Tertipu Nikmat Dunia
Saat sakratul maut adalah fase pertama datangnya penyesalan bagi setiap yang tertipu kehidupan dunia.
Oleh: Jon Pamil,
Ketua Ikatan Da’i Indoneisa Riau
SETIAP orang yang tertipu pastilah mengalami penyesalan manakala ia menyadari ketertipuannya. Dan penyesalan merupakan salah satu kondisi jiwa yang sangat tidak mengenakkan, karena hakekat penyesalan adalah ketidak puasan terhadap hal-hal yang telah berlalu, sementara waktu yang telah berlau pasti tak akan kembali lagi.
Hanya saja, seandainya penyesalan tersebut tersebab ketertipuan kecil, apalagi kalau masih ada kesempatan lain untuk mengganti dan menutupi kerugian, tentulah pedihnya jiwa tidak seberapa. Namun jika penyesalan itu tersebab tertipu hal yang sangat besar, yang menyebabkan kerugian dahsyat dan penderitaan panjang di masa depan, sementara kesempatan mengganti dan menutup kerugian kerugian tersebut sudah sirna, maka pedihnya jiwa tentulah teramat parah.
Setiap orang yang tidak tahu, atau lupa dan lalai akan hakekat dan tujuan hidupnya di dunia, sesungguhnya orang tersebut adalah tertipu. Ia tertipu, karena menganggap dunia ini kampungnya yang asli padahal hanya perantauan, dianggapnya tujuan padahal sarana, dianggapnya seolah abadi padahal sebentar dan fana, dianggapnya sungguhan padahal hanya permainan dan senda gurau.
“Hai manusia, sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka sekali-kali janganlah kehidupan dunia memperdayakan kamu dan sekali-kali janganlah syaitan yang pandai menipu, memperdayakan kamu tentang Allah. (QS. Fathir : 5)
Orang-orang yang tertipu oleh kehidupan dunia ini pastilah akan mengalami penyesalan panjang pada fase-fase kehidupan pasca dunia ini. Namun penyesalan-penyesalan tersebut tentu tak bermanfaat lagi, bahkan hanya akan membuat dalam dan parahnya pendiritaan.
Saat sakratul maut adalah fase pertama datangnya penyesalan bagi setiap yang tertipu kehidupan dunia. Betapa tidak, sang malaikatul maut sebelum mencabut nyawanya dengan garang dan bengis memukul wajah dan bagian belakangnya (QS, Muhammad : 27), selain itu ia pun sudah melihat lorong-lorong kehidupannya ke depan sebagai akibat perbuatan-perbuatan jeleknya, (Tafsir Assa’di : hal 559).
Itulah sebabnya banyak sekali cerita yang tersebar berkenaan dengan kematian para durjana. Ada yang mengalami kematian dalam keadaan matanya terbelakak dengan wajah penuh ketegangan dan mengerikan. Ada yang mengelapar-gelepar bagai binatang disembelih, ada pula yang terlihat bekas lebam-lebam di saat ia dimandikan, dan banyak lagi cerita mengerikan lainnya.
Tetkala penyesalan dan penderitaan saat sakratul maut itu dirasakan para Maghrurin (yang tertipu) dunia tersebut, mereka menyampaikan permintaan dan janji kapada Allah SWT. Mereka minta ajalnya ditangguhkan dan berjanji akan gemar bersedekah dan akan menjadi orang baik (QS, al-Munafiqun : 10).
Mereka minta dikembalikan dan berjanji akan mengerjakan semua kebaikan yang ketika hidup dilalaikannya (QS, al-Mukminun : 100).
Namun semua permintaan dan janji yang disampaikan di kala nyawa sudah ditenggorokan itu pastilah terlambat dan sia-sia karena Allah tak akan menerima (HR. al-Hakim). (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/pekanbaru/foto/bank/originals/kematian_20150605_074332.jpg)