Selasa, 7 April 2026
Pemko Pekanbaru
Super Hub Pemko Pekanbaru

Titi Rajo Bintang Hadiri Coaching Clinik di Pekanbaru

Akan Luncurkan Film Bertajuk 12 Menit

Penulis: | Editor:

Laporan: Hendra Efivanias

TRIBUNPEKANBARU.COM, PEKANBARU - "Membangkitkan semangat marching band Indonesia" demikian yang disampaikan Titi Rajo Bintang ketika ditanyai Tribun terkait makna film barunya yang berjudul 12 Menit. Titi berharap, film yang akan diluncurkan akhir tahun ini tersebut menjadi titik tolak kebangkitan marching band tanah air.

Atas semangat yang sama pula, Titi hadir dalam coaching clinic dan latihan bersama yang diadakan Pengurus Provinsi Persatuan Drum Band Indonesia (PDBI) Riau di Stadion Kharuddin Nasution Pekanbaru, Minggu (15/9). Tak sekedar hadir, drummer wanita ini juga menyampaikan beberapa tips kepada ratusan anggota marching band yang hadir saat itu.

Dalam Meet and Greet bersama wartawan seusai menyaksikan latihan bersama, Titi membuka sedikit film yang dibintanginya itu. Menurutnya, film 12 Menit produksi Big Pictures Production itu sangat menarik karena belum ada film di Indonesia yang secara khusus mengangkat marching band. Bahkan, banyak masyarakat yang tidak tahu bahwa marching band tanah air sangat luar biasa.

Ia mencontohkan Marching Band Bontang Pupuk Kaltim. Menurutnya, maching band tersebut sudah banyak menelurkan prestasi meski dalam mencapainya banyak sekali ditemukan kekurangan. Dengan semangat, kerja keras dan kedisiplinan, mereka menjadi juara. "Pengalaman mereka itulah yang diangkat menjadi film berjudul 12 Menit ini," ungkap Titi.

Marching Band Bontang Pupuk Kaltim berlatih nyaris seperti tentara. Karena mereka menempa diri setiap hari. Hasilnya, kedisiplinan yang diterapkan sang pelatih pada anggota marching band berbuah kemenangan dalam Grand Prix Marching Band (GPMB) tahun lalu. Pengalaman-pengalaman itulah yang dituangkan dalam film 12 Menit.

Dalam film bergenre drama ini akan ditampilkan bagaimana marching band  tersebut menghadapi kekurangan dan keterbatasan. Bahkan, anggota marching band mengalami berbagai tantangan tersendiri sebelum bertanding. Namun, karena komitmen dan ketegasan pelatihnya yang bernama Rene, tim itu jadi pememang. Titi sendiri berperan sebagai Rene dalam film berdurasi 107 menit itu.

Pelatih bernama Rene itu adalah sosok orang yang pernah kuliah di luar negeri. Sehingga punya disiplin yang keras. Kedisiplinannya ini menimbulkan kontroversi karena tidak diterima oleh anggota marching band dan orangtuanya.

Rene juga merupakan pelatih yang punya obsesi untuk menang. Karena itu, meski ada murid yang bermasalah saat mereka akan menuju kompetisi, Marching Band Bontang Pupuk Kaltim tetap mampu keluar sebagai juara.

"Ini suatu film tentang perjuangan, semangat, kerja sama, disiplin, skill keterampilan bermusik anak-anak marching band seluruh Indonesia. Dengan menimbulkan semangat diharapkan bisa membuat mereka giat berlatih," ujarnya. Dengan semangat berlatih, tentu hasil yang mereka capaipun lebih baik. Sehingga marching band Indonesia tidak hanya dilirik di nasional saja tapi juga intenasional.

Sementara itu, Produser Film 12 Menit, Cindy Sutedja menjelaskan, bahwa 90 menit skenario dalam film tersebut diambil dari kisah nyata. Bahkan, 90 persen pemainnya merupakan pemain lokal. Sosok Rene, sang pelatih pun memang ada.

"Mereka belajar akting. Bahkan membutuhkan satu tahun untuk persiapan. Tapi hasilnya,  akting mereka tak kalah dengan yang artis-artis senior,"ujar Cindy. Dia mengakui, memang ada kendala yang harus dihadapi dalam pembuatan film ini. Terutama karena mereka harus mempertemukan ratusan orang yang sebelumnya tidak pernah jadi pemain film. Disamping itu, terjadi pergantian pemain karena anggota marching band tamat sekolah.
Nantinya, film ini mengangkat cerita tiga anak anggota marching band yang memang benar terjadi. Dari sekian banyak masalah yang dihadapi dilukiskan dalam pengalaman tiga anak tersebut.

Sementara itu, ditanya tentang marching band di Riau, Titi Rajo Bintang menilai dari segi semangat sudah oke. "Tinggal pelatihnya yang perlu ditambah. Jadi saat latihan mereka bisa lebih fokus memberikan materi per alat musik yang dipakai. Kalau pelatih hanya satu saja, tentu gampang capek dan tidak bisa maksimal," kata dia.

Titi juga menekankan, pemain harus suka dengan instrumen yang ia pakai. Dengan suka mereka akan bersemangat mencari tahu berbagai informasi terkait instrumen itu untuk mengembangkan diri. Selanjutnya mereka bersemangat menerapkan dan punya visi kedepan untuk menang. "Tentunya itu butuh optimisme dari masing-masing pemain. Jadi tak tergantung pelatih saja," tambahnya.

Menurut juri di ajang pencarian bakat ini, marching band adalah kebersamaan. Dimana, yang penting adalah latihan dasar berulang-ulang. Ia juga menekankan agar pemain marching band bermain musik memakai mata, telinga dan hati.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved