Kuburan Bayi Vampir Buat Arkeolog Merinding, Paling Tua Berusia 3 Tahun

Tim dari Universitas Arizona dan Universitas Stanford serta para peneliti dari Italia, menemukan apa yang disebut "penguburan vampir" pada tahun 2018.

Capture express.co.uk
tulang belulang bayi vampir yang ditemukan arkeolog 

TRIBUNPEKANBARU.COM - Para peneliti menggali di situs penggalian di seluruh dunia sering terjadi pada penemuan yang mengerikan, mengerikan dan mengejutkan. 

Mereka yang bekerja di Amerika Selatan telah menggali kuburan massal dimana orang-orang di Inggris telah menemukan raja di bawah tempat parkir; dan orang-orang di Siberia bahkan telah menemukan mumi mammoth berbulu.

Para arkeolog menambahkan temuan menyeramkan lainnya ke repertoar mereka ketika menggali di situs Romawi kuno di Italia yang mereka yakini digunakan untuk mengubur mereka yang dianggap memiliki kekuatan gaib.

Apa yang mereka temukan sangat mengejutkan: sisa-sisa kerangka seorang anak dengan batu yang sengaja diletakkan di mulutnya.

Dilansir dari Express.co.uka, menurut para peneliti, batu itu sengaja dimasukkan sebagai bagian dari ritual pemakaman yang dirancang untuk menghentikan penyakit dan tubuh agar tidak naik setelah dikubur.

Tim dari Universitas Arizona dan Universitas Stanford serta para peneliti dari Italia, menemukan apa yang disebut "penguburan vampir" pada tahun 2018.

Tidak ada yang serupa telah ditemukan sejak itu.

Profesor David Soren, yang telah menggali situs di Teverina sejak 1987, menggambarkannya sebagai "sangat menakutkan dan aneh".

"Saya belum pernah melihat yang seperti itu. Secara lokal, mereka menyebutnya 'Vampir dari Lugnano" katanya.

Penggalian itu dilakukan di La Necropoli dei Bambini, atau Pemakaman Anak-anak, di situs pemakaman yang berasal dari wabah malaria pada 400 M yang menewaskan banyak bayi dan anak kecil yang rentan di daerah tersebut.

Sebelumnya, para arkeolog percaya kuburan itu khusus untuk bayi dan janin yang belum lahir.

Mayat tertua yang ditemukan dari lebih dari 50 pemakaman sebelum penggalian Prof Soren adalah seorang gadis berusia tiga tahun.

Namun, penemuan bocah sepuluh tahun itu belum bisa membuktikan bahwa lebih banyak lagi, anak-anak yang lebih besar juga dimakamkan di sana.

Para peneliti dapat menentukan usia anak melalui analisis perkembangan giginya, tetapi tidak dapat menentukan jenis kelaminnya.

"Masih ada bagian dari kuburan yang belum kami gali, jadi kami tidak tahu apakah kami akan menemukan anak-anak lain yang lebih tua." kata Jordan Wilson, seorang ahli bioarkeolog.

Halaman
12
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved