Rabu, 22 April 2026
Pemko Pekanbaru
Super Hub Pemko Pekanbaru

Suara Gaduh Panci yang dipukul dan Klakson Mobil Menggema, Aksi Protes Antikudeta Myanmar

Pengunjuk rasa membuat suara gaduh dari panci dan klakson mobil, bunyinya bergema di kota terbesar Myanmar, Yangon

Editor: Nurul Qomariah
DNA India/AFP
Aung San Suu Kyi 

TRIBUNPEKANBARU, MYANMAR - Tergulingnya pemerintah terpilih Aung San Suu Kyi oleh junta militer Myanmar membuat aksi protes mulai bermunculan.

Gelombang pertama protes terhadap kudeta militer yang menggulingkan mulai terjadi Selasa malam (2/2/2021).

Protes dilakuan dengan memukuli panci, wajan dan peralatan masak lainnya.

Seperti dikutip dari Reuters, pengunjuk rasa membuat suara gaduh dari panci dan klakson mobil, bunyinya bergema di kota terbesar Myanmar, Yangon.

Partai pemenang Nobel Perdamaian yang ditahan itu menyerukan pembebasannya oleh junta yang merebut kekuasaan pada Senin (1/2/2021).

Para demonstran juga menuntut pengakuan atas kemenangannya dalam pemilihan 8 November.

Pihak militer menahan Suu Kyi di lokasi yang awalnya dirahasiakan.

Tetapi, seorang pejabat senior dari Liga Nasional untuk Demokrasi (NLD), mengatakan pemimpinnya diketahui berada di bawah tahanan rumah di ibu kota Naypyidaw.

Langkah itu merupakan bagian terakhir dari perebutan kekuasaan militer di negara yang dirusak selama beberapa dekade oleh pemerintahan militer.

Militer telah menolak untuk menerima kemenangan telak pemilihan NLD, dengan alasan tuduhan penipuan yang tidak berdasar.

Masyarakat membuat suara gaduh dari panci dan klakson mobil, bunyinya bergema di kota terbesar Myanmar, Yangon. (AFP PHOTO/STR)
Masyarakat membuat suara gaduh dari panci dan klakson mobil, bunyinya bergema di kota terbesar Myanmar, Yangon. (AFP PHOTO/STR) (istimewa)

Tentara menahan para pemimpin NLD, menyerahkan kekuasaan kepada komandannya, Jenderal Min Aung Hlaing.

Militer Myanmar juga memberlakukan keadaan darurat selama setahun penuh.

Utusan Myanmar dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Christine Schraner Burgener, mendesak Dewan Keamanan "secara kolektif mengirimkan sinyal yang jelas untuk mendukung demokrasi di Myanmar."

Dewan sedang merundingkan kemungkinan pernyataan yang akan mengutuk kudeta tersebut, menyerukan militer untuk menghormati aturan hukum dan hak asasi manusia.

Segera membebaskan mereka yang ditahan secara tidak sah, kata para diplomat.

Namun untuk pernyataan semacam itu, konsensus dibutuhkan dalam dewan yang beranggotakan 15 anggota tersebut.

Sumber: Kompas.com
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved