Memilukan, Kisah 2 Tahun Kompol Aditya Hingga Kini Terbaring, Ulah Keji Perguruan Pencak Silat PSHT
Kehidupan yang memilukan dialami oleh Mantan Kasat Reskrim Polres Wonogiri, Kompol Aditya Mulya Ramdhani, karena ulah perguruan pencak silat PSHT.
“Karena laboratorium stem cell ada di sana,” lanjutnya.
Di rumah sakit tersebut, Dewi bercerita suaminya sudah 4 kali menjalani terapi dari jadwal total 20 kali.
Dia berharap biaya stem cell dapat dibiayai Rumah Sakit Polri.
“Karena uang bantuan yang dikelola oleh rumah sakit Polri masih ada untuk 5 kali stem cell lagi,” sambung Dewi.
Pihak keluarga berharap terapi ini bisa menyembuhkan Kompol Aditia.
Pascajadi korban penganiayaan massa tersebut, Kompo Aditia sempat mendapat perawatan di Singapura.
Tetapi, belum banyak perubahannya hingga sekarang.
Selesai dirawat di negara tetangga itu, Kompol Aditia menjalani perawatan di rumahnya di Kota Semarang.
Pelaku Mengaku Tak Tahu Korban Polisi
Beberapa tersangka kasus pengeroyokan mantan Kasatreskrim Polres Wonogiri AKP Aditya Mulya Ramdhani mengaku tidak tahu kalau yang dikeroyok adalah seorang anggota polisi.
Para tersangka mengira korban adalah anggota perguruan pencak silat PSH Winongo.
"Saya tidak tahu kalau dia seorang anggota polisi. Setahu kami dia itu anggota STK (Sedulur Tunggal Kecer),” kata tersangka berinisial AP dalam jumpa pers kasus pengeroyokan mantan Kasatreskrim di Mapolres Wonogiri, Rabu (29/5/2019).
AP merupakan satu dari sejumlah tersangka yang mengeroyok Aditya.
Tersangka AP ditahan bersama tersangka lainnya.
Sementara tersangka yang masih anak di bawah umur tidak ditahan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/pekanbaru/foto/bank/originals/memilukan-kisah-2-tahun-kompol-aditya-hingga-kini-terbaring-ulah-keji-perguruan-pencak-silat-psht.jpg)