Kamis, 16 April 2026
Pemko Pekanbaru
Super Hub Pemko Pekanbaru

Pasca Soekarno Lengser, Dua Lagu Ini Dilarang Dinyanyikan Lantaran Dinilai Berbau PKI

Semua atribut yang berbau partai berhaluan di Uni Soviet (sekarang Rusia) tersebut dilarang keras sesaat setelah lengsernya Sukarno sebagai presiden.

Pasukan Cakrabirawa 

Semua atribut yang berbau partai berhaluan di Uni Soviet (sekarang Rusia) tersebut dilarang keras sesaat setelah lengsernya Sukarno sebagai presiden.

TRIBUNPEKANBARU.COM - Sejarah kelam pembantaian massal saat peristiwa G30S/PKI masih terekam sampai saat ini oleh beberapa saksi hidup di masa itu.

Pemberantasan terhadap PKI dan pengikutinya terjadi di mana-mana di seluruh pelosok negeri.

Semua atribut yang berbau partai berhaluan di Uni Soviet (sekarang Rusia) tersebut dilarang keras sesaat setelah lengsernya Sukarno sebagai presiden.

Dikutip dari Sosok.ID, salah satunya lagu genjer-genjer, yang dianggap sebagai sebuah lagu yang menceritakan pembantaian tujuh pahlawan revolusi kala itu.

Baca: Dapat Kiriman Foto Alat Kelamin Dari ABG, Pria Ini Malah Protes Karena Bentuknya Tak Sesuai Harapan

Namun bukan hanya lagu itu saja yang dilarang beredar dan diperdengarkan untuk khalayak ramai.

Dalam film yang mengisahkan mengenai pembantaian tujuh jenderal berjudul "Pengkhianatan G30S/PKI" (1984), usai membantai perwira Angkata Darat di Lubang Buaya, lagu ini diputar.

Ormas Pemuda Rakyat digambarkan menyanyikan lagu ini dan diringi dengan tarian Genjer-genjer yang juga di cap sebagai lagu PKI.

Lagu ini berjudul "Darah Rakyat", namun siapa penciptanya masih samar terlihat.

Ada yang mengkaitkan nama Legiman Hardjono sebagai penggubah lagu tersebut, namun belum ada kepastian yang tepat.

Baca: Eka Ditemukan Tewas di Kamar Hotel Dengan Telinga Ditutupi Headset Yang Terhubung Ke Android

Sebuah catatan sejarah menuliskan bahwa lagu ini pernah dinyanyikan oleh ribuan orang saat diadakan rapat raksasa di Lapangan Ikada.

Lagu itu dikumandangkan saat kedatangan Sukarno bersama Tan Malaka dan Hatta serta beberapa menteri pemerintahan saat itu.

Dalam pidatonya yang didatangi oleh ribuan rakyat tersebut Sukarno meminta dukungan kepada rakyat untuk Negara yang baru terbentuk tersebut.

Dalam buku berjudul "The Blood of The People: Revolution and The End of Traditional Rule in Northern Sumatra (1979)", lagu ini juga menjadi salah satu nyawa di sebuah organisasi di tanah melayu.

Baca: Dicky Mahasiswa Unibos Korban Tabrak Mobil Polisi Diangkat Anak oleh Kapolda Sulsel

Parti Kebangkitan Melayu Malaya (PKMM) yang berdiri pada Oktober 1945 yang kemudian dinyatakan terlarang karena termasuk salah satu partai berhaluan kiri.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved