EKSKLUSIF
Ini Pengakuan Anak yang Berhenti Sekolah, Kisahnya Sangat Memilukan
Setelah tamat SMP, Arif tidak bisa melanjutkan pendidikan karena ketiadaan biaya. Padahal keinginan Arif untuk bersekolah sangat tinggi.
TRIBUNPEKANBARU.COM, PEKANBARU - Husnil Ibnu Arif, 18 tahun, merupakan potret anak kurang mampu yang gigih mewujudkan impiannya bersekolah. Ia meninggalkan kampung halaman dan bekerja apa saja untuk mencapai cita-citanya.
Meski hidup dalam kemelaratan, tidak membuat Arif lemah dan menyerah. Ia berjuang untuk mendapatkan pendidikan yang dianggapnya sangat berguna bagi masa depan dirinya dan keluarga kelak.
Arif merupakan perantau dari Lintau, Sumatra Barat. Ia merantau ke Pekanbaru empat tahun lalu, karena tidak bisa melanjutkan pendidikan di kampung halaman.
Saat masih dalam kandungan ibunya, Arif sudah ditinggal sang ayah yang tak pernah ia tahu keberadaanya dimana sampai saat ini.
Sedangkan sang ibu sakit-sakitan, hingga akhirnya mengalami kelumpuhan sebelah badan. Dalam kondisi itu, Arif tumbuh besar dengan perawatan nenek.
Arif mengenyam pendidikan sekolah dasar dan SMP di kampungnya tanpa biaya karena dari keluarga tidak mampu.
Setelah tamat SMP, Arif tidak bisa melanjutkan pendidikan karena ketiadaan biaya. Padahal keinginan Arif untuk bersekolah sangat tinggi.
Sering ia menangis menyesali nasibnya yang tidak bisa bersekolah seperti teman-teman yang lain.
Tidak mau berlarut dalam kesedihan, Arif mencoba keberuntungan dengan merantau ke Pekanbaru.
Kebetulan ada teman sekampungnya tinggal di Kota Bertuah.
“Tujuannya biar bisa sekolah lagi, tidak ada yang lain. Ikutlah saya sama orang sekampung ke Pekanbaru," tutur Arif kepada Tribun, Senin (1/5/2017).
Untuk sekolah lagi, ia mesti menempuh jalan berliku. Sesampai di Pekanbaru, Arif diajak bekerja di tempat pemotongan ayam. Ia bekerja dengan tekun demi tujuan utamaya bisa bersekolah.
"Setahun kerja potong ayam, sekolah nggak bisa juga tercapai, saya makin pusing. Apalagi melihat orang sekolah," kata dia.
Untuk mencari pengalaman baru dan buka wawasan, Arif pindah kerja. "Ada teman yang ngajak untuk kerja di tempat jual minuman," ujar Arif.
Di tempat kerja baru itu, Arif mendapatkan gaji yang lumayan, dibayar sampai Rp 800 ribu per bulan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/pekanbaru/foto/bank/originals/anak-putus-sekolah-di-riau_20170502_091434.jpg)