjang, Thian Sin pergi ke rumah anak angkatnya di Batam.
Namun, Thian Sin tidak betah tinggal bersama anak angkatnya. Sebulan kemudian ia pun memilih pulang ke Selatpanjang untuk berkumpul bersama kedua temannya.
"Sebagian besar hidup saya, saya habiskan bersama mereka. Mereka lebih dari sekadar sahabat," ucap Thian Sin menutup perjumpannya dengan Tribun.
Kusta masih ditemukan
Staf pengelola program kusta Kabupaten Kepulauan Meranti, Fitri Rahmawati ketika dihubungi Tribun, akhir Desember 2011 mengatakan, Bokor sebagai tempat pembuangan pengidap kusta sudah ada sejak zaman penjajahan Jepang.
Hal itu dikarenakan ketika itu banyak masyarakat yang menganggap kusta merupakan penyakit kutukan. Sehingga, si penderita akan mengalami dua hal mengerikan. Pertama, dia mengidap kusta dan kedua, mendapat stigma negatif dari masyarakat.
Fitri mengungkapkan, pada 2008 lalu ia pernah berkunjung ke Bokor. Ketika itu, ia merupakan tenaga kesehayan di UPTD Anastata, Rangsang Barat.
Ketika berkunjung ke sana, menurutnya ada lima orang penderita. Kelima orang tersebutsaat itu sudah sembuh secara medis. Masa pengobatan penderita kusta tersebut telah selesai.
"Pengobatan terhadap kusta antara 6 bulan hingga 12 bulan," ucapnya.
Namun ditambahkannya, para pengidap kusta tersebut tidak mau pulang ke kampung halamannya. Alasan mereka, kata Fitri, malu dan khawatir kalau mereka tidak diterima oleh masyarakat sekitar. Ditambah lagi, ada seorang mantan pengidap kusta yang sudah tidak mempunyai sanak famili.
"Karena itu, mereka memilih bertahan di Bokor," imbuhnya.
Saat ini menurut Fitri, secara nasional kasus kusta di Kabupaten Kepulauan Meranti sudah dieliminasi. Artinya jumlah pengidap kusta sudah berada di bawah 1 persen dari total jumlah penduduk.
Meskipun demikian, yang paling dikhawatirkannya adalah pihaknya masih terus menemukan kasus baru pengidap kusta. Pada tahun 2011 hingga tri wulan ketiga, ia menemukan sebanyak 12 orang pengidap kusta baru di wilayah Kabupaten Kepulauan Meranti.
Fitri menambahkan, sebagian besar kasus kusta baru ditemukan di Desa Bungur, Kecamatan Rangsang Barat. Masih satu kecamatan dengan Bokor. Di wilayah ini, katanya terdapat dua orang anak-anak dan dua orang yang sudah cacat karena kusta.
"Di Bungur, pengidap kusta yang masih menjali proses perawatan (minum obat secara rutin) dan temuan kasus baru, sekitar 10 orang," ujar Fitri.
Diakui Fitri, tenaga medis untuk menangani masalah kusta di Meranti masih sangat kurang. Bahkan, Fitri mengungkapkan, hanya ada satu orang petugas puskesmas di seluruh kawasan Meranti yang mempunyai kompetensi dalam penanganan kusta.
"Tahun depan kami akan melakukan pelatihan kepada petugas kesehatan mengenai pengelolaan program kusta," imbuh Fitri.
Kendala lain yang dihadapi oleh pihak Diskes Meranti adalah kondisi geografis wilayahnya. Di Bungur misalnya. Wilayah ini cukup sulit dijangkau. Meskipun demikian, pihaknya tetap melakukan berbagai kegiatan dalam pengelolaan program kusta. Dalam satu tahun, pihak Diskes Meranti melakukan survei ke lapangan sebanyak dua kali.
Selain itu, pihaknya juga melakukan berbagai penyuluhan terkait ancaman kusta. Hasilnya cukup menggembirakan. Menurutnya, sudah banyak warga masyarakat yang benar-benar mengerti apa itu kusta dan cara penularannya.
Semakin meningkatnya pengetahuan masyarakat mengenai kusta, diharapkan, penyebaran penyakit ini akan semakin bisa ditekan atau bahkan hingga hilang sama sekali. Fitri pun menegaskan, kusta bukanlah penyakit keturunan, kutukan, karma, ataupun guna-guna. Kusta bisa sembuh dengan pengobatan secara teratur.
Penularan kusta juga tidak mudah. Seseorang tertular kusta, biasanya setelah yang bersangkutan melakukan kontak berat secara terus menerus dengan penderita. Itupun, risikonya hanya 5 persen hingga 10 persen. (galih pujo asmoro)