Profesor Penjual Bebek, Ternyata Pentolan Teroris, Punya Bunker Senjata Rakitan dan Ahli Membuat Bom
Pria satu ini mendapatkan gelar profesor tidak melalui jalur pendidikan formal, namun melalui keahliannya membuat bom dan senjata rakitan
Penulis: pitos punjadi | Editor: Nolpitos Hendri
TRIBUNPEKANBARU.COM - Pria satu ini mendapatkan gelar profesor tidak melalui jalur pendidikan formal, namun melalui keahliannya membuat bom dan senjata rakitan berbagai model.
Pria yang sempat menjadi buronan Densus 88 ini ahli dalam membuat senjata rakitan manual ataupun otomatis.
Bahkan, ia bisa membuat bom dalam berbagai bentuk, mulai dari berbentuk senter hingga termos.
Tidak itu saja, bahkan ia ahli dalam menyesuaikan diri dengan wilayah tempat ia melarikan diri.
Pria itu bernama Taufik Bulaga alias Upik Lawanga, ia merupakan pentolan kelompok terorism Jaringan Islamiyah.
Tim Detasemen Khusus atau Densus 88 Anti-teror menangkap terpidana terorisme Taufik Bulaga alias Upik Lawanga di Lampung pada 23 November 2020 lalu.
Upik Lawanga merupakan pentolan kelompok teroris Jaringan Islamiah yang terkenal sebagai penerus dokter Azhari.
Kepala Divisi Humas Polri Irjen Pol Argo Yuwono menyebut tersangka teroris Jamaah Islamiyah (JI) Upik Lawanga yang ditangkap di Lampung, dijuluki sebagai seorang Profesor.
Menurut Argo, julukan tersebut diberikan karena tersangka dikenal memiliki keahlian membuat bom dan senjata rakitan.
Tak hanya manual, akan tetapi tersangka mampu membuat senjata rakitan otomatis.
"Upik ini julukannya di antara mereka itu sebagai seorang profesor, kenapa disebut profesor? karena Upik ini ahli membuat bom high explosive dan senjata rakitan yang secara manual maupun otomatis," kata Irjen Argo di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Jumat (18/12/2020).
Tak hanya itu, kata Argo, kemampuan Upik Lawanga yang dijuluki professor dalam tindak pidana terorisme juga tidak bisa dipandang sebelah mata.
Dia dianggap sosok bisa cepat beradaptasi dengan wilayah persembunyiannya.
"Tersangka Upik ini juga disebut profesor karena bisa melihat, mempelajari karakteristik wilayahnya. Misalnya di Poso banyak orang menggunakan senter yang kalau malam untuk cahaya penerangan. Jadi yang bersangkutan membuat bomnya seperti senter," ungkapnya.
"Supaya orang-orang tidak curiga, kalau dia membawa bom berupa senter. Termos juga ada. Misal masyarakat sering bawa termos ke kebun, dia juga bawa (bom) termos supaya orang tidak curiga," sambungnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/pekanbaru/foto/bank/originals/profesor-penjual-bebek-ternyata-pentolan-teroris-punya-bunker-senjata-rakitan-dan-ahli-membuat-bom.jpg)