Tangani Usus Buntu dengan Laparaskopi
Punya penyakit usus buntu? Jangan takut. Karena saat ini penangannya tidaklah seperti dulu melalui operasi konfensional.
Tangani Usus Buntu dengan Laparaskopi
TRIBUNPEKANBARU.COM - Punya penyakit usus buntu? Jangan takut. Karena saat ini penangannya tidaklah seperti dulu melalui operasi konfensional.
Saat ini sudah ada operasi dengan menggunakan laparaskopi.
Istilah medis operasi usus buntu dikenal dengan appendectomy, yaitu suatu prosedur operasi untuk memotong dan membuang appendix (usus buntu).
Demikian dikatakan Dokter Spesialis Bedah Umum (General Surgeon) Rumah Sakit Awal Bros Panam dr Yudi Ade Syah Putra SpB menjelaskan
Sebagian besar prosedur ini dilakukan dalam kondisi darurat untuk mengatasi radang usus buntu (apendisitis).
Namun pada sebagian kasus, pemotongan dan pembuangan usus buntu ini dapat dilakukan sekalian ketika operasi perut karena penyakit yang lain.
Hal ini bertujuan untuk mencegah apendisitis di kemudian hari.
‘’Apendisitis merupakan suatu kondisi di mana usus buntu menjadi meradang. Usus buntu dalam bahasa Indonesia disebut umbai cacing atau usus yang berbentuk kantong (tabung) sebesar kelingking yang buntu atau tertutup pada bagian ujungnya. Pada kebanyakan orang, usus buntu menjadi meradang karena jaringan yang terinfeksi oleh bakteri; nanah bisa terjadi dalam lumen usus buntu. Penyumbatan mekanis dari apendiks oleh tinja keras, benda asing, atau lendir tebal juga dapat menyebabkan infeksi bakteri,’’ ujar dr Yudi.
Dijelaskan dr Yudi, untuk melakukan operasi laparaskopi, usus buntu diakses melalui beberapa sayatan kecil di perut dengan menggunakan instrumen seperti tabung (selang) untuk beroperasi pada organ yang terinfeksi.
Ada kamera di salah satu alat tersebut yang memungkinkan dokter bedah untuk melihat ke dalam rongga perut dan membimbing instrumen agar tepat sasaran.
Setelah usus buntu dibuang, sayatan kecil dibersihkan dan ditutup.
Risiko infeksi dari metode laparoskopi ini lebih rendah dari dari usus buntu terbuka karena luka sayatan yang lebih kecil.
‘’Operasi dengan laparaskopi pasien hanya memerlukan rawat inap satu hari sedangkan operasi konfensional bisa dua-tiga hari pasca operasi luka sayatan dengan menggunakan laparaskopi berkisar 1-2 Cm sedangkan dengan konfensional luka sayatannya berkisar 10-15 Cm sehingga proses penyembuhannya lebih lama,’’ jelasnya.
Operasi pengangkatan usus buntu melalui prosedur ‘lubang kunci’ (laparoskopi) lebih banyak dipilih, terutama bagi pasien manula atau yang mengalami obesitas.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/pekanbaru/foto/bank/originals/dr-yudi-ade-syah-putra-spb-rs-awal-bros-panam.jpg)