Selasa, 28 April 2026
Pemko Pekanbaru
Super Hub Pemko Pekanbaru

Main Game Online 20 Jam Nonstop, Pria Ini Alami Kelumpuhan, Baru Sadar saat Akan Pergi ke Toilet

"Tampaknya ia sudah benar-benar mati rasa dan tidak bisa bergerak sama sekali. Kami harus memanggil ambulans," jelas satu temannya.

Penulis: Pravitri Retno Widyastuti | Editor: Pravitri Retno Widyastuti
Daily Mail
Seorang pria di Cina mengalami kelumpuhan akibat bermain game online di warnet selama 20 jam nonstop. 

TRIBUNPEKANBARU.COM -- Bermain game memang bisa menjadi alternatif untuk menghilangkan stress.

Meski begitu, ada baiknya membatasi waktu dalam bermain game supaya kewajiban lain tidak terabaikan.

Terlalu banyak bermain game juga bisa memberi dampak negatif terhadap kesehatan.

Seorang pria di Cina harus mengalami kelumpuhan dari bagian pinggang ke bawah setelah bermain video game selama 20 jam nonstop di warung internet (warnet) di Jiaxing, provinsi Zhejiang, Cina.

Dilansir Tribunnews dari Daily Mail, Jumat (2/2/2018), petugas paramedis membawa pria tersebut ke rumah sakit menggunakan tandu.

Baca: Tak Hanya Jago Akting, Vanesha Prescilla Pemeran Milea di Film Dilan 1990 Ini Punya Bakat Unik!

Baca: Tak Sengaja Siram Sepatu Mahal, Petugas Kebersihan Dipukul Hingga Babak Belur, Kepalanya Berdarah

Sebelum dibawa memasuki ambulans, ia sempat berpesan pada teman-temannya untuk meneruskan game miliknya yang belum selesai.

Berdasarkan laporan, pria yang tidak diketahui namanya tersebut bermain game sejak 27 Januari hingga teman-temannya menelepon ambulans pada 28 Januari sore.

Menurut situs berita Cina, pria tersebut akan pergi ke toilet saat ia menyadari badan bagian pinggang hingga ke bawah tidak bisa digerakkan.

"Tampaknya ia sudah benar-benar mati rasa dan tidak bisa bergerak sama sekali. Kami harus memanggil ambulans," jelas satu temannya.

Kecanduan game telah menjadi isu sosial paling parah bagi orang-orang muda di Cina.

Mereka memilih mengabaikan pendidikan dan berfokus untuk bermain game.

Tidak hanya itu, keluarga dan kehidupan sosial menjadi nomor sekian karena mereka memilih pergi ke warnet untuk bermain game online.

Banyak orangtua yang akhirnya memutuskan mengirim anak-anak ke sebuah kamp rehabilitasi sebagai upaya akhir untuk membatasi kegiatan mereka di dunia digital.

Sumber: Tribunnews
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved