Siposan Rimbo Jalur Reinkarnasi Rajo Bujang
Siposan Rimbo, merupakan jalur reinkarnasi Jalur Rajo Bujang. Jalur Rajo Bujang selalu juara hingga 6 kali berturut-turut
TRIBUNPEKANBARU.COM, PEKANBARU - Beberapa waktu lalu, Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing) dimeriahkan kegiatan bertaraf nasional yakni perhelatan Pacu Jalur. Ada keunikan tersendiri bila melihat nasib dan pertarungan antara Jalur Linggar Jati dan Jalur Siposan Rimbo. Pasalnya kedua jalur tersebut merupakan jalur ”saudara” karena sama-sama dibina PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP).
Di hari pertama pertandingan, kedua jalur ini melenggang ke hari kedua karena berhasil mengalahkan rival (pesaing) mereka masing-masing. Kedua jalur ini pun menjadi jalur yang dijagokan, pasalnya Jalur Linggar Jati merupakan juara tahun lalu, sedangkan Jalur Siposan Rimbo merupakan jalur baru yang terus menjuarai pacu jalur rayon sebelum perhelatan pacu jalur nasional. Tak pelak lagi, kedua jalur ini pun digadang-gadang menjadi calon juara di tahun 2013 ini. Namun, sepertinya takdir berkata lain.
Tak perlu menunggu hingga hari ke empat yang merupakan hari penentuan, pertanyaan dan rasa penasaran penonton yang memadati anjungan Tepian Narosa, Teluk Kuantan sudah terjawab di hari kedua. Pasalnya, kedua jalur yang masih saudara ini terpaksa saling berhadapan untuk adu kekuatan. Pertandingan ini pun menjadi pertunjukan paling menegangkan. Dan hasilnya, pancang finish menentukan bahwa Siposan Rimbo yang tak lain ’adik’ dari Linggar Jati berhasil mendahului ’sang kakak’.
Keberhasilan Siposan Rimbo tak terlepas dari tekad kuat para anak pacu (para pendayung jalur) untuk memenangkan ajang di tingkat nasional. Selain itu, ketekunan dan latihan keras juga mereka lakukan guna menyabet gelar juara. Mereka pun berikrar seperti yang dituturkan Risman, Humas dari Jalur Siposan Rimbo RAPP, ’’Target kami juara satu, jika kami belum dapat meraih juara, rasanya kami masih berhutang pada RAPP,” ujarnya saat ditemui di posko Jalur Siposan Rimbo.
Saat ditemui di poskonya, Risman bercerita mengenai sejarah jalur mereka. Menurutnya, Siposan Rimbo, merupakan jalur reinkarnasi dari Jalur Rajo Bujang. Saat itu, Jalur Rajo Bujang selalu meraih gelar juara hingga 6 kali berturut-turut selama tiga tahun. Hingga di tahun 2008, Jalur Rajo Bujang meraih gelar juara yang terakhir disandang nya.
Menurut mereka, jika jalur sudah mencapai usia 5 tahun atau meraih juara berturut-turut, maka jalur tersebut dianggap sudah ”tua”. Untuk itu, pada tahun yang sama, pengurus jalur mengumpulkan masyarakat yang ada di Desa Pauh Angit. Dikumpulkannya masyarakat ini guna membahas mengenai pencarian kayu untuk jalur yang baru. Akhirnya disepakati bahwa jalur akan diganti dengan jalur baru dan dimulailah pencarian bagi orang-orang tertentu yang dapat mencari kayu jalur.
Mencari kayu jalur yang berusia puluhan tahun ternyata saat ini bukanlah hal yang mudah. Perlu waktu setidaknya hampir dua tahun untuk mendapatkan jalur sebagaimana yang diinginkan.
"Kita dapatnya di dalam hutan di kawasan RAPP di Rimbo Segati, Pelalawan. Kalau di sini (Kuansing) sudah sulit mencari kayu besar. Saat ditemukan, kami minta bantuan dari RAPP untuk dapat mengangkut kayu tersebut. Karena letaknya di dalam hutan, jadi agak sulit untuk mengeluarkannya, jadilah kami minta bantuan dari RAPP. Sebelumnya kami juga minta izin untuk menebang kayu tersebut karena berada dalam kawasan milik RAPP. Kayu yang kami dapatkan itu jenis Kayu Balau atau kami sering menyebutnya Kayu Kure," kisahnya.
Selanjutnya, kayu tersebut dibawa ke desa mereka untuk dibentuk menjadi sebuah jalur. Jalur yang dibuat pun memiliki panjang sekitar 32 meter. Pada 2011 lalu, jalur inipun selesai dan siap untuk turun ke sungai atau “turun mandi”. Jalur inipun diberi nama Jalur Siposan Rimbo.
Ada jalur, tentunya harus ada pula anak jalur atau anak pacu nya. Dan untuk itu, para pengurus membuka kesempatan bagi siapa saja yang sukarela untuk menjadi anggotanya. Namun, sebagian anak pacu tak lain adalah anak pacu yang pernah membawa Jalur Rajo Bujang pada gemilang masa kejayaannya.
’’Kami memberi kesempatan pada siapa saja untuk menjadi anak pacu dengan syarat harus ikut latihan dan tidak menuntut upah atau gaji,” tambah Risman. Hal tersebut dimaksudkan agar para anak pacu dapat serius selama latihan. Disamping itu, menurut pengurus jalur, kegiatan tersebut memiliki nilai kehidupan yang kental dengan budaya gotong royong dan saling bekerja sama.
Dalam persiapan mereka untuk berlaga pada perhelatan Pacu Jalur 2013 ini, para anak pacu berlatih minimal satu bulan sebelum pertandingan dimulai. Dua minggu pertama latihan dilakukan sebanyak tiga kali dalam seminggu. Latihan dilakukan pada hari Jumat, Sabtu dan Minggu. Dua minggu setelahnya, latihan dilakukan setiap hari. Latihan dilakukan setiap sore pada pukul 16.30 WIB hingga 18.00 WIB.
Latihan yang dilakukan mulai dari latihan fisik hingga mendayung jalur sepanjang 1 Km. Sebelum latihan, anak pacu akan diberi puding yang merupakan campuran telur ayam kampung dan madu. ‘’Kalau tidak ada dana dari RAPP, masyarakat jadi susah. Kami kesulitan untuk biaya makan dan minum, puding maupun ongkos untuk mengangkut jalur,” ujar Risman.
Jumlah anak pacu jalur Siposan Rimbo berjumlah 80 orang diluar para pengurus jalur. Untuk pertandingan, hanya diterjunkan 50 orang untuk mendayung, sementara 30 orang lainnya akan menjadi cadangan jika nanti ada anak pacu yang merasa kelelahan. Namun, pada saat latihan, semua anak pacu diwajibkan untuk berlatih.
Selain para anak pacu, terdapat tiga orang “penting” yang harus ikut serta di dalam jalur. Mereka yakni sang Togak Luan, Timbo Ruang, dan Tukang Onjai. Togak Luan merupakan seseorang yang bertugas sebagai penanda jika jalur hendak mendekati pancang finish.