Minggu, 19 April 2026
Pemko Pekanbaru
Super Hub Pemko Pekanbaru

VIDEO: Benda Pusaka Hilang, Massa Gelar Ritual di Depan Museum Daerah

pihak pengelola seakan-akan seperti orang yang tidak tahu sejarah. Hal tersebut tercermin saat pihak pengelola

Penulis: Rizky Armanda | Editor: David Tobing

Laporan wartawan Tribun Pekanbaru Rizky Armanda

TRIBUNPEKANBARU.COM, PEKANBARU- Puluhan orang yang tergabung dalam Gerakan Aksi Peduli Sejarah Riau (GRAPARI) menggelar aksi demo, Selasa (4/4/2017) siang.

Aksi ini digelar di dalam kawasan Gedung Museum Daerah Sang Nila Utama di Jalan Sudirman, kota Pekanbaru.

Dikatakan Koordinator Lapangan (Korlap) GRAPARI, Andres Pransiska, aksi ini dilakukan menyusul peristiwa hilangnya sejumlah benda-benda pusaka bersejarah dari dalam museum tersebut beberapa waktu lalu. Pihaknya sangat menyayangkan peristiwa tersebut bisa terjadi.

Lebih mirisnya lagi disebutkan Andres, pihak pengelola seakan-akan seperti orang yang tidak tahu sejarah. Hal tersebut tercermin saat pihak pengelola menaksir kerugian dari segi materi.

Padahal, benda-benda sejarah tersebut nilainya bukan berada pada nominal rupiah, melainkan pada aspek historisnya.

Dirinya juga menyebutkan, peristiwa kehilangan ini juga seolah-olah terkesan menjadi hal sepele dan permasalahan yang biasa-biasa saja bagi para pengelola museum.

Padahal Museum Daerah Sang Nila Utama sejatinya merupakan identitas masyarakat Melayu Riau yang di dalamnya banyak memuat pesan-pesan historis yang harus disampaikan kepada khalayak umum, khususnya masyarakat Riau.

"Untuk itu kita meminta kepada Gubernur Riau untuk segera memecat pengelola museum karena telah bertindak lalai dalam mengelola museum," tegasnya.

Selain itu, pihaknya juga meminta agar pengelola museum ditempati oleh orang-orang yg memiliki kapasitas, kapabilitas dan peduli terhadap sejarah.

"Kita juga minta agar dilakukan pemeriksaan terhadap seluruh pegawai museum atas kehilangan beberapa barang museum dan kelalaian dalam pengelolaan," ujar dia.

Selain menyampaikan orasi dan aspirasinya, massa aksi juga melakukan kegiatan ritual menyemai yang dalam budaya melayu dikenal sebagai upaya untuk menolak bala. Hal ini sekaligus menjadi bentuk sindiran bagi Pemerintah Provinsi Riau, khususnya Dinas Kebudayaan dan pihak pengelola museum yang dituding lalai dalam menjaga aset budaya melayu Riau.

Tampak para massa aksi ini mencampurkan tepung, biji kacang hijau dan air dalam tempurung. Mereka lalu menaburkan ramuan tersebut di sekitaran bangunan utama museum.

"Ini namanya menyemai, dalam budaya melayu ini diartikan sebagai simbol upaya untuk menolak bala atau musibah, karena hari ini museum kita sudah tertimpa musibah, berupa kehilangan benda-benda pusaka dan bersejarah," kata Andres lagi.

Seperti yang santer diberitakan, peristiwa diduga pencurian terjadi di Museum Daerah Sang Nila Utama yang beralamat di Jalan Jenderal Sudirman, kota Pekanbaru. Kejadian diketahui pihak museum pada Senin (13/3/2017) pagi, sekitar pukul 07.30 WIB.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved