Eksklusif

BBKSDA Riau: Habitat Harimau Sumatera Makin Menyempit

Balai Besar Konservasi dan Sumber Daya Alam Riau merilis kasus konflik manusia dan satwa yang terjadi hingga September.

BBKSDA Riau: Habitat Harimau Sumatera Makin Menyempit
Tribun Pekanbaru/Theo Rizky
Seekor Harimau Sumatera yang mati terkena jerat di perbatasan Desa Muara Lembu dan Pangkalan Indarung dibawa ke BBKSDA Riau Pekanbaru untuk diautopsi, Rabu (26/9/2018). 

TRIBUNPEKANBARU.COM, PEKANBARU - Balai Besar Konservasi dan Sumber Daya Alam (BBKSDA) Provinsi Riau merilis kasus konflik manusia dan satwa yang terjadi hingga September.

Konflik tersebut terbagi dalam dua wilayah.

Untuk wilayah I yang terdiri dari Inhil, Pelalawan, Inhu, dan Kuantan Singingi setidaknya tercatat ada 15 kasus konflik manusia dan satwa.

Konflik dengan manusia ini melibatkan Harimau Sumatera 4 kasus, Gajah Sumatera 1 kasus, beruang madu 2 kasus, buaya 3 kasus, ungko 3 kasus dan siamang 2 kasus.

Baca: Kulit Harimau Sumatera Dihargai Rp 80 Juta, Praktik Perdagangan Satwa di Riau Sulit Terbongkar

Baca: Lokasi Pemadaman Listrik PLN Area Pekanbaru Pukul 09.00-16.00 WIB, Ada Pemeliharaan JTM 

Baca: 55 Siswa SMP di Pekanbaru Sayat Tangan Ngaku Ikut Challenge. Kepala Sekolah Ungkap Fakta Mengejutkan

Kasus yang cukup menonjol di wilayah I ini adalah soal Harimau Sumatera yang menerkam dua warga di daerah Pelangiran, Kabupaten Inhil.

Kemudian, untuk wilayah II yang meliputi Kampar, Pekanbaru, Siak, Bengkalis, dan Kepulauan Meranti ada sekitar 21 kasus.

Di antaranya beruang madu 6 kasus, monyet ekor panjang 3 kasus, buaya muara dan macan dahan masing-masing 1 kasus, serta didominasi Gajah Sumatera yang berjumlah 10 kasus.

Kepala BBKSDA Riau Suharyono mengatakan konflik di sini lebih kepada perjumpaan antara satwa dengan manusia, dimana keduanya sebenarnya sama-sama tidak menghendaki hal itu.

"Hal ini terjadi karena proses terfragmentasinya habitat satwa oleh alih fungsi lahan, alih fungsi kawasan hutan, dan lain-lain. Dimana habitat mereka makin lama makin menyempit. Jadi ini bukan salah satwanya," tutur dia kepada Tribunpekanbaru.com, Sabtu (29/9/2018).

Namun anehnya dipaparkan Suharyono, dalam hal ini manusialah yang seakan merasa terganggu dengan kehadiran satwa tersebut.

Halaman
12
Editor: harismanto
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved