Eksklusif
Derita Menjadi Guru Honor, Gaji Tak Seberapa Pulang Ngajar Harus Kerja Lagi
Pekerjaan itu terpaksa dilakoni karena ia sedang mengecap pendidikan tinggi atau kuliah.
Penulis: johanes | Editor: harismanto
TRIBUNPEKANBARU.COM, PANGKALAN KERINCI - Apa yang dialami Muhammad Taufik (26), seorang guru honor di SDN 018 Sungai Upih. Kecamatan Kuala Kampar, hampir serupa dengan rekannya sesama guru honor sekolah bernama Muhammad Azri (25).
Setelah mengajar murid-muridnya, ia bekerja sebagai pemanen kelapa musiman.
Pekerjaan itu terpaksa dilakoni karena ia sedang mengecap pendidikan tinggi atau kuliah.
Setiap akhir pekan ia harus berangkat ke Tanjung Batu, Kabupaten Tanjung Balai Karimun, Kepri.
Tanjung Batu menjadi tempat kuliah terdekat dari Pulau Mendol, nama lain Kecamatan Kuala Kampar.
Mereka harus menempuh perjalanan menggunakan kapal cepat selama satu jam baru tiba di Tanjung Batu.
Tentunya ongkos transportasi air dan uang kuliah, semakin membuat kantong mereka terkuras.
"Terkadang kami mengutang dulu sebelum gaji datang atau kelapa dipanen," ujarnya.
Gutu honor lainnya di SDN 006 Desa Tanjung Sum, Kecamatan Kuala Kampar, Juwita (24) juga bernasib serupa.
Untuk menambah penghasilan dari gaji dana BOS, ia berdagang kelontong bersama orangtuanya di pelabuhan speedboat.
Pendapatan dari berjualan bisa memenuhi kebutuhan hidup keluarganya.
Perjuangan hidup ketiga guru ini mewakili ratusan guru honor lainnya di Pelalawan.
Mereka berharap ada perhatian khusus dari pemda dalam meningkatkan kesejahteraan dan kelayakan hidup.
Sebab beban mereka cukup berat di dunia pendidikan.
Kepala SDN 018 Sunga Upih, Muhammad Rasyid, mengakui kondisi guru honor yang diangkat sekolah.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/pekanbaru/foto/bank/originals/guru-honor-guru-bantu_20170815_093633.jpg)