Coblos 20 Surat Suara, Dua Pria di Salo Divonis 4 Bulan Penjara Secara In Absentia

Dua pria di Salo, Kampar, divonis Hakim PN Bangkinang 4 bulan penjara. Namun vonis dijatuhkan secara in absentia, karena terdakwa menghilang.

Coblos 20 Surat Suara, Dua Pria di Salo Divonis 4 Bulan Penjara Secara In Absentia
ist
bawaslu 

tribunpekanbaru.com - Majelis Hakim Pengadilan Negeri (PN) Bangkinang, menjatuhkan vonis pidana penjara 4 bulan dan denda Rp10 juta subsidair 1 bulan kurungan, kepada terdakwa bernama Maghribi.

Pria ini tersangkut kasus pencoblosan 20 kertas surat suara pada pemilu presiden di TPS 004, Desa Sipungguk, Kecamatan Salo, Kabupaten Kampar, pada pemilu April 2019 lalu.

Putusan ini dijatuhkan Majelis Hakim tanpa hadirnya terdakwa di ruang sidang (in absentia). Tidak hadirnya terdakwa karena dia menghilang saat dipanggil sidang oleh pihak pengadilan. Putusan ini dijatuhkan pengadilan pada Selasa (28/5) malam lalu di ruang sidang Cakra, Pengadilan Negeri (PN) Bangkinang.

Dalam kasus yang sama, PN Bangkinang juga menjatuhi vonis kepada terdakwa bernama Nurkholis. Terdakwa ini merupakan salah seorang petugas KPPS di TPS 004 tempat terjadinya pencoblosan 20 surat suara saat pemilu lalu.

Nurkholis divonis 2 bulan penjara dan denda Rp10 juta subsidair 1 bulan kurungan. Saat penyampaian putusan ini, terdakwa Nurkholis juga tidak menghadiri sidang.

Sebelumnya, pada sidang tuntutan perkara tindak pidana pemilu No 250/Pid.Sus/2019/PN Bkn atas Nama Magribi Bin Ahmad, Selasa (28/5) lalu, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Dedi Iwan Budiono yang diwakili Eka menyatakan, terdakwa Magribi bin Ahmad bersalah melakukan tindak pidana pemilu sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam dakwaan pasal 516 UU No 07 tahun 2017 tentang pemilihan umum.

JPU menuntut pidana secara in absentia terhadap terdakwa berupa penjara 6 bulan dan denda Rp10 juta subsidair 2 bulan kurungan dengan perintah terdakwa ditahan. Kemudian menyatakan barang bukti dikembalikan kepada yang berhak melalui saksi Hermansyah, serta menetapkan agar terdakwa membayar biaya perkara Rp5 ribu.

Sedangkan pada Sidang Tuntutan Perkara Tindak Pidana Pemilu No 251/Pid.Sus/2019/PN Bkn untuk Nurkholis Bin Muhammad Nasir, Selasa (28/5) JPU dalam tuntutan menyatakan Nurkholis Bin Muhammad Nasir bersalah melakukan pidana pemilu sebagaimana diatur pasal 516 UU No 07 tahun 2017 Jo Pasal 56 ke-2 KUH Pidana tentang pemilihan umum. JPU menuntut hukuman penjara 3 bulan dan denda Rp10 juta subsidair 2 bulan kurangan dengan perintah terdakwa ditahan.

Ketua Bawaslu Kampar, Syawir Abdullah menjelaskan, berdasarkan penyelidikan dan keterangan saksi di TPS, kecurangan pidana pemilu ini bermula dari pelaku menyerahkan formulir C6 kepada petugas KPPS setempat pada pemilu lalu.

Saat hendak meminta surat suara, petugas KPPS membiarkan pelaku dan menyuruhnya mengambil surat suara sendiri di tumpukan surat suara. Tak disangka, pelaku langsung mengambil 20 lembar surat suara pemilihan presiden dari tumpukan dan langsung masuk ke bilik pencoblosan.

Usai mencoblos, pelaku menuju kotak suara untuk memasukkan. Beruntung pengawas TPS melihat surat suara di tangan pelaku banyak sekali. Dari situlah pelaku ketahuan mencoblos 20 surat suara sekaligus. (uha)

Penulis: Nasuha Nasution
Editor: rinaldi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved