Pemko Pekanbaru
Super Hub Pemko Pekanbaru

Anggota DPRD Riau Ramai-ramai ke Eropa

Sebagai wakil rakyat, anggota DPRD Riau mestinya memiliki empati tinggi terhadap kesusahan rakyatnya. Sebelum melakukan sesuatu, betul-betul berpikir

Editor: harismanto
Tribun Pekanbaru/Doddy Vladimir
Ratusan mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Civitas Academika Universitas Riau melakukan aksi demonstrasi didalam Ruang Rapat Kantor DPRD Riau, Selasa (20/10/2015). 

TRIBUNPEKANBARU.COM, PEKANBARU - Sejumlah warga menyayangkan anggota DPRD Riau yang melakukan studi banding ke berbagai negara di Eropa di tengah bencana asap yang melanda. Mereka menggugah hati nurani para wakil rakyat tersebut.

Dari penelusuran Tribun dari surat yang masuk ke Kementerian Dalam Negeri, ternyata jelang akhir tahun ini para wakil rakyat Riau secara bergantian telah melakukan studi banding ke beberapa negara Eropa, seperti Norwegia, Jerman, Italia, Belgia, dan Swiss. Ada pula yang saat ini tengah mengunjungi Belanda. Rombongan berikutnya dijadwalkan bertolak ke Madrid (Spanyol) dan London (Inggris).

"Kalau masih tetap berangkat ke luar negeri berarti enggak punya nurani mereka. Apa tidak bisa ditunda dulu," ujar Rifki, warga Sukajadi, Pekanbaru, kepada Tribun.

Ia mengatakan, sebagai wakil rakyat, anggota DPRD Riau mestinya memiliki empati tinggi terhadap kesusahan rakyatnya. Sebelum melakukan sesuatu, betul-betul berpikir untuk kepentingan masyarakat banyak. Pasalnya, perjalanan mereka ke luar negeri dibiayai dengan uang rakyat yang tak sedikit jumlahnya.

Maka, kata dia, jangan salahkan anggapan masyarakat yang menilai studi banding ke luar negeri tak lebih dari sekadar jalan-jalan atau plesiran. "Hasilnya juga tidak ada. Setiap tahun anggota dewan keluar negeri tapi hasilnya tak ada. Apalagi dalam kondisi seperti ini (musibah kabut asap), enggak usah pergilah,” ujar Zainal, warga Pekanbaru.

"Kalau alasan ingin studi banding penanganan bencana kebakaran, tidak perlu ke London. Ayo kita di Riau bersama-sama melakukan pencegahan. Yang dibutuhkan keseriusan semua pihak, kenapa harus menghabiskan anggaran ke luar negeri," kata Aidil, warga lainnya, dengan kesal.

Menurut dia, masyarakat gerah karena selama ini banyak studi banding wakil rakyat ke luar negeri jarang bisa diterapkan di Riau. Sehingga terkesan studi banding hanya modus untuk jalan-jalan saja menghabiskan anggaran.

Ia mencontohkan studi banding anggota DPRD Riau beberapa waktu lalu ke Swiss untuk mempelajari sukses negara itu mengembangkan pariwisatanya. Salah satunya tentang pembangunan jalur kereta gantung.

“Katanya mau dibangun menuju Danau Buatan (Pekanbaru), namun hingga saat ini tidak wujudnya. Itu kan enggak ada hasilnya,” paparnya.

Tokoh masyarakat yang juga Ketua Umum Dewan Pengurus Harian Lembaga Adat Melayu (LAM) Riau, Al Azhar menilai perjalanan pejabat eksekutif maupun legislatif ke luar negeri dengan misi tertentu, termasuk studi banding, kerap ditanggapi negatif. Salah satunya karena hasilnya tak jelas dan tak dikomunikasikan ke publik.

Hal itu dikatakan Al Azhar kepada Tribun, Selasa (20/10/2015), menanggapi rencana sejumlah anggota DPRD Riau yang hendak terbang ke London, Inggris, untuk mempelajari cara-cara moderen dalam penanganan kebakaran hutan dan lahan.

Menurut Al Azhar, respon negatif dari publik itu karena beberapa sebab, seperti waktunya tidak tepat ketika masyarakat Riau tengah sengsara dalam kepungan kabut asap yang telah berlangsung lebih dari dua bulan. Selain itu, negara yang dituju kurang relevan atau misinya dinilai belum penting-penting amat.

Ada pula yang mempertanyakan, tidak cukupkah dengan melacak informasi yang diperlukan melalui laman situs (website) lembaga atau negara yang dituju.

"Bagi saya pribadi, tidak semua misi pemerintah dan legislatif ke luar negeri itu mubazir, bilamana hasilnya jelas dan dikomunikasikan ke publik dengan baik. Tindak lanjut rumusan-rumusan yang disusun berdasarkan misi-misi itu mustahak pula diagendakan dalam pembangunan, mulai dari perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasannya," papar Al Azhar.

Dengan demikian, menurut Al Azhar, misi-misi itu kembali ke hakikat tujuannya, yaitu mempelajari dan menemukan konsep serta cara yang lebih berdayaguna bagi percepatan pembangunan dan perubahan di dalam negeri. Berdasarkan pengalaman yang sudah-sudah, hal-hal positif itu belum terkelola dengan baik.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved