Pemko Pekanbaru
Super Hub Pemko Pekanbaru

Nurul Bersyukur Abah Punya BPJS Kesehatan

"Pusing banget kalau saat itu Abah tidak memiliki BPJS Kesehatan. Mau dicarikan kemana biaya yang lebih Rp 25 juta saat itu," kata Nurul.

Penulis: Afrizal | Editor: harismanto
Tribun Pekanbaru/Afrizal
Suasana pelayanan di kantor BPJS Pekanbaru, beberapa waktu lalu. 

Laporan Wartawan Tribun Pekanbaru, Afrizal

TRIBUNPEKANBARU.COM - "Kalau tidak punya BPJS Kesehatan, pusing pasti. Selain memikirkan biaya operasi yang besar, belum lagi biaya perawatan setelah operasi." Hal tersebut disampaikan Nurul, warga Pekanbaru beberapa waktu lalu usai merawat orangtuanya di Semarang.

Mendaftar melalui kepesertaan mandiri, warga Pekanbaru ini sangat bersyukur, orangtuanya di Semarang sudah memegang kartu BPJS Kesehatan sejak dua tahun lalu.

Berdomisili di Pekanbaru karena ikut suami, perempuan berkerudung ini secara berkala masih sering ke Semarang. Maklum, keluarga besarnya semua di sana. Desember 2016, dirinya pun sudah menyusun rencana kegiatan yang dilakukan di Semarang.

Baru beberapa hari di Semarang, musibah terjadi. Abah, (panggilan pada orangtua laki-lakinya) terpeleset di jalan. Ketika orangtuanya terjatuh inilah Nurul merasakan manfaat besar dan kemudahan yang didapatkan dari BPJS Kesehatan. Jatuh 30 Desember 2016 sekitar pukul 06.30 WIB, Abah, lanjutnya, memang masih bisa jalan ke tempat jualan.

Awalnya hanya berpikir terpeleset biasa sehingga bisa sembuh dengan istirahat. Namun, sore harinya baru terasa sakit. Karena semakin sakit, sore itu juga Nurul mendatangi klinik dan diberi rujukan menemui dokter orthopedi di sebuah rumah sakit di swasta Semarang.

Sabtu baru ke rumah sakit karena dokter rujukan praktek Sabtu siang. Setelah rontgen, ditemukan fraktur sehingga harus diambil tindakan operasi. Operasi pun dijadwalkan Selasa. Karena baru ada tindakan operasi Selasa, orangtua Nurul pun memilih kembali pulang ke rumah.

"Karena Selasa baru operasi, makanya pilih pulang saja dan tidak menginap di rumah sakit hari itu. Secara psikologis orangtua juga lebih nyaman di rumah. Meskipun pulang, saat itu surat rujukan dari klinik sudah dipegang," katanya.

Sehari sebelum operasi, lanjut Nurul, orangtuanya kembali ke rumah sakit untuk persiapan operasi. Perawatan awal perlu dilakukan karena terindikasi gula.

Selasa pagi sebelum operasi, dirinya menemui petugas BPJS Kesehatan yang ada di rumah sakit memastikan apakah biaya ditanggung BPJS Kesehatan atau tidak. Hal ini dilakukan karena ada jeda kejadian.

Saat itu, Nurul kembali menceritakan kronologis kejadian hingga alasan ada jeda antara jatuh dengan masuk rumah sakit.

"Ini juga yang membuat keluarga sempat ragu bisa tercover atau tidak. Masuk ke ruang administrasi, sudah ada petugas BPJS Kesehatan yang menunggu. Saat itu petugas baca ulang berita acara dan menyuruh saya cerita lagi proses kejadian. Dari cerita itu, petugas menyuruh melengkapi beberapa kronologis lagi sekalian berikan alasan kenapa sejak kejadian hingga dirawat berjeda," katanya.

Syarat yang dilengkapi, lanjutnya juga sederhana. Diantaranya foto kopi KTP pasien, Kartu BPJS Kesehatan, foto kopi Kartu Keluarga dan surat rujukan dari klinik. Meskipun hanya kelas III, memiliki keluarga yang juga memegang BPJS Kesehatan, bagi Nurul sangat meringankan beban yang ditanggung.

"Pusing banget kalau saat itu Abah tidak memiliki BPJS Kesehatan. Mau dicarikan kemana biaya yang lebih Rp 25 juta saat itu. Belum lagi biaya setelah perawatan," katanya.

Manfaat besar dari BPJS Kesehatan bukan sekali itu saja dialami Nurul. Saat bersamaan, dirinya juga merasakan kemudahan saat mengurus Travelling Hemodialisis (HD) saudaranya yang berada di Jakarta.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved