Rabu, 29 April 2026
Pemko Pekanbaru
Super Hub Pemko Pekanbaru

Kejamnya Netizen Indonesia, Ramai-ramai Serang Akun Levy Rozman, Gothamchess Sampai Private Akun

Levy Rozman, gamer catur online dunia dengan ID GothamChess, menggembok atau mengubah akun menjadi privat

Tayang:
Editor: Muhammad Ridho
int
akun media sosial GothamCess sempat dirundung warganet Indonesia setelah pemberitaan pertandingan Levy dan ayahnya semakin gencar. 

Tangkapan layar di kolom komentar salah satu unggahan Microsoft lainnya yang dibanjiri komentar negatif berbahasa Indonesia.(Instagram/@microsoft)

Dalam survei tersebut, Indonesia menempati urutan ke-29 dari 32 negara. Artinya, Indonesia masuk sebagai salah satu negara dengan tingkat kesopanan digital yang tergolong rendah di dunia. Bahkan, di kawasan Asia Tenggara, Indonesia berada di urutan terbawah.

Terlepas dari hasil survei Microsoft, perilaku warganet Indonesia yang kerap menyampaikan komentar dengan cara kurang tepat sejatinya mudah ditemui di media sosial. Bahkan, hal ini dirasakan langsung oleh pengelola akun media sosial.

"Banyak yang kasar sebenarnya, karena kadang sudah berusaha bikin konten, tapi ngatainnya suka sembarangan," aku Chika, salah satu admin akun media sosial sebuah startup.

Chika menambahkan, terkadang ada pula komentar kritik yang disampaikan dengan sopan.
Hal yang sama juga dirasakan oleh salah satu admin akun media sosial salah satu media di Indonesia, yang enggan disebutkan namanya.

Dia mengatakan bahwa serbuan komentar negatif kerap membanjiri postingan berita kontroversial, seperti pertikaian selebriti atau tokoh publik lain.

"Respons netizen Indonesia cepat banget untuk berita yang berbau SARA dan kontroversi," katanya.

Menggambarkan keadaan sebenarnya

Persepsi bahwa warganet Indonesia tidak sopan ketika berkomunikasi di dunia maya juga diamini pengamat media sosial, Ismail Fahmi.

Pendiri Drone Emprit dan Media Kernels tersebut mengatakan bahwa survei Microsoft menggambarkan kondisi komunikasi di media sosial Indonesia saat ini.

Menurutnya, banyak orang berani "asal bunyi" di media sosial, karena pengguna merasa lebih bebas dan tanpa rasa sungkan menyampaikan komentar pedas, karena tidak bertatap muka langsung.

Pengamat psikososial dan budaya, Endang Mariani juga berpendapat bahwa orang Indonesia lebih berani menyatakan pendapat, termasuk komentar negatif, lewat dunia maya karena bisa bersembunyi di balik identitas aslinya.

"Tanpa adanya beban tanggung jawab, baik moral maupun material, tentu akan mendorong seseorang untuk berani mengomunikasikan apa yang terlintas dalam hati maupun pikirannya secara spontan, tanpa harus mempertimbangkan konsekuensinya," jelas Endang kepada KompasTekno.

Artikel ini telah tayang di tribun-timur

Halaman 3/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved