Hari Pahlawan
Riau Baru Miliki 2 Pahlawan Nasional
Namun sayangnya, hingga saat ini baru ada dua orang yang sudah ditetapkan jadi Pahlawan Nasional di Provinsi Riau.
Penulis: harismanto | Editor: harismanto
TRIBUNPEKANBARU.COM - 10 November, selalu diperingati setiap tahunnya sebagai Hari Pahlawan. Namun sayangnya, hingga saat ini baru ada dua orang yang sudah ditetapkan jadi Pahlawan Nasional di Provinsi Riau. Mereka adalah Tuanku Tambusai alias Tuanku Haji Muhammad Saleh (Keppres No 071 /TK/1995) dan Sultan Syarif Kasim II alias Sultan Asyaidis Syarif Kasim Sani Abdul Jalil Syarifuddin (Keppres No 109/TK/1998).
Hingga tahun 2011 lalu, Dinas Sosial Provinsi Riau mencatat empat tokoh asal Riau yang telah diusulkan ke pemerintah Pusat. Mereka adalah Tengku Sulung atau Panglima Besar Reteh (Kabupaten Indragiri Hilir), Raja Narasinga (Kabupaten Indragiri Hulu), Mahmud Marzuki (Kabupaten Kampar) dan Sultan Muhammad Dzainal Abidin (Kabupaten Rokan Hulu). Namun, belum satupun diterima jadi Pahlawan Nasional.
Tengku Sulung diusulkan pada tahun 2007, namun hanya mendapatkan Bintang Mahaputra. Pasalnya perjuangan Tengku Sulung melawan kolonial Belanda hanya di sekitar Reteh atau Sungai Batang.
Dua nama lainnya yaitu Raja Narasinga dan Mahmud Marzuki saat ini masih dibahas di tingkat pemerintah kabupaten. Padahal sebelumnya dua nama tersebut sempat diseminarkan di tingkat provinsi. Tapi hingga kini belum ada informasi lanjut dari pihak Pemerintah Kabupaten Kampar dan Indragiri Hulu perihal usulan tersebut.
Raja Narasinga telah diusulkan pada 2007. Usulannya berdasarkan perjuangan Raja Narasinga melawan penjajah Portugis di Indragiri Hulu selama 20 tahun yaitu 1512-1532. Bahkan berhasil menangkap Panglima Portugis saat itu, Jendral Pedro Mario.
Mahmud Marzuki telah diusulkan sejak 2009. Namun hingga kini belum ada informasi lebih lanjut perihal pejuang kemerdekaan di kawasan Kampar tersebut.
Lain halnya dengan Raja Narasinga dan Mahmud Marzuki yang masih berkesempatan diberi gelar pahlawan nasional, Sultan Muhammad Dzainal Abidin tidak bisa lagi diusulkan untuk diberi gelar pahlawan nasional karena sudah ditolak dua kali. Awalnya diusulkan pada tahun 2006, tapi tidak mendapat jawaban positif. Kemudian pada 2007 nama tersebut diusulkan kembali.
Akhirnya, berdasarkan Surat Penolakan Direktorat Jendral Pemberdayaan Sosial Departemen Sosial tertanggal 29 Oktober 2007, Sultan Muhammad Dzainal Abidin dinyatakan tidak memenuhi syarat sebagai pahlawan nasional, serta tidak bisa diusulkan kembali sebagai pahlawan nasional.
Menurut surat tersebut, lewat hasil sidang dan kajian Badan Pembina Pahlawan Pusat (BPPP), Sultan Muhammad Dzainal Abidin menyerah pada Belanda dalam perjuangannya di Rokan Hulu. Padahal, salah satu syarat untuk mendapat gelar pahlawan nasional ialah pemimpin perjuangan tidak menyerah pada musuh dalam perjuangannya.
Perjuangan Bupati Toeloes
Selain empat nama di atas, ada lagi tokoh yang layak mendapat gelar Pahlawan Nasional, yakni Bupati Keresidenan Indragiri, Toeloes. Ia menjadi korban dari agresi militer Belanda II di Rengat, yang dikenal sebagai peristiwa Rengat Berdarah, 5 Januari 1959. Ada sekitar 2.600 orang warga Indragiri yang dibantai tentara Belanda (KNIL).
Nani Toeloes, putri pertama Bupati Toeloes, menceritakan, serangan tersebut terjadi secara tiba-tiba. Ratusan tentara Belanda dengan menggunakan pesawat turun dengan cara terjun payung ke daerah Sekip dan Sepayung. Banyak diantara mereka yang terjebak dalam rawa-rawa dan akhir tak dapat keluar.
Para tentara yang berhasil mendarat dengan baik, langsung menyerang para tentara Indonesia dan juga masyarakat. Para tentara tersebut menembak secara membabi buta, yang akhirnya menewaskan ribuan orang.
“Saat itu Bapak (Bupati Toeloes) hanya berpakaian biasa, tidak tahu dari mana para tentara tersebut mengetahui bapak adalah Bupati Toeloes yang sedang mereka cari," jelasnya.
Bupati Toeloes lalu dan Sekretaris Daerah Indragiri Yohanes Simatupang lalu ditembak mati tentara KNIL pada saat pulang dari kantor bupati.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/pekanbaru/foto/bank/originals/petugas-bersihkan-taman-makam-pahlawan_20151109_151652.jpg)