Hari Pahlawan

Riau Baru Miliki 2 Pahlawan Nasional

Namun sayangnya, hingga saat ini baru ada dua orang yang sudah ditetapkan jadi Pahlawan Nasional di Provinsi Riau.

Riau Baru Miliki 2 Pahlawan Nasional
TribunPekanbaru/TheoRizky
Petugas tengah membersihkan kawasan Taman Makam Pahlawan (TMP), Pekanbaru, Senin (9/11/2015 

TRIBUNPEKANBARU.COM - 10 November, selalu diperingati setiap tahunnya sebagai Hari Pahlawan. Namun sayangnya, hingga saat ini baru ada dua orang yang sudah ditetapkan jadi Pahlawan Nasional di Provinsi Riau. Mereka adalah Tuanku Tambusai alias Tuanku Haji Muhammad Saleh (Keppres No 071 /TK/1995) dan Sultan Syarif Kasim II alias Sultan Asyaidis Syarif Kasim Sani Abdul Jalil Syarifuddin (Keppres No 109/TK/1998).

Hingga tahun 2011 lalu, Dinas Sosial Provinsi Riau mencatat empat tokoh asal Riau yang telah diusulkan ke pemerintah Pusat. Mereka adalah Tengku Sulung atau Panglima Besar Reteh (Kabupaten Indragiri Hilir), Raja Narasinga (Kabupaten Indragiri Hulu), Mahmud Marzuki (Kabupaten Kampar) dan Sultan Muhammad Dzainal Abidin (Kabupaten Rokan Hulu). Namun, belum satupun diterima jadi Pahlawan Nasional.

Tengku Sulung diusulkan pada tahun 2007, namun hanya mendapatkan Bintang Mahaputra. Pasalnya perjuangan Tengku Sulung melawan kolonial Belanda hanya di sekitar Reteh atau Sungai Batang.

Dua nama lainnya yaitu Raja Narasinga dan Mahmud Marzuki saat ini masih dibahas di tingkat pemerintah kabupaten. Padahal sebelumnya dua nama tersebut sempat diseminarkan di tingkat provinsi. Tapi hingga kini belum ada informasi lanjut dari pihak Pemerintah Kabupaten Kampar dan Indragiri Hulu perihal usulan tersebut.

Raja Narasinga telah diusulkan pada 2007. Usulannya berdasarkan perjuangan Raja Narasinga melawan penjajah Portugis di Indragiri Hulu selama 20 tahun yaitu 1512-1532. Bahkan berhasil menangkap Panglima Portugis saat itu, Jendral Pedro Mario.

Mahmud Marzuki telah diusulkan sejak 2009. Namun hingga kini belum ada informasi lebih lanjut perihal pejuang kemerdekaan di kawasan Kampar tersebut.

Lain halnya dengan Raja Narasinga dan Mahmud Marzuki yang masih berkesempatan diberi gelar pahlawan nasional, Sultan Muhammad Dzainal Abidin tidak bisa lagi diusulkan untuk diberi gelar pahlawan nasional karena sudah ditolak dua kali. Awalnya diusulkan pada tahun 2006, tapi tidak mendapat jawaban positif. Kemudian pada 2007 nama tersebut diusulkan kembali.

Akhirnya, berdasarkan Surat Penolakan Direktorat Jendral Pemberdayaan Sosial Departemen Sosial tertanggal 29 Oktober 2007, Sultan Muhammad Dzainal Abidin dinyatakan tidak memenuhi syarat sebagai pahlawan nasional, serta tidak bisa diusulkan kembali sebagai pahlawan nasional.

Menurut surat tersebut, lewat hasil sidang dan kajian Badan Pembina Pahlawan Pusat (BPPP), Sultan Muhammad Dzainal Abidin menyerah pada Belanda dalam perjuangannya di Rokan Hulu. Padahal, salah satu syarat untuk mendapat gelar pahlawan nasional ialah pemimpin perjuangan tidak menyerah pada musuh dalam perjuangannya.

Perjuangan Bupati Toeloes

Halaman
12
Penulis: harismanto
Editor: harismanto
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved