Kamis, 14 Mei 2026
Pemko Pekanbaru
Super Hub Pemko Pekanbaru

Muchtar Ahmad, Sosok Panutan Para Tokoh Riau

Muchtar juga berinisiatif membuka Pusat Kajian Melayu setelah diskusi dengan Yusmar Yusuf. Muchtar juga berinisiatif mendirikan penerbit Unri Press

Tayang:
Editor: harismanto
Tribun Pekanbaru/Afrizal
Sejumlah tokoh-tokoh Riau tersebut juga ikut hadir dalam peringatan 70 tahun Prof Dr H Muchtar Ahmad MSc dan peluncuran buku, Rabu (9/9/2015) malam 

TRIBUNPEKANBARU.COM, PEKANBARU - Sebanyak 32 tokoh Riau tercatat mengisi bunga rampai testimoni tentang Muchtar Ahmad dalam biografi “Muchtar Ahmad sang Pionir”. Diluncurkan Rabu (9/9/2015), di Hotel Premiere, Pekanbaru, kehadiran biografi ini menjadi penanda genapnya 70 tahun umur Muchtar Ahmad.

Tidak saja ikut mengisi biografi, tokoh-tokoh Riau tersebut juga ikut hadir dalam peringatan 70 tahun Prof Dr H Muchtar Ahmad MSc dan peluncuran buku. Tampak hadir di antaranya Saleh Djasit, Herman Abdullah, Suwardi MS, Chaidir dan sejumlah tokoh lainnya.

Muchtar Ahmad merupakan akademisi Riau yang tercatat dua periode menjadi rektor Universitas Riau (Unri), 1997-2006. Selain di Unri, dirinya juga aktif mengembangkan pendidikan di perguruan tinggi lainnya.

Meskipun dikenal sebagai akademisi, guru besar yang mendapatkan gelar doktoral dari University of Tokyo, Jepang, ini banyak melakukan terobosan dalam memajukan pendidikan.

Di Unri saja, sejumlah terobosan berhasil dilakukannya saat masih menjabat sebagai Pembantu Rektor I. Di antaranya membuka program penelusuran bibit unggul daerah (PBUD). Sistem ini memungkinkan peraih 10 besar di SMA sederajat bisa masuk Unri tanpa tes.

Sistem PBUD pertama kali dilaksanakan Institut Pertanian Bogor (IPB). Unri menjadi perguruan tinggi kedua di Indonesia dan pertama di Sumatera pada tahun 1994.

Muchtar juga berinisiatif membuka Pusat Kajian Melayu setelah diskusi dengan Yusmar Yusuf. Menurutnya kajian budaya Melayu sangat penting dibuat karena Riau merupakan kawasan Melayu yang memerlukan pengkajian secara akademis.

Muchtar juga berinisiatif mendirikan penerbit sendiri yaitu Unri Press, menghidupkan kembali lembaga penelitian yang mati suri hingga mengurangi acara seremonial yang dianggap tidak perlu.

Menurut Muchtar Ahmad, sebagai orang tua berumur 70 tahun, dirinya sangat menyambut baik tradisi menuliskan biografi tersebut. Tidak saja untuk dirinya, Muchtar juga mengajak siapapun saat berumur 70 tahun bersama-sama meluncurkan buku.

Buku merupakan tradisi intelektual sehingga bisa memberikan sesuatu yang berguna bagi orang lain. "Suatu ketika pasti berharga," katanya.

Dilaksanakan tepat hari ulang tahunnya, Muchtar yang lahir 9 September 1945 ini banyak merendah terkait isi buku yang menuliskan tentang dirinya. Muchtar menjelaskan, yang menjadikan dirinya saat ini adalah orang-orang disekitarnya.

Tulisan dalam buku setebal 424 halaman tersebut dianggapnya bukan sepenuhnya dirinya namun persepsi penulis tentang dirinya. "Kalau melihat persepsi itu, inginlah saya jadi seperti yang disampaikan dalam persepsi tersebut," ujarnya merendah.

Salah satu penulis bunga rampai dalam biografi Muchtar Ahmad, Saleh Djasit, menilai suami dari Indrawati dan bapak tiga putri ini merupakan seorang idealis. Dalam memimpin Unri, Muchtar mencanangkan visi Unri sebagai universitas riset.

Meskipun sudah pensiun, Muchtar masih tetap belajar dan terus mengembangkan idenya. "Semangat kerjanya seperti orang Jepang yang diadopsinya saat kuliah di Jepang," kata Saleh.

Dikatakan Saleh, dirinya sudah kenal Muchtar sejak masih menjabat sebagai Bupati Kampar. Bahkan saat Saleh menjadi gubernur, Muchtar ikut aktif dalam menyusun visi Riau 2020. Bahkan badan-badan pendukung menuju visi Riau tersebut ikut dibidaninya.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved