Sabtu, 11 April 2026
Pemko Pekanbaru
Super Hub Pemko Pekanbaru

Pekanbaru

Program PINTAR Tanoto Foundation Sasar Dosen, Bekali Konsep Pembelajaran Aktif Pola MIKIR

Tanoto Foundation terus memperluas sasaran Program Pengembangan Inovasi untuk Kualitas Pembelajaran (PINTAR)

Penulis: Hendri Gusmulyadi | Editor: Ariestia
Tribun Pekanbaru/Hendri Gusmulyadi
Pelatihan Pembelajaran Aktif dan Manajemen Berbasis Sekolah Untuk Dosen Lembaga Pendidik Tenaga Kependidikan (LPTK) Mitra Tanoto Foundation, di Ska Co Ex Pekanbaru, Selasa (26/2/2019). 

Laporan wartawan tribunpekanbaru.com, Hendri Gusmulyadi

TRIBUNEPKANBARU.COM, PEKANBARU - Tanoto Foundation terus memperluas sasaran Program Pengembangan Inovasi untuk Kualitas Pembelajaran (PINTAR) yang sudah digalakkan sejak tahun 2018 lalu.

Setelah beberapa waktu lalu mewadahi pelatihan bagi Kepala Sekolah, Guru, hingga masyarakat melalui komite sekolah tentang Pembelajaran Aktif dan Manajemen Berbasis Sekolah, kali ini program PINTAR menyasar dosen pada Perguruan Tinggi Negeri (PTN), melalui Pelatihan Pembelajaran Aktif dan Manajemen Berbasis Sekolah Untuk Dosen Lembaga Pendidik Tenaga Kependidikan (LPTK) Mitra Tanoto Foundation, di Ska Co Ex Pekanbaru, Selasa (26/2/2019).

Baca: Resep Kentang dan Bayam Bumbu Kunyit, Hmmm. . . Bikin Makan Jadi Nikmat

Dosen-dosen peserta pelatihan berasal dari dua LPTK di Riau, yakni Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Riau (UNRI), dan Fakultas Tarbiyah dan Keguruan (FTK) Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim (UIN Suska) Riau.

Lebih dari 60 orang dosen terlibat selama tiga hari acara yang dimulai Selasa (26/2/2019), sampai dengan Kamis (28/2/2019). Terdiri dari dosen PGSD/PGMI, non PGSD/PGMI, dan dosen pelatihan khsusus Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) dari kedua fakultas univeristas itu.

Pelatihan Pembelajaran Aktif dan Manajemen Berbasis Sekolah Untuk Dosen LPTK, diisi oleh 24 orang orang fasilitator yang berasal dari FKIP UNRI dan dan FTK UIN Suska Riau. Tiga orang dari pemateri nasional yakni Tanoto Foundation di Jakarta, dan dua orang lagi dari UNNES Semarang.

Pada tujuannya, pelatihan tersebut muaranya pada siswa yang belajar di sekolah. Dalam arti, desen mengikuti pelatihan, kemudian ilmu itu ditransfer ke mahasiswa di kampusnya masing-masing, dan dari mahasiswa akan diterapkan di sekolah atau kepada siswa-siswa pada saat menjadi pengajar nantinya.

Dosen PGSD/PGMI, non PGSD/PGMI, dan dosen peserta pelatihan khusus MBS, usai mengikuti Trining of Trainer (ToT) bersama fasilitator di Ska Co Ex Pekanbaru, bakal langsung melakukan praktek dengan cara terjun langsung ke kampus dan sekolah. Dosen PGSD/PGMI dan non PGSD/PGMI prakteknya di FKIP UNRI, sedangkan peserta pelatihan khusus MBS akan melakukan pemantuan di dua sekolah di Pekanbaru.

"Materi yang diberikan di antara keduanya, baik PGSD/PGMI atau non PGDF/PGMI dan peserta pelatihan khusus MBS pada umumnya sama. Dosen PGSD/PGMI atau non PGSD/PGMI memulai kegiatan dengan memahami prinsip pembelajaran aktif, metode pengelolaan lingkungan belajar, metode mengembangkan pertanyaan dan tugas, sampai kepada praktik mengajar. Sedangkan khusus MBS mulai dari pembelajaran aktif, menerapkan budaya baca terhadap siswa, materi MBS, pemantauan sekolah, serta cara melibatkan peran serta masyarakat," ungkap Koordinator Teacher Training Institute (TTI) Riau, sekaligus Dosen FKIP UNRI Provinsi Riau, dan Koordinator Kegiatan, Riki Apriyandi Putra.

Baca: Kesadaran Penyelenggara Negara di Riau Masih Rendah untuk Laporkan Harta Kekayaan

Tujuan utama dari pelatihan yang digagas Tanoto Foundation ungkap Riki, diharapkan bisa diterapkan di perguruan tinggi masing-masing, diterima oleh mahasiswa, dan ditularkan lagi kepada para siswa-siswa di sekolah pada nantinya.

Ia pun mengaku, walau pun selama ini metode pembelajaran aktif telah berhasil diterapkan di kampus-kampus, khususnya FKIP, tetapi melalui pelatihan ini metode tersebut dapat berkembang lebih baik.

"Ciri khas dari pelatihan ini adalah pembelajaran aktif dengan pola Mengalami Interaksi, Komuniaksi dan Refleksi (MIKIR). Harapannya, apabila seluruh peserta telah dibekali konsep pembelajaran aktif dengan pola MIKIR, maka dapat diterapkan di perguruan tinggi. FKIP akan melahirkan calon-calon guru terbaik, bekal yang sudah diberikan oleh dosen selama kuliah diharapkan dapat diimplementasikan saat menjadi tenaga pengajar di sekolah nantinya," papar Riki.

Wakil Dekan III FKIP UNRI, Dr Mahdum MPd yang hadir saat acara pembukaan Pelatihan Pembelajaran Aktif dan Manajemen Berbasis Sekolah Untuk Dosen LPTK, mengungkapkan apresiasinya. Sebab, Ia menilai ini adalah salah satu upaya pengembangan metode pembelajaran, baik itu di kampus hingga di sekolah.

"Sehingga melalui pelatihan ini terjadilah pembelajaran aktif yang muaranya nanti di sekolah. Desen mengikuti pelatihan, ilmu itu ditularkan ke mahasiswanya, dan mahasiswa saat turun mengajar dapat menerapkan konsep ini di sekolah," ujarnya.

Menurut Mahdum, banyak sekali kasus bahwa saat sekarang konsep pembelajaran aktif belum berjalan maksimal. Ia mencontohkan, dalam satu kelas yang diisi oleh 40 orang siswa, hanya 10 sampai 15 orang yang benar-benar mau belajar aktif sesuai metode pembelajaran yang ada saat ini.

Baca: Lowongan Kerja Bagi Warga Pelalawan, KPU Cari Petugas Pelipat Surat Suara, Upahnya Per Lembar

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved