Pemko Pekanbaru
Super Hub Pemko Pekanbaru

Faisal Basri Bandingkan Pilgub DKI 2017 dengan 2012

Dia menilai situasi saat ini membuat Pilkada DKI Jakarta 2017, seperti kehilangan roh.

Editor:
Nurmulia Rekso Purnomo/Tribunnews.com
Ekonom dari Universitas Indonesia, Faisal Basri, dalam diskusi soal ekonomi, di Veteran Cafe, Jakarta Pusat, Senin (1/8/2016). 

TRIBUNPEKANBARU.COM, JAKARTA - Jelang berlangsungnya Pilkada DKI Jakarta 2017, situasi di ibu kota 'memanas'.

Calon Gubernur DKI Jakarta yang juga petahana, Basuki Tjahaja Purnama, tersangkut masalah hukum.

Ratusan ribu orang menggelar aksi unjuk rasa di seberang Istana Negara, pada Jumat (4/11/2016).

Massa menuntut pemerintah dan aparat penegak hukum memproses hukum Ahok, panggilan Basuki Tjahaja Purnama.

Dia diduga menistakan agama, yaitu Al-Quran surat Al-Maidah ayat 51.

Mantan Calon Gubernur DKI Jakarta, Faisal Basri, mengatakan  siapapun warga negara ingin ada kepastian hukum.

Namun sepanjang orang mengancam melakukan ucapan-ucapan hasutan dibiarkan, ini menjadi benih perbuatan melanggar hukum.

"Dan kalau melanggar hukum ya hukum harus tegak itu saja. Tunjukkan bahwa hukum hadir di Indonesia, hukum ditegakkan tanpa pandang bulu," ujarnya di acara Forum Komunikasi Indonesia dalam kegiatan "Bincang Kebangsaan: Indonesia Tanah Air Kita" di FX Sudirman, pada Senin (14/11/2016).

Dia menilai situasi saat ini membuat  Pilkada DKI Jakarta 2017, seperti kehilangan roh.

Ini karena tiga pasangan calon yang ada saat ini, yaitu Agus Harimurti Yudhoyono-Silviana Murni, Basuki Tjahaja Purnama-Djarot Saiful Hidayat, dan Anies Baswedan-Sandiaga Uno, belum menjelaskan kepada masyarakat mengenai program kerja lima tahun ke depan.

Ini berbeda dengan tahun 2012, di mana enam pasangan calon Gubernur-Wakil Gubernur berperang visi dan misi.

Pada waktu itu, Faisal Basri bersama dengan Biem Benyamin maju dari calon independen atau tanpa dukungan partai politik.

"Bagi saya itu proses yang sangat menyenangkan, kami ngomong kami bicara soal konsep. Lebih perang konsep. Saya mengharapkan para kandidat tidak terlena arus politik yang seperti sekarang. Masing-masing kandidat fokus pada program, apa yang ditawarkan kepada masyarakat Jakarta," kata dia.

Dia menilai, Pilkada DKI Jakarta hanya mengangkat isu-isu yang dilontarkan oleh sebagian kalangan.

Seperti isu Ahok yang diduga melakukan penistaan agama. 

Sumber: Tribunnews
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved