Inilah Kampung Poligami, Para Istri masih Tinggal Berdekatan

Menurut Tohirin, Kepala Desa Kedung Banteng, praktik itu kebanyakan terjadi sekitar tahun 80-an hingga

Internet
Ilustrasi poligami 

TRIBUNPEKANBARU.COM - Seorang perempuan tampak sibuk membuat kopi dan mie instan di sebuah warung yang terletak tak jauh dari ujung jalan Wayo di Desa Kedung Banteng, Tanggulangin Sidoarjo.

Sementara di teras dan halaman warung, anak-anak muda tampak duduk-duduk sambil menikmati kopi mereka.

Perempuan berusia 55 tahun, Nur Khotimah, sudah sepuluh tahun terakhir berjualan kopi dan mie instan untuk menghidupi ketiga anaknya. Suaminya menikah lagi dengan perempuan tetangganya, namun Nur tidak bercerai secara resmi melalui pengadilan agama.

"Sudah tidak tinggal serumah," kata Nur

"Biarkan saja, buat apa dipikirkan".

Dia mengakui sempat marah ketika suaminya baru menikah, tetapi lebih memilih untuk bangkit menghidupi dirinya dan anak-anaknya sampai mereka kemudian bekerja.

"Kalau dipikirkan malah jadi penyakit," kata Nur pada wartawan di Jawa Timur, Nur Cholis.

Setelah menikah, suaminya tidak memberikan nafkah lagi.

Dalam UU Kekerasan Dalam Rumah Tangga KDRT, tidak memberikan nafkah pada istri merupakan salah satu bentuk kekerasan ekonomi.

Meski sudah berpisah, suaminya sesekali bertandang ke rumahnya untuk menemui anak-anak dan empat cucunya. Nur mengaku tidak terlalu mempedulikannya.

Halaman
123
Editor:
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved