Budidaya 1 Hektar Porang, Petani Ini Raup Rp 3 Miliar, Begini Itung-itungannya
Ekspor porang sudah menembus Jepang, Korea, China, bahkan mulai berkembang ke Eropa, Amerika dan Australia.
TRIBUNPEKANBARU.COM - Budidaya Porang saat ini menjadi sektor yang menjanjikan. Selain harganya yang mahal, Porang juga merupakan komoditi ekspor.
Belasan negara sudah menunggu Porang asal Indonesia.
Bahkan Porang diprediksi bakal menggeser dominasi Kelapa Sawit.
Hal tersebut diungkapkan Idris Tampubolon, petani dan pakar porang dari Porang Sleman Boy saat ditemui di Forum Diskusi Porang di Jalan Balai Desa, Pasar 12 Patumbak, Kecamatan Patumbak, Deli Serdang, akhir pekan lalu.
Pria kelahiran Kisaran, Sumatera Utara, dan besar di Samarinda, Kalimantan Timur, ini penuh antusias menjelaskan potensi ekonomi budidaya porang.
"Sumut ini sangat potensial. Lahan luas. Istilahnya pemodal di sini banyak. Kekurangannya hanya ilmu pengetahuan budidaya porang. Saya sudah teliti itu di Sleman sampai 3 tahun dan pola itulah yang saya bawa ke Sumut ini. Dengan lahan 1 hektare, katakanlah modal Rp 360 juta, bisa hasilkan Rp 3 miliar keuntungan bersih di dalam dua musim (18 bulan)," katanya.
Cara dapat untung dari porang Idris kemudian menjelaskan bagaimana cara mendapatkan keuntungan lebih dari Rp 3 miliar dari mengolah lahan 1 hektare dengan tanaman porang.
Biaya pengolahan lahan sekitar Rp 72,6 juta, biaya pemupukan dan perawatan Rp 45,6 juta, biaya bibit dan upah tanaman Rp 163 juta, total biaya panen Rp 28 juta dan total biaya tenaga kerja Rp 48 juta.
Dikatakannya, pada musim pertama, hasilnya bisa mencapai Rp 300 juta.
Musim kedua naik menjadi Rp 960 juta. Sementara itu, hasil umbi basah dua musim Rp 2 miliar dengan total penghasilan Rp 3,34 miliar.
Sehingga pendapatan bersih dari total penghasilan dengan dikurangi modal adalah sebesar Rp 2,98 miliar.
Idris menambahkan, dalam 1 hektare, porang dengan pola Sleman Boy, yakni penanaman secara modern dan akal sehat ilmu pertanian, 1 hektare bisa menghasilkan 208 ton umbi dan 3,5 ton katak.
"Bandingkan dengan sawit. Satu hekatre porang dengan Sleman Boy, hasilnya lebih banyak dibanding 100 hekatre sawit yang umurnya 20 tahun maksimal," katanya.
Begitu halnya, menanam porang tidak perlu ada penebangan liar karena tidak membutuhkan lahan luas seperti sawit.
"Satu keluarga dapat Rp 2 miliar tak sampia 2 tahun kan cukup 1 hektare. Bahkan, dengan lahan 400 meter persegi dengan modal Rp 12 juta dalam 2 tahun itu bisa menghasilkan Rp 120 juta," ujar pria yang meninggalkan profesi sebagai konsultan pajak demi porang ini.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/pekanbaru/foto/bank/originals/tanaman-dan-umbi-porang.jpg)