Goresan Jiwa Gowes Asia Tenggara
Wing Sentot Irawan, Pengayuh Sepeda Sukses Taklukkan Asia Tenggara
Dia adalah rakyat kecil. Sepeda bututlah yang setia menemaninya saban waktu. Wing, pria gimbal ini datang ke Pekanbaru untuk berbagi cerita.
TRIBUNPEKANBARU.COM - Sahabat Tribunners tercinta di mana pun Anda berada. Portal berita kita www.tribunpekanbaru.com kedatangan tamu spesial, Wing Sentot Irawan namanya. Ia bukan sosok pengusaha, penguasa, pejabat atau orang penting di negeri ini.
Tapi, dia adalah rakyat kecil. Sepeda bututlah yang setia menemaninya saban waktu. Wing, pria gimbal ini datang ke Pekanbaru untuk berbagi cerita dan kisah.
Pengalamannya menjelajah sejumlah negara di kawasan Asia Tenggara pada 2012 lalu, agaknya penting untuk kita baca. Kalau pun boleh sedikit kita renungi dan telaah, siapa tahu itu berguna.
Mulai besok, Selasa (2/12/2014), www.tribunpekanbaru.com akan menurunkan tulisan kecil sebagai etalase mini goresan hatinya sepanjang perjalanan mengayuh kereta angin dari Indonesia berakhir di Ho Chi Minh, Vietnam dan kembali dengan selamat ke Tanah Air. Tulisan tersebut kami rangkum dalam catatan berjudul "Goresan Jiwa Pengembara 'Gowes Asia Tenggara'.
Berikut, sekilas kami paparkan sosoknya.
PERKENALKAN, namaku Wing Sentot Irawan. Mantan guru SMP yang memutuskan berhenti dari pegawai negeri sipil. Aku dilahirkan di Magelang, 8 Agustus 1965 silam, namun hidupku dibesarkan di Lombok, tapi lebih sering singgah di jalanan.
Kulewati masa-masa sekolah dasar di SD Negri Magersari, Magelang. Sampai kelas 2 SMP di Pendowo, Magelang, aku pun hijrah ke Mataram, Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat. Pendidikan SMP, aku tuntaskan di SMP Negeri 2 Mataram. Sekolah tingkat SMA berhasil kululuskan dan SMA 1 Mataram menjadi almamaterku.
Aku juga mencicipi pendidikan tinggi, tapi ilmuku tidaklah setinggi langit. Aku mengambil pendidikan diploma dua (D-2) di jurusan Bahasa dan Sastra Universitas Mataram (Unram).
Lulus kuliah, aku sempat mengabdi kembali ke sekolah. Ya, di SMP Bagik Payung, Lombok Timur, aku pun sempat mengajar. Dua tahun setelahnya, aku pindah ke SMP 6 Tanjung Teros, masih di kabupaten yang sama.
Total aku mengajar selama lima tahun. Setelah itu, kuputuskan berhenti sebagai pegawai negeri sipil (PNS) dengan golongan 2B. Aku pun tak tahu dan tak mau tahu mengapa kuambil keputusan itu.
Aku mulai berkenalan dengan sastra dan seni teater sejak duduk di bangku SMA kelas 3. Ikut atau ikut-ikutan main teater bersama komunitas Bengkel Aktor Mataram. Terus terang, dari komunitas itu, aku pun makin tertarik mendalami seni. Ini benih awal bagiku menjiwai seni sebagai bentuk ekspresi diri.
Hingga akhirnya, aku pun ambil peran dalam pementasan sejumlah naskah teater baik tradisional maupun modern. Pengalamanku, pernah ikut dalam perhelatan akbar festival antar Taman Budaya se-Indonesia yang berlangsung di Jakarta, Jogja dan Bandung.
Di antara naskah-naskah yang pernah kupentaskan yakni BYAR, buah karya Putu Wijaya, Mandalika sebuah naskah tradisional Lombok, garapan Max Arifin. Termasuk juga pementasan naskah Dokter Gandungan karya Mollier, naskah Rampok karya Sciller dan Salah Paham sebuah naskah Becket garapan Epol Sapturi.
Aku juga turun dalam pementasan naskah yang merupakan naskah garapan karyaku sendiri BOCOR.
Mulai merambah musik, pada 2000 bersama kawan-kawan di Lombok, aku membentuk komunitas musikalisasi Ballada dengan garapan naskah-naskah sendiri. Di antaranya, 'BALON EMAS, PENTAS DEWEK, NYANYIAN PRENJAK,GAIB, DARI TITIK NOL, TELUR SETENGAH MATANG, BOLA LANGITAN, REPORTOAR SEMBILAN-SEMBILAN dan masih banyak lagi yang lainnya.