Jumat, 15 Mei 2026
Pemko Pekanbaru
Super Hub Pemko Pekanbaru

Tambang di Australia Operasikan Truk Tanpa Awak Pertama di Dunia

Dua tambang bijih besi di Pilbara, Australia Barat menjadi yang pertama di dunia yang mengoperasikan truk raksasa tanpa awak.

Tayang:
Editor: Ariestia
ABC Radio Australia/Tribunnews.com
Truk tambang milik perusahaan tambang Australia, Rio Tinto di lokasi tambang mereka di Pilbara. 

TRIBUNPEKANBARU.COM - Dua tambang bijih besi di Pilbara, Australia Barat menjadi yang pertama di dunia yang mengoperasikan truk raksasa tanpa awak. Truk-truk raksasa pengangkut batubara itu dikendalikan dari jarak sejauh 1.200 kilometer di Kota Perth.

Pertambangan bijih besi milik raksasa perusahaan tambang Australia, Rio Tinto yang terletak di Yandicoogina dan Nammuldi kini mulai menggunakan truk raksasa tanpa pengemudi, pekerja di tambang ini mengoperasikan dan mengontrol turk raksasa itu dari pusat Kota Perth yang berjarak 1.200 kilometer.
Josh Bennett, mengelola pengoperasian pertambangan Rio Tinto di Yandicoogina yang terletak di Barat Laut Newman yang menggunakan 22 truk tanpa pengemudi di lokasi tambang tersebut.

Bennett mengatakan kedua lokasi tambang terbuka ini merupakan tambang bijih besi terbesar di dunia.

"Dengan mata telanjang memang tambang ini terlihat seperti dioperasikan dengan cara-cara konvensional. Tapi perubahan utama dari pertambangan ini adalah cara kerja yang dilakukan oleh karyawan dan anggota tim kami saat ini,” katanya.

"Jadi yang kami lakukan adalah kami memetakan seluruh kawasan pertambangan ini dan memasukannya kedalam sebuah sistem dan kemudian berhasil mencari cara bagaimana menggerakan truk-truk tersebut dari tambang,”

Perusahaan ini sekarang mengoperasikan 69 truk tanpa pengemudi di seluruh lokasi tambangnya di Yandicoogina, Nammuldi dan Hope Downs 4.

Truk-truk tersebut beroperasi selama 24 jam dalam sehari, 365 hari per tahun tanpa dikemudikan oleh supir yang perlu pergi ke toilet, istirahat makan siang, sehingga industri ini memperkirakan sistem operasi mereka yang baru ini dapat menghemat 500 jam kerja per tahun.

Bennett mengatakan teknologi ini juga telah menghilangkan resiko bahaya dalam pekerjaan mereka sambil memangkas biaya operasi.

"Kami telah menghilangkan resiko kerja yang sangat tinggi di pertambangan dimana karyawan terpapar oleh faktor kelelahan,” katanya.

"Memang tidak mudah menggeser posisi karyawan manusia dari pekerjaan rutin seperti ini, tapi salah satu keuntungan yang kami dapatkan setelah menerapkan sistem pengangkutan mandiri seperti ini terutama pada armada truk adalah penggunaan mesin-mesin truk pengangkut itu menjadi lebih konsisten,”

"Salah satu sumber anggaran terbesar adalah biaya untuk merawat aset bergerak, termasuk truk-truk pengangkut bijih besi dan karena itu kami banyak menghabiskan waktu untuk melatih operator truk dan mendidik mereka,”

"Jadi jelas ada penghematan modal yang kami lakukan dengan sistem yang baru ini, dimana kami tidak perlu mendirikan kamp, menerbangkan orang ke lokasi tambang, jadi semakin sedikit orang yang terlibat maka semakin sedikit biaya operasi yang harus dikeluarkan, meski masih tetap ada biaya yang diperlukan untuk menjalankan dan merawat sistem ini tentunya,” kata Bennet menjelaskan.

Rio Tinto tampaknya tidak akan berhenti pada pengopersian truk tanpa pengemudia saja, tapi mereka juga berencana juga akan mengoperasikan kereta pengangkut tanpa awak dan robot pengebor dengan tujuan menggunakan mesin robot seluas mungkin di tambang mereka.

Dan pada akhirnya sebagian besar rantai pemasok perusahaan ini dari tambang terbuka ke pelabuhan akan dikendalikan sepenuhnya dari kantor pusat mereka di Perth.

Bennett mengaku rencana ini melibatkan penciptaan lapangan kerja baru bagi orang-orang dengan keahlian tinggi.

Sumber: Tribunnews
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved