Pemko Pekanbaru
Super Hub Pemko Pekanbaru

Inilah Jejak Langkah Thomas Lembong

Tom Lembong kerap kali digambarkan oleh para ekonom terkemuka di Indonesia sebagai “otak yang paling cemerlang di Indonesia”

Editor: Ariestia
Tribunnews/Dany Permana
Menteri Perdagangan baru Thomas Lembong mengucapkan sumpah jabatan saat dilantik Presiden Joko Widodo di Istana Negara, Jakarta, Rabu (12/8/2015). TRIBUNNEWS/DANY PERMANA 

TRIBUNPEKANBARU.COM, JAKARTA - Thomas Lembong (44 tahun), siapa yang tak mengenal dia? Pria kelahiran 4 Maret 1971 ini sudah kerap kali digambarkan oleh para ekonom terkemuka di Indonesia sebagai “otak yang paling cemerlang di Indonesia” (the best mind in the country).

Tom, begitu sapaan akrabnya, dalam 12 tahun terakhir, telah berhasil menggalang dana investor--mayoritas dari investor asing--sebesar 1,47 miliar dolar AS (sekitar Rp 17 triliun, pada kurs saat ini), yang di-invest ke dalam sekitar dua lusin investasi.

"Investasi-investasi ini sangat berhasil dan memberikan keuntungan yang sangat baik bagi investor maupun penerima investasi," ujar Thomas Lembong dalam pers rilisnya kepada Tribunnews.com, Kamis (13/8/2015).

Menurut Tom, total nilai investasi ini telah naik sebesar 150 persen atau 2,5 kali lipat modal yang ditanam. Dengan menggunakan hitungan IRR (internal rate of return), investasi yang dikelola dalam 12 tahun terakhir menghasilkan IRR 41 persen per tahun (dalam US dolar).

Sejumlah investasi terkenal yang dilakukan Tom di antaranya tahun 2001-2002, Thomas dan tim memimpin investasi konsorsium Farallon Capital (Farindo Investments) bersama-sama dengan Djarum Group untuk mengakuisisi 51 persen saham Bank BCA senilai 571 juta dolar AS. Investasi ini, didesain dengan sangat cermat dan creatif.

"BCA saat ini menjadi satu-satunya bank swasta nasional besar yang mayoritas sahamnya masih dimiliki oleh perusahaan Indonesia. Investasi ini juga sangat berhasil dan nilai dari investasi ini telah naik sebesar lebih dari 4 kali lipat," jelas pria lulusan Harvard University ini.

Investasi kedua, lanjut Tom, tahun 2005, dirinya memimpin konsorsium Farallon Capital untuk mem-back-up beberapa pengusaha nasional untuk melakukan akuisisi terhadap Adaro Coal yang pada saat itu dimiliki oleh investor asal Australia.

"Struktur investasi ini kami lakukan menggunakan model Leveraged Buy-Out (LBO)," ujarnya.

Mantan Senior Vice of President Badan Pengelolaan Perbankan Nasional (BPPN) ini mengatakan, struktur LBO memberikan kesempatan kepada perbankan untuk ikut dalam transaksi ini. Pada saat akuisisi, total investasi dari pemegang saham adalah 50 juta dolar AS.

"Saat ini nilai kapitalisasi pasar dari saham ADRO tersebut adalah lebih dari 3,5 miliar dolar AS," ujar dia.

Investasi lain, lanjut Tom, tahun 2006, dia mendirikan Quvat Management. Sampai tahun 2008, Quvat Management telah berhasil menggalang dana sebesar 493 juta dolar AS yang hampir seluruhnya diinvestasikan di Indonesia.

"Akhir tahun 2006, kami melalui Quvat Management mendanai 81 juta dolar AS untuk mendirikan perusahaan bioskop Blitz Megaplex. Blitz Megaplex menjadi pendobrak bisnis bioskop yang selama lebih dari 20 tahun dimonopoli oleh satu perusahaan, 21 Cineplex," jelas pria yang pernah bekerja di Morgan Stanley di New York dan Singapura ini.

Terkait pendirian Blitz Megaplex, Tom menjelaskan bahwa persaingan sengit antara Blitz dan Cineplex 21 mengakibatkan harga karcis bioskop turun hingga 75 persen dalam 3 tahun (2005-2008), dengan manfaat yang luar biasa bagi konsumen.

"Laju pertumbuhan industri bioskop di zaman monopoli 21 Cineplex hanya sekitar 1 hingga 2 persen per tahun. Setelah Blitz Megaplex masuk, industri perbioskopan bertumbuh 20 hingga 25 persen per tahun. Perkembangan industri kreatif dan bioskop masih tumbuh dengan sangat sehat sampai hari ini," jelasnya.

Tahun 2012, Tom dan timnya di Quvat Management berhasil mengajak CJ Group dari Korea, operator bioskop terbesar ke 5 di dunia, untuk masuk di Blitz Megaplex. Maka, di tahun 2013, omset Blitz Megaplex naik 40 persen dalam satu tahun, sehingga Blitz bisa IPO di April 2014.

Sumber: Tribunnews
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved