Menlu Iran Minta AS Berhenti Bermimpi, Tanggapi Rencana AS yang Ingin Perpanjang Embargo Senjata
Menanggapi rencana untuk memperpanjang masa embargo senjata yang bakal berakhir tahun ini, Iran meminta AS untuk "berhenti bermimpi".
TRIBUNPEKANBARU.COM, TEHERAN - The New York Times mewartakan, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS), Mike Pompeo bersiap untuk mengajukan dasar argumen bahwa mereka masih anggota perjanjian nuklir 2015.
Langkah itu disebut bagian dari strategi untuk menekan Dewan Keamanan PBB guna memperpanjang embargo senjata terhadap Iran, atau menjatuhkan sanksi berat.
Menanggapi rencana untuk memperpanjang masa embargo senjata yang bakal berakhir tahun ini,
Iran meminta AS untuk "berhenti bermimpi".
Perseteruan dua negara itu kembali memanas setelah pada 2018, Presiden Donald Trump memutuskan keluar dari kesepakatan nuklir.
• WADUH, Orang Kaya Masuk Daftar Penerima Bansos Covid-19, Diskopdagrin Kuansing Riau Kembali Mendata
• Facebook Messenger Rooms Mirip Aplikasi Zoom, Akomodir hingga 50 Peserta, Bagaimana Cara Kerjanya?
• Bayi Tertukar Saat Lahir Terungkap 27 Tahun Kemudian,Ibu Gagal Tes Transplantasi Hati untuk Anaknya
Kesepakatan di era pendahulunya, Barack Obama, itu bernama Rencana Aksi Komprehensif Gabungan (JCPOA), di mana Trump kemudian menjatuhkan serangkaian sanksi.
Dilansir AFP Senin (27/4/2020), Menteri Luar Negeri Iran Mohammed Javad Zarif merespons di Twitter mengenai rencana Pompeo itu.
Dalam kicauannya, Zarif menerangkan bahwa Pompeo dan "bosnya", yakni Trump, mengumumkan keluar dari JCPOA pada dua tahun lalu.
"Mereka bermimpi bahwa 'tekanan maksimum' mereka bakal membawa kami bertekuk lutut. Kini setelah gagal, mereka mengklaim masih menjadi peserta JCPOA," sindir Zarif.
"Berhentilah bermimpi. Bangsa Iran selalu memutuskan nasib mereka sendiri," tegas Menteri Luar Negeri sejak 2013 tersebut.
Selain AS, JCPOA yang diteken di 2015 juga menjadi kesepakatan Teheran dengan lima negara lainnya, Inggris, China, Perancis, Jerman, dan Rusia.
Perlu Tanggung Jawab Halaman Selanjutnya Kesepakatan itu memberikan kelonggaran sanksi.
Kesepakatan itu memberikan kelonggaran sanksi bagi Iran, di mana sebagai gantinya mereka harus mengurangi produksi nuklir.
Ketika Washington akhirnya memutuskan keluar, Iran langsung merespons dengan perlahan meninggalkan JCPOA, seraya menekankan mereka selama ini sudah mematuhinya.
AS, yang menuduh Iran sudah melanggar komitmen itu, ingin mencegah berakhirnya embargo senjata sesuai Resolusi Dewan Keamanan PBB pada Oktober ini.
The Times melaporkan, Pompeo ingin mencapai resolusi baru, di mana isinya berupa larangan semua negara memasarkan senjatanya ke Iran.
Untuk itu, dia harus menyetujui proposal yang menekankan bahwa Negeri "Uncle Sam" masih menjadi "negara peserta" JCPOA 2015. Namun, Teheran bukan tinggal diam.
Mereka menuding pemerintahan Trump itu sudah melanggar Resolusi 2231 dengan keluar dari JCPOA. (Kompas.com)
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "AS Ingin Perpanjang Embargo Senjata, Iran: Berhenti Bermimpi"
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/pekanbaru/foto/bank/originals/mohammed-javad-zarif.jpg)