Minggu, 26 April 2026
Pemko Pekanbaru
Super Hub Pemko Pekanbaru

Siak

STORY - Syaiful Bahri, Lulusan UIN Suska Riau yang Gemar Bertani Hingga Belajar ke Jepang

Di saat generasi muda dilanda kebiasaan gamers dan gadget, Syaiful Yazan malah memanfaatkan waktunya untuk bertani dan beternak.

Penulis: Mayonal Putra | Editor: Ariestia
Istimewa
Syaiful Bahri, petani muda yang sukses di Kampung Sungai Tengah, Kecamatan Sabak Auh, Kabupaten Siak. 

STORY - Syaiful Bahri, Lulusan UIN Suska Riau yang Gemar Bertani Hingga Belajar ke Jepang

TRIBUNSIAK.COM, SIAK - Sosok Syaiful Bahri (27), pria lulusan Fakultas Ekonomi UIN Sultan Syarif Kasim II ini menjadi antitesis bagi kebiasaan generasi muda zaman sekarang di kampungnya, Kampung Sungai Tengah, Kecamatan Sabak Auh, Kabupaten Siak.

Di saat generasi muda dilanda kebiasaan gamers dan gadget, Syaiful Yazan malah memanfaatkan waktunya untuk bertani dan beternak.

Upaya itu tidak hanya untuk pribadinya, namun berjuang mengajak warga lainnya memanfaatkan waktu untuk kegiatan produktif. Baik pertanian dengan tanaman hortikultura maupun membuat peternakan.

"Ya tak dipungkiri, tahun demi tahun petani usia muda kian terkikis oleh zaman. Minat pemuda untuk bertani tergeser dengan berbagai mode dan gaya hidup yang mempengaruhinya," ujar Syaiful Bahri, Minggu (1/9/2019).

Baca: Kronologi Penangkapan Tiga Penipu di Riau Kasus Jual Beli Mobil di Pelalawan, Dipancing Lewat Medsos

Baca: BREAKING NEWS: BNNP Riau Gagalkan 30 Kg Sabu, Kabid Pemberantasan: Untung Tak Ada Orang Razia KTP

Meski hanya menggeluti dunia pertanian dan peternakan di kampungnya, namun Syaiful Bahri terbilang pemuda yang sukses.

Soal ekonomi tidak lagi menjadi kesulitannya setelah mencoba bertani sejak 2015 lalu. Sejak itu pula dia sudah mulai mengajak anak-anak muda di kampungnya untuk bertani.

"Bagi saya hal ini adalah tantangan, bagaimana kita selaku generasi muda harus menjadi agent of change di bidang pertanian," kata pria murah senyum itu.

Dengan semangat inilah Syaiful mempunyai rencana untuk meningkatkan minat generasi muda terjun di bidang pertanian.

Hebatnya lagi, saat ini dia bersama teman-temannya telah mendirikan P4S Terpadu (Pusat Pelatihan Pertanian dan Pedesaan Swadaya) Terpadu.

"Kegiatannya direncanakan lebih ke tanaman Hortikultura. Potensi dari tanaman Hortikultura sangat besar untuk dikembangkan," kata dia.

Baca: Emen, Remaja Tertinggi di Indonesia Sambangi Asrama Atlet, Ingin Masuk PPLP Dispora Riau

Baca: Polwan Cantik Satlantas Polresta Pekanbaru Berbaris, Ajak Masyarakat Tertib Berlalu Lintas

Ia menguraikan, saat ini pasokan sayuran di Siak masih banyak dikirim dari luar daerah. Padahal seharusnya petani lokal mampu memenuhi permintaan lokal. Hal itu menjadi motivasi bagi Syaiful untuk bergerak dan bergiat pada jenis tanaman Hortikultura.

"Keinginan saya sederhana, hanya ingin meningkatkan minat generasi muda untuk terjun di dunia pertanian," kata dia.

Sementara bagi dia secara pribadi sudah merasakan keuntungannya.
Dari kegitan bertani itu pulalah yang mengantarkannya mengikuti seleksi program dari kementerian Pertanian dalam peningkatan SDM pertanian young farmer leader in Japan.

"Alhamdulillah saya lulus seleksi program dan magang di Jepang selama kurang lebih 28 bulan," kata dia.

Syaiful menceritakan pengalamannya selama berada di negeri Sakura itu. Ia banyak belajar dari petani di sana . Menurutnya petani di Jepang itu memiliki disiplin dan wawasan pertanian serta mekanisasi pertanian yang memudahkan mereka dalam kegiatan bertani. Setiap tahun di Jepang selalu diciptakan prototype untuk pengembangan teknologi pertanian sehingga memudahkan untuk membudidaya dan pengolahan hasil pertanian.

"Sangat berbeda sekali dengan petani di Indonesia. Petani di Indonesia belum membuat rencana kegitan pertanian mereka secara terjadwal. Dari segi wawasan, petani di Indonesia rata rata adalah petani turunan yang keinginan untuk belajar pertanian masih minim," kata dia.

Bersama kawan-kawannya ia akan membenahi kualitas SDM dan mengubah pola pikir masyarakat. Masyarakat selaku petani menjadi konsumen sendiri dan bukan menjadi produsen sayuran.

"Pelan-pelan kami ingin mengubah hal tersebut," kata dia.

Kendala Pertanian di Kecamatan Sabak Auh, khususnya di kampung Sungai Tengah, apabila terjadi kemarau panjang mengakibatkan gagal panen. Selama ini para petani berinisiatif sendiri mengairi sawah dan tanamannya pada malam hari.

"Kami berharap adanya proyek irigasi yang bias mengairi sawah yang mengandalkan tadah hujan," kata dia.

Selain itu, ia berharap adanya regulasi mengenai mudahnya permodalan bagi petani yang ingin menggarap lahan pertanian. Menurut dia, Program KUR (Kredit Usaha Rakyat) itu hadir belum untuk petani.

Baca: Istri di Riau Suruh Orang Lain Aniaya Suaminya, Korban Tewas Setelah Dibawa ke Puskesmas Siak

Baca: Gagalkan Peredaran 30 Kilogram Sabu, Petugas BNNP Riau Buntuti Pelaku Sejak dari Kos-Kosan

Pada 2018 lalu pihaknya menerima bantuan dari dinas terkait berupa alat mesin pertanian untuk mengolah lahan. Kemudian pinjam pakai lahan milik Pemda seluas 2 hektar di kampung Sungai Tengah, Sabak Auh.

"Kalau bisa pemerintah perhatian dong ke para petani muda. Berikan modal, berikan pembinaan, supaya banyak petani muda yang tercipta di kabupaten Siak ini," kata dia. (tribunsiak.com/mayonal putra)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved