Masih Awal Tahun, di Dumai Sudah Ada 8 Kasus Demam Berdarah

Dinas Kesehatan Dumai terus mengajak warga untuk bergotong-royong membersihkan lingkungan agar jentik nyamuk tak berkembang.

Masih Awal Tahun, di Dumai Sudah Ada 8 Kasus Demam Berdarah
TribunPekanbaru/Melvinas Priananda
Petugas melakukan fogging atau pengasapan beberapa waktu lalu untuk membunuh nyamuk penyebar DBD. 

tribunpekanbaru.com - Dinas Kesehatan Dumai menyebut, di awal tahun 2020 ini sudah ada kasus positif Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kota Dumai. Hal itu disampaikan Plt Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Dumai, Syahrinaldi, didampingi Kabid Pengendalian dan Pemberantasan Penyakit (P2P), Nurbaiti.

"Di awal tahun ini kami mendapatkan laporan dari RSUD Dumai, ada 8 orang yang positif DBD," kata Syahrinaldi, Rabu (22/1).

Dia lantas mengimbau masyarakat tetap waspada agar tidak terjangkit DBD. Karena menurutnya, angka penderita DBD terus naik dari tahun ke tahun. Begitu pula di Kota Dumai, jumlah penderitanya terus meningkat setiap tahun, meski angkanya belum menyentuh angka Kejadian Luar Biasa (KLB).

"KLB baru bisa ditetapkan bila peningkatan terjadi dua kali lipat dari tahun sebelumnya. Alhamdulillah di Dumai belum sentuh KLB DBD," terangnya.

Dikatakan, sepanjang 2018 jumlah pasien positif DBD berjumlah sekitar 300 orang, lalu di tahun 2019 angkanya meningkat menjadi 445 orang. Kemudian di awal tahun 2020 ini, data dari RSUD Dumai sudah ada 8 orang yang dilaporkan positif terjangkit DBD, dan telah menjalani perawatan di RSUD Kota Dumai.

Syahrinaldi menerangkan, atas temuan positif DBD di awal tahun 2020 ini, Dinkes Dumai langsung memimpin kegiatan gotong-royong dan sosialisasikan PSN atau Pemberantasan Sarang Nyamuk, dengan melibatkan pihak kelurahan dan Puskesmas setempat.

"Kamis (23/1) ini kami akan melakukan gotong-royong di Kelurahan Dumai Kota dan Kelurahan Rimba Sekampung. Sebelumnya kami sudah melaksanakan gotong-royong juga di Kelurahan Bukit Datuk dan Kelurahan Pangkalan Sesai. Gotong-royong ini salah satu upaya untuk pencegahan penyakit DBD," tuturnya.

Selain gotong-royong, Dinkes Dumai juga membagikan bubuk abate untuk membasmi jentik kepada masyarakat secara gratis. Bubuk ini ditebar di dalam penampungan air untuk membunuh jentik-jentik yang ada di dalamnya.

Syahrinaldi menilai, DBD bisa terjadi dan berkembang akibat kurangnya kesadaran masyarakat untuk hidup bersih. Nyamuk aedes aegypti yang menularkan penyakit ini, suka berkembang biak di lingkungan yang banyak barang bekas dan air tergenang.

Terbukti, dalam gotong-royong yang telah dilaksanakan, kata Syahrilandi, pihaknya menemukan kaleng bekas dan plastik bekas air mineral yang menampung air di dalamnya dan sudah ada jentik. Ini tentu sangat berbahaya sebab nyamuk aedes berkembang biak di tempat seerti itu.

"Tidak bosan kami mengimbau masyarakat agar rutin membersihkan bak penampungan air hujan, mengubur barang bekas yang dapat menampung air," katanya.

Disebutkan, telur nyamuk aedes aegypti bisa bertahan selama enam bulan. Jika musim hujan tiba, telur berubah menjadi larva, pupa, dan tahap dewasa. Rentang hidup nyamuk dewasa berkisar dua minggu sampai satu bulan, tergantung kondisi lingkungan.

Nyamuk ini sangat cepat berkembang biak di musim hujan dengan memanfaatkan genangan air atau bak-bak penampungan air. (dkp)

Penulis: Donny Kusuma Putra
Editor: rinaldi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved