Banjir Riau
Santri Ponpes Darun Nahdha Tawalib Pingsan Kedinginan
Mereka tidak bisa keluar dari asrama karena ketinggian air mencapai kepala. Santri-santri yang tidak bisa berenang hanya bisa menunggu jemputan
TRIBUNPEKANBARU.COM, BANGKINANG - Banjir menggenangi ribuan rumah di sepanjang aliran sungai di tiga kabupaten, masing-masing Kampar, Kuantan Singingi, dan Rokan Hulu, Selasa (9/2/2016). Diperkirakan banyak warga yang terjebak di rumah mereka dalam kepungan banjir.
Tim gabungan BPBD Kampar dan TNI dikerahkan mengevakuasi sejumlah santri Pondok Pesantren (Ponpes) Darun Nahdha Tawalib di Desa Muara Uwai, Kecamatan Bangkinang. Mereka tidak bisa keluar dari asrama karena ketinggian air mencapai kepala. Santri-santri yang tidak bisa berenang hanya bisa menunggu jemputan tim evakuasi.
Karena minimnya fasilitas penyelamat, tim gabungan terpaksa santri satu per satu. Ada lima santriwati yang pingsan karena terlalu lama direndam banjir. "Ibu...ibu...ibu...," jerit seorang santriwati ketika dievakuasi ke posko darurat banjir di Lapangan Merdeka, Jalan Prof. M. Yamin, Bangkinang Kota.
Selain mengevakuasi santri, tim dengan perahu karet dan kayu seadanya menyisir kawasan pemukiman yang parah terendam banjir. Satu per satu warga, mulai dari anak-anak hingga lanjut usia dievakuasi keluar dari perangkap banjir.
Arus lalu lintas di jalan raya Pekanbaru-Bangkinang, tepatnya di Desa Simpang Kubu, Kecamatan Kampar, nyaris lumpuh terendam air, Selasa. Air mulai menyeberangi jalan sejak Selasa pagi. Ketinggian air di atas badan kian bertambah hingga Selasa siang, mencapai lutut orang dewasa. Terlihat antrean panjang kendaraan dari arah Pekanbaru dan sebaliknya. Hanya sepeda motor dan kendaraan roda empat yang lebih tinggi nekat menerobos genangan air.
Akses jalan dari Bangkinang ke Tapung lumpuh total. Ketinggian air menggenangi jalan lintas Bangkinang-Petapahan mencapai satu meter lebih. Genangan banjir mulai dari Desa Kampung Godang hingga Desa Muara Uwai, Kecamatan Bangkinang.
Upaya evakuasi korban banjir dinilai lamban. Warga mulai mengeluhkan penanganan yang tidak merata. Bahkan dilaporkan ada warga di Desa Naumbai, Kecamatan Kampar, terjebak banjir sejak Senin (8/2) malam hingga Selasa (9/2/2016) malam.
Seorang warga, Danil menyebutkan terdapat sekitar 7 sampai 11 kepala keluarga (KK) di Naumbai yang masih bertahan di rumah mereka. Mereka pun kebingungan mencari bantuan untuk dievakuasi. "Sudah dari tadi malam (Senin) sampai sekarang (Selasa malam), mereka belum makan. Ada pula anak-anak di sana," kata Danil.
Proses evakuasi terus berlangsung hingga Selasa sore, dengan melibatkan prajurit TNI. Komandan Resor Militer 031/Wirabima Brigadir Jenderal TNI Nurendi mengatakan, ratusan prajurit dari beberapa kesatuan diterjunkan ke lokasi banjir. Sebanyak 12 unit perahu karet dikerahkan. Namun, kata dia, perahu karet tidak dapat difungsikan secara maksimal. "Ada kendala, arus terlalu deras,” kata Nurendi.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Riau Edwar Sanger mengakui lambannya proses evakuasi korban banjir. Kata dia, kendalanya jumlah perahu karet yang diandalkan untuk mengevakuasi warga tidak sebanding. Hanya ada 14 unit perahu karet. Perahu bermotor hanya tiga unit. Sedangkan sisanya perahu karet yang mengandalkan dayung.
"Cuma itu yang ada. Sudah termasuk yang dari TNI," kata Edwar ketika meninjau Posko Bencana Banjir di Lapangan Merdeka, Jalan Prof. M. Yamin, Bangkinang Kota, Selasa sore.
Edwar mengakui armada perahu itu tidak sebanding dengan jumlah warga yang akan harus dievakuasi. "Harus ada 50 unit (perahu) baru sebanding,” kata Sekretaris BPBD Kampar Samsul Bahri menimpali.
Plt Gubernur Riau Arsyadjuliandi Rachman yang meninjau bencana banjir di Kecamatan Kuok, Kampar, Selasa soe, mengatakan belum ditetapkannya status Siaga Darurat membatasi upaya penanggulangan dampak banjir di Kampar.
"Tadi dibilang Bapak Jefry (Bupati Kampar Jefry Noer), Kampar membutuhkan bantuan sangat banyak. Rentang wilayah yang ditangani juga cukup panjang," kata dia.
Ketua DPRD Kampar Ahmad Fikri menyoroti penanganan warga korban banjir yang tidak merata karena keterbatasan peralatan pendukung penanggulangan bencana yang dimiliki Pemkab Kampr. "Saya banyak menerima telepon dari warga. Masih banyak yang belum mendapat bantuan dan belum dievakuasi," ucapnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/pekanbaru/foto/bank/originals/evakuasi-warga-korban-banjir-kampar-1_20160209_163209.jpg)