Minggu, 10 Mei 2026
Pemko Pekanbaru
Super Hub Pemko Pekanbaru

Setelah Bunuh Dua Putrinya, Pria Ini Buat Dua Tato Mawar Sebelum Dihukum Mati

Akhirnya mantan akuntan itu menjalani eksekusi hukuman mati setelah upaya terakhir mendapatkan pengurangan hukuman ditolak Mahkamah Agung AS.

Tayang:
John Battaglia.(YouTube/Dallas Morning News/Mirror) 

TRIBUNPEKANBARU.COM - Seorang pria yang membunuh kedua putrinya yang masih kecil menjalani eksekusi hukuman mati di penjara Huntsville, Texas, AS, Kamis (1/2/2018) malam.

John Battaglia (62) menembak mati Faith (9) dan adiknya Liberty (6) pada Mei 2001.

Sementara, ibu kedua bocah itu, Mary Jean Pearle tak berdaya mendengarkan pembunuhan itu lewat telepon.

Pada Kamis malam, akhirnya mantan akuntan itu menjalani eksekusi hukuman mati setelah upaya terakhir mendapatkan pengurangan hukuman ditolak Mahkamah Agung AS.

Baca: Jadi Tersangka, KPK Ungkap Jumlah Uang Gratifikasi yang Diterima Zumi Zola 

Di saat-saat menentukan itu, Mary Jean Pearle menyaksikan proses eksekusi terhadap mantan suaminya.

Saat diminta menyampaikan pernyataan terakhirnya, Battaglia hanya tersenyum sambil memandang mantan istrinya yang berada di balik kaca.

"Hai Mary Jean, sampai berjumpa lagi," kata Battaglia seperti disampaikan media setempat dan petugas penjara.

Battaglia kemudian mengatakan agar eksekusi segera dimulai dan menutup matanya.

Namun, beberapa saat kemudian dia membuka matanya.

"Saya masih hidup?" ujar Battaglia seperti dikabarkan harian Dallas News.

Baca: Dirinya Disebut Wakil Ketua KPK, Istri Zumi Zola: Oh Maaf Keluarga Kami Sudah Kaya

Sesaat kemudian Battaglia menghela nafas dan berkata:

"Saya merasakannya."

Battaglia, mantan anggota marinir, dinyatakan meninggal dunia 22 menit setelah menerima suntikan maut.

Dia adalah terpidana mati ketiga yang dieksekusi di AS sepanjang tahun ini.

Para kuasa hukum Battaglia berusaha menyelamatkan nyawa kliennya dengan berargumen bahwa pria itu mengalami masalah mental dan tak bisa dieksekusi.

Namun, kuasa hukum negara bagian Texas berpendapat Battaglia menyadari perbuatannya sehingga dia layak menjalani hukuman mati.

Baca: Tak Berhenti Pada 5 Tersangka, Kejati Terus Kembangkan Kasus Dugaan Tipikor Bapenda Riau

Baca: Ternyata Ini Alasan Polres Kampar Meminta Eksekusi Lahan PTPN V Ditunda

Battaglia menembak mati kedua putrinya dengan menggunakan pistol kaliber 45 di kediamannya di kota Livingston, Texas pada 2 Mei 2001.

Di hari pembunuhan, Battaglia mengetahui surat penahanan untuknya telah diterbitkan pengadilan karena dia melanggar masa pembebasan bersyaratnya.

Battaglia sempat berurusan dengan hukum dan dipenjara setelah terbukti menyerang bekas istrinya Mary Jeane Pearle.

Malam itu, Battaglia menjemput kedua putrinya dalam sebuah kunjungan rutin terjadwal.

Kemudian dia mengirim pesan pendek kepada Mary Jane bahwa salah satu anak mereka ingin menelepon ibunya.

Mary Jane kemudian menelepon ke kediaman Battaglia yang kemudian menggunakan pengeras suara untuk berbicara.

Dia kemudian meminta putrinya, Faith untuk bertanya kepada Mary Jane.

Baca: Darah Minang Mengalir pada Dipo Latief Gebetan Nikita Mirzani. Ternyata Ini Bapaknya

"Ibu, apakah ibu ingin agar ayah kembali ke penjara?" tanya Faith.

Beberapa saat kemudian anak kecil itu berteriak penuh ketakutan: "Jangan ayah, tolong jangan lakukan itu."

Mary Jeane yang tak berdaya hanya bisa berteriak menyuruh kedua putrinya untuk lari sebelum mendengar suara tembakan dan teriakan suaminya.

"Selamat hari Natal," ujar Battaglia.

Baca: Polisi Nyamar Jadi Orang yang Sudah Meninggal, Alasannya Bikin Nangis

Saat mendengar rentetan tembakan, Mary Jeane menutup telepon dan kemudian menghubungi 911.

Setelah membunuh kedua anaknya, dengan santai Battaglia pergi ke tukang pembuat tato dan membuat dua tato mawar di lengannya.

Di tempat pembuat tato itulah polisi kemudian menangkap Battaglia.

Sumber: Kompas.com
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved