Rabu, 8 April 2026
Pemko Pekanbaru
Super Hub Pemko Pekanbaru

Hari Pahlawan

Enyahkan Kabut Asap Itu Juga Berjuang

"Banyak yang meninggal pas serangan Belanda di Japura itu. Saat itu saya masih tugas di Rengat. Peristiwanya siang hari, dibom dari atas (pesawat),"

Penulis: Nasuha Nasution | Editor: harismanto
TribunPekanbaru/TheoRizky
Petugas tengah membersihkan kawasan Taman Makam Pahlawan (TMP), Pekanbaru, Senin (9/11/2015 

TRIBUNPEKANBARU.COM, PEKANBARU - Setiap 10 November bangsa Indonesia memperingati Hari Pahlawan, untuk mengenang jasa-jasa pejuang susah payah merebut kemerdekaan dan mengisi dengan karya nyata. Namun semakin hari semangat menghargai jasa pahlawan itu semakin memudar di masyarakat.

Bahkan generasi muda sendiri sudah banyak yang tidak tahu dengan kisah para pejuang-pejuang kemerdekaan. Apakah ini disebabkan menurunnya nilai-nilai kebangsaan atau menurunnya rasa memiliki sebagai warga negara.

Tribun sempat berbincang-bincang dengan sejumlah anak sekolah menengah atas di Riau tentang siapa saja yang kenal dengan Pahlawan Nasional. Sebagian besar dari siswa itu hanya sedikit mengenal sosok pahlawan nasional.

Tidak hanya itu, mengenai Pahlawan Nasional dari Riau sendiri ada beberapa siswa yang tidak kenal. Ini bukti kemunduran pola berpikir generasi muda dalam menghargai pahlawan.

Ketika peringatan hari kemerdekaan, sudah mulai pudar semangat itu. Bisa dilihat dari jumlah warga yang mengibarkan bendera Merah Putih.

Sementara itu, dalam beberapa waktu terakhir pernyataan keluar dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) menjadi senjata bagi politikus dan sejumlah tokoh dalam mengkritisi pemerintah pusat dalam menangani kabut asap kebakaran hutan dan lahan.

Padahal dari cerita seorang pejuang yang masih hidup di Riau, Himron Saheman, untuk merebut kemerdekaan banyak pahlawan yang mengorbankan nyawanya di medan perang.

"Banyak yang meninggal pas serangan Belanda di Japura itu. Saat itu saya masih tugas di Rengat. Peristiwanya siang hari, dibom dari atas (pesawat)," ujar Himron Saheman bercerita kepada Tribun, Senin (9/11/2015).

Sulitnya meraih kemerdekaan itu, Himron juga bercerita bagaimana dirinya bersama pasukan masuk hutan pinggir Sungai Indragiri. Mengatur siasat perang gerilya. Komandannya saat itu Marahalim Harahap.

"Tidurnya di pinggir Sungai Indragiri yang masih hutan belantara. Begitulah perjuangan menyusun kekuatan melawan penjajah," ujarnya.

Banyak korban jiwa yang berjatuhan saat pasukan yang dipimpin Marahalim menyerang Belanda di Rengat dengan serangan kilat tengah malam. "Saya masih ingat, berlindung di loteng rumah, sebelum melarikan diri ke hutan menyelamatkan diri dan menyusun kekuatan," ujarnya.

Saat pindah ke Pekanbaru, ia merasakan bagaimana perjuangan anak-anak muda menggasak persenjataan Belanda dan mengibarkan bendera Merah Putih di monumen perjuangan, saat ini di Jalan Riau ujung.

Enyahkan asap
Plt Gubernur Riau Arsyadjuliandi Rachman meminta kepada generasi muda untuk mengikuti jejak pahlawan. Tidak harus angkat senjata, namun bisa diwujudkan dalam perjuangan menyelamatkan daerah dari bencana asap kebakaran hutan dan lahan.

"Pahlawan linkungan, pahlawan dalam memberikan pendidikan kepada generasi muda. Mari bersama-sama menghargai jasa pahlawan itu dengan melanjutkan cita-cita mereka," ujar Andi Rachman, sapaan akrabnya.

Perjuangan yang riil saat ini, menurut Andi, ikut berpartisipasi dalam membangun daerah. Membangun bangsa dengan memperkuat persatuan dan kesatuan. "Terpenting lagi bagi generasi muda harus memiliki komitmen. Jangan mau diobok-obok oleh kepentingan yang merusak bangsa ini," ujar Andi.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved