Minggu, 19 April 2026
Pemko Pekanbaru
Super Hub Pemko Pekanbaru

Inilah Kampung Poligami, Para Istri masih Tinggal Berdekatan

Menurut Tohirin, Kepala Desa Kedung Banteng, praktik itu kebanyakan terjadi sekitar tahun 80-an hingga

Editor:

TRIBUNPEKANBARU.COM - Seorang perempuan tampak sibuk membuat kopi dan mie instan di sebuah warung yang terletak tak jauh dari ujung jalan Wayo di Desa Kedung Banteng, Tanggulangin Sidoarjo.

Sementara di teras dan halaman warung, anak-anak muda tampak duduk-duduk sambil menikmati kopi mereka.

Perempuan berusia 55 tahun, Nur Khotimah, sudah sepuluh tahun terakhir berjualan kopi dan mie instan untuk menghidupi ketiga anaknya. Suaminya menikah lagi dengan perempuan tetangganya, namun Nur tidak bercerai secara resmi melalui pengadilan agama.

"Sudah tidak tinggal serumah," kata Nur

"Biarkan saja, buat apa dipikirkan".

Dia mengakui sempat marah ketika suaminya baru menikah, tetapi lebih memilih untuk bangkit menghidupi dirinya dan anak-anaknya sampai mereka kemudian bekerja.

"Kalau dipikirkan malah jadi penyakit," kata Nur pada wartawan di Jawa Timur, Nur Cholis.

Setelah menikah, suaminya tidak memberikan nafkah lagi.

Dalam UU Kekerasan Dalam Rumah Tangga KDRT, tidak memberikan nafkah pada istri merupakan salah satu bentuk kekerasan ekonomi.

Meski sudah berpisah, suaminya sesekali bertandang ke rumahnya untuk menemui anak-anak dan empat cucunya. Nur mengaku tidak terlalu mempedulikannya.

Saat ini, ketiga anaknya menikah muda, yang perempuan menikah setelah lulus SMP dan anak laki-laki dan perempuannya yang lain menikah setelah lulus SMA.

Ketiganya sudah bekerja, sebagai penata rias pengantin, satpam dan buruh pabrik. Dia tak setuju jika anaknya menikah dengan lebih dari satu orang.

Selain dirinya, Nur mengatakan banyak perempuan mengalami nasib yang sama, ketika suami mereka berpoligami.

Poligami tak lagi dilakukan oleh generasi muda/NUR CHOLIS.
Asal usul nama jalan

Seorang warga Mursidan mengatakan banyaknya warga yang berpoligami membuat kawasan ini dinamakan Jalan Wayoh oleh warganya.

Dalam bahasa Indonesia, Wayoh artinya bermadu, poligami.

Sumber: Tribun Medan
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved