Ratusan Hektar Lahan Terbakar, Kabut Asap di Siak Makin Tebal
Masyarakat di Kabupaten Siak semakin gerah dengan kabut asap yang kian menebal.
Penulis: Mayonal Putra | Editor: Muhammad Ridho
Laporan Mayonal Putra
TRIBUNPEKANBARU.COM, SIAK - Masyarakat di Kabupaten Siak semakin gerah dengan kabut asap yang kian menebal. Keterpaksaan beraktifitas di bawah lingkupan kabut asap ini sudah di alami sejak dua bulan terakhir.
Meski menjadi pembicaraan di mana-mana, kebanyakan masyarakat tidak menyadari bahaya Inspeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA). Buktinya, masyarakat tidak familiar dengan penggunaan masker saat bekerja di luar ruangan. Sementara aroma kayu-kayu yang terbakar begitu pekat menusuk ke indra penciuman. Di Kota Siak Sri Indrapura juga belum ada hajatan pembagian masker, baik dari pemerintah maupun dari lembaga masyarakat.
Semburan asap di kabupaten berjuluk Negeri Istana ini berasal dari kebakaran ratusan hektar hutan dan lahan. Hingga Jumat (31/7), masih tersisa lima titik api. Dari lima titik api itu saja hampir 200 Ha lahan dilalap sijago merah. Maklum, kedalaman gambut di areal kebakaran mencapai 2-3 meter, sehingga pemadam kewalahan memadamkan jalaran api.
Lima titik api ada di Siberuk, Kecamatan Dayun. Di Siberuk ini api berkobar di lahan sawit dan karet seluas 3 Ha. Lebih parah kebakaran lahan sawit Pemda di KM 61 Dayun. Sedikitnya, ada 120 Ha sawit hangus terbakar. Kemudian semak belukar dan kebun sawit di Parak Gajah, masih berada di Kecamatan Dayun seluas 3 Ha.
Selain di Dayun, ada dua titik lagi di Kecamatan Siak. Yakni di Kampung Rempak, semak belukar seluas 15 Ha dan di Rawang Air Putih juga sekitar 15 Ha. Parahnya lagi, api terus melalap dan mengeluarkan asap hitam dari sisa kebakarannya. Sedangkan petugas tidak bisa memasuki areal tersebut.
"Yang baru bisa padam sekitar 70 persen di Siberuk. Tapi masih berbahaya, itulah saat ini kami terus berjuang memadamkan," kata Kepala Damkar BPBD Siak Iwan Priyatna.
Selain sulit menembus medan, kekurangan sumber air juga menjadi kendala serius yang dihadapi petugas. Kanal-kanal di sekitar areal kebakaran hanya berisi lumpur. Namun, petugas menyiasati pemadaman dengan membuat kanal-kanal untuk mengepung areal kebakaran. Sehingga tidak merembet terlalu luas ke areal lainnya.
Selain itu, hanya ada 17 petugas yang bersitungkin memadamkan api. Mereka dibantu oleh relawan dari masyarakat. Sehingga personel mereka bertambah menjadi puluhan orang.
"Ada masyarakat bergabung menjadi relawan dulu, yang pernah kita bina. Mereka itulah yang membantu kami di lapangan," kata Iwan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/pekanbaru/foto/bank/originals/kabut-asap-di-pekanbaru-kian-parah-2_20150710_092538.jpg)