Senin, 13 April 2026
Pemko Pekanbaru
Super Hub Pemko Pekanbaru

TERUNGKAP, Putra Mahkota Arab Saudi Ternyata Restui Pembantaian Jurnalis

Putera Mahkota Arab Saudi, Pangeran Mohammed bin Salman disebut menyetujui pembunuhan jurnalis asal Arab Saudi, Jamal Khashoggi di Kedutaan Arab Saudi

Penulis: Guruh Budi Wibowo | Editor: Rinal Maradjo
BANDAR AL-JALOUD / SAUDI ROYAL PALACE / AFP
Putra Mahkota Kerajaan Arab Saudi, Mohammed bin Salman. 

TRIBUNPEKANBARU.COM - Putera Mahkota Arab Saudi, Pangeran Mohammed bin Salman (MBS) disebut menyetujui pembunuhan sadis jurnalis asal Arab Saudi, Jamal Khashoggi di Kedutaan Besar Arab Saudi di Istanbul, Turki pada tahun 2018 lalu.

Kabar tersebut dilansir oleh Kantor Direktur Intelijen Nasional AS.

Dalam laporan yang diposting di situsnya, seperti dikutip Tribunpekanbaru.com dari Daily Sabah pada Sabtu (27/2/2021), disebutkan bahwa pembunuhan terhadap wartawan berkewarganegaraan Amerika Serikat itu di diperintahkan oleh Mohammed bin Salman.

"Kami menilai bahwa Putra Mahkota Arab Saudi Muhammad bin Salman menyetujui operasi di Istanbul, Turki untuk menangkap atau membunuh Jamal Khashoggi," kata Kantor Direktur Intelijen Nasional AS.

Khashoggi, wartawan di Washington Post tersebut dibunuh dan dipotong-potong oleh sebuah operasi intelijen yang terkait dengan Mohammed bin Salman di kantor Kedutaan Besar Arab Sauid di Istanbul.

VIDEO: Viral Arab Saudi Turun Salju, Sejumlah Unta Kebingungan Terjebak dalam Dinginnya Badai

Joe Biden Tak Akan Jual Senjata ke Arab Saudi, TERNYATA Senjata Rusia Tak Kalah Lebih Ganas

"Dasar penilaian kami atas keterlibatan Mohammed bin Salman adalah peran dan fungsi dia sebagai Putra Mahkota yang berkuasa secara de facto atas pengambilan keputusan di Arab Saudi. Hal itu terlihat dari keterlibatan langsung penasihat utama Mohammed bin Salman, Saud Al-Qahtani dalam operasi tersebut, "tambahnya Kantor Direktur Intelijen Nasional AS.

"Sejak 2017, Putra Mahkota memiliki kendali mutlak atas organisasi keamanan dan intelijen Kerajaan Arab Saudi, sehingga sangat tidak mungkin pejabat Arab Saudi akan melakukan operasi seperti ini tanpa izin Putra Mahkota," kata laporan itu.

"Putra Mahkota memandang Khashoggi sebagai ancaman bagi Kerajaan dan secara luas mendukung penggunaan tindakan kekerasan jika perlu untuk membungkamnya," tambahnya.

Pernyataan yang dilansir oleh Kantor Direktur Intelijen Nasional AS sangat mengejutkan, meningat Arab Saudi merupakan sekutu utama Amerika Serikat di Timur Tengah.

Apalagi saat ini, Amerika Serikat tengah menghadapi berbagai ancaman dari Iran yang tentunya membutuhkan dukungan kompatriot mereka di Timur Tengah, dan salah satunya adalah Arab Saudi.

Direktur Intelijen Nasional , Avril Haines mengatakan, rilis itu dilakukan sebagai bentuk komitmen untuk mematuhi undang-undang pertahanan 2019 yang mewajibkan kantornya untuk merilis dalam waktu 30 hari laporan yang tidak diklasifikasikan termasuk di antaranya pembunuhan Jamal Khashoggi.

Usai rilis tersebut, Presiden AS Joe Biden langsung menghubungi Raja Salman, ayah dari Mohammed bin Salman pada Kamis (25/2/2021).

Dalam pembicaraan itu, Joe Biden dan Raja Salman kembali  menegaskan aliansi mereka yang telah berusia puluhan tahun dan tetap komitmen dengan kerja sama yang telah disepakati.

Sebelumnya, di masa kepimpinan Donald Trump, laporan rahasia terkait pembunuhan Jamal Khashoggi itu ditutup rapat-rapat.

Donald Trump mengatakan, kerja sama dengan Arab Saudi di tengah meningkatnya ketegangan dengan Iran adalah kepentingan yang lebih besar ketimbang persoalan pembunuhan Jamal Kashoggi. 

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved