Kabut Asap Riau
Janji Jokowi Diselimuti Asap
Kenyataannya asap justru makin pekat, makin massif, dan makin menyiksa masyarakat luas. Puluhan ribu orang di Riau menderita penyakit gara-gara asap
TRIBUNPEKANBARU.COM, PEKANBARU - Hari ini tepat dua minggu janji Presiden Joko Widodo akan menuntaskan bencana kabut asap. Janji itu ia ucapkan di Rimbo Panjang, Kampar, 9 Oktober 2015, saat meninjau penanganan kebakaran hutan dan lahan.
"Satu minggu ini ditargetkan semua padam di Palembang dan dua minggu ini semua asap hilang," ujar Jokowi saat berkunjung ke Riau dua pekan lalu.
Saat itu ia begitu yakin karena bantuan dari sejumlah negara, seperti Malaysia, Singapura, Australia, dan Rusia, datang untuk memadamkan kebakaran di Sumatera Selatan, sumber asap paling banyak di Sumatera.
Tapi kenyataannya asap justru makin pekat, makin massif, dan makin menyiksa masyarakat luas. Puluhan ribu orang di Riau menderita penyakit gara-gara asap, bahkan ada yang sampai meninggal dunia.
Korban terakhir adalah Ramadhani Luthfi Aerli, bocah sembilan tahun, yang menghembuskan napas terakhirnya di RS Santa Maria, Pekanbaru, dua hari lalu. Siswa sudah lebih dari dua bulan diliburkan. Sementara Bandara Sultan Syarief Kasim II Pekanbaru beberapa hari terakhir lumpuh total.
Masyarakat pun kecewa presiden tak menepati janjinya. Apalagi ini bukan janji ‘surga’ yang pertama disampaikan oleh pejabat tinggi negara dari Jakarta di Riau. Sebulan sebelumnya, 9 September 2015, janji serupa dilontarkan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Willem Rampangilei ketika berkunjung ke Pekanbaru.
Berikut pernyataan Willem yang ketika itu baru dilantik sebagai Kepala BNPB, “Sesuai dengan instruksi presiden padamkan api dan hilangkan asap. Maka saya targetkan dua minggu tuntas asap dan kebakaran di Riau dan daerah lainnya. Sehingga tidak ada asap lagi.”
"Pemerintah itu kan sukanya kasih janji manis. Kalau hasil itu belakangan, nanti banyak lagi alasannya. Rakyat sudah tahu itu," ujar Asrizal, warga Pekanbaru, kepada Tribun, Kamis (22/10/2015). Ia kesal asap tak hilang-hilang hampir tiga bulan lamanya.
Menurut dia, jika pemerintah serius sebenarnya tak perlu Jokowi turun ke Riau. Cukup mengerahkan seluruh kekuatan, baik itu TNI, Polri, dan tenaga cadangan, untuk memadamkan kebakaran. Galang kekuatan masyarakat untuk bersama-sama terlibat dalam pemadaman api.
"Sekarang tidak perlu banyak cerita dan teori, yang dibutuhkan ketegasan presiden. Coba dikerahkan semua kekuatan dan bersikap tegas kepada perusahaan pembakar hutan dan lahan," papar Asrizal.
Warga lainnya, Helmi tidak percaya lagi dengan kinerja pemerintah dalam menanggulangi kebakaran hutan dan lahan yang telah 18 tahun rutin menyusahkan masyarakat Riau. "Kalau janji presiden tidak ditepati, kita tunggu pertolongan dari Tuhan sajalah (untuk menurunkan hujan)," ujar Helmi mulai pasrah menghadapi asap yang menyiksa ini.
Helmi menyoroti ketidaktegasan pemerintah dalam menindak perusahaan-perusahaan pembakar hutan dan lahan. Termasuk yang dimodali investor dari luar negeri.
"Sekarangkan keseriusan itu yang tidak ada. Hari ini mereka mengatakan akan dicabut izinnya, besok sudah damai dan sudah ditanami lagi lahan yang terbakar itu dengan sawit dan tanaman industri lainnya," jelas Helmi.
Bukan cuma orang dewasa, siswa SD pun marah. Mereka bosan terus-menerus diliburkan, disuruh berdiam dalam rumah. Dilarang bermain di luar rumah, takut asap. Sudah sering murid-murid SD di Riau menggelar protes, bahkan mengirim surat ke Jokowi.
Kemarin giliran siswa SDN 15 Pekanbaru yang membentangkan puluhan lembar spanduk berisi kerinduan bersekolah seperti normal lagi, keluhan, protes dan kemarahan, di pagar sekolah yang beralamat di Jl Cut Nyak Dien tersebut.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/pekanbaru/foto/bank/originals/jokowi-tinjau-penanganan-karhutla-rimbo-panjang-5_20151009_192003.jpg)