Jelang Peralihan Pengelolaan Blok Rokan, LAM Riau Ingatkan Petinggi Chevron: PR yang Belum Selesai
Jelang peralihan pengelolaan Blok Rokan pada 8 Agustus 2021 , LAM Riau ingatkan petinggi Chevron soal PR yang belum selesai
Penulis: Nasuha Nasution | Editor: Nolpitos Hendri
TRIBUNPEKANBARU.COM, PEKANBARU - Jelang peralihan pengelolaan Blok Rokan pada 8 Agustus 2021 , LAM Riau ingatkan petinggi Chevron soal PR yang belum selesai.
Ketua Umum Dewan Pimpinan Harian (DPH) Lembaga Adat Melayu Riau atau LAM Riau Datuk Seri Syahril Abubakar mengingatkan PT Chevron Pacific Indonesia (CPI) mengenai sejumlah persoalan yang masih belum terselesaikan oleh Chevron sehingga masih menjadi catatan bagi orang Riau dan menjadi PR (pekerjaan rumah) bersama untuk diselesaikan.
"Hal yang menjadi catatan bagi orang Riau seperti masalah tanah terkontaminasi minyak (TTM), tanah konsesi Chevron yang merupakan tanah adat yang hari ini dikuasai pihak-pihak lain, serta termasuk pancung alas," kata Ketua Umum DPH LAM Riau Datuk Seri Syahril saat berbicara pada teleconference melalui zoom meeting dengan sejumlah petinggi PT CPI, dari Balai Adat Melayu Riau.
Selain Datuk Seri Syahril, turut mengikuti teleconference tersebut para petinggi PT CPI yaitu Presiden Direktur PT CPI Albert Simanjuntak, Sr VP Corporate Affairs PT CPI Wahyu Budiarto, GM General Affairs and Operations Support PT CPI Sukamto Thamrin, dan Ketua Umum DPH LAMR Kepulauan Meranti yang juga Direktur Utama PT Negeri Melayu Bermarwah Datuk Seri Muzammil Baharuddin.
Menyinggung tanah konsesi Chevron yang dikuasai pihak-pihak lain tersebut, Datuk Seri Syahril menyebutkan mereka bukan mendapat izin dari Chevron atau Caltex tetapi masyarakat menerobos dan menduduki tanah konsesi tersebut.
"Hal ini menjadi PR juga bagi kita ke depan menyelesaikan bagaimana tanah konsesi yang pada awalnya merupakan tanah milik adat menjadi tugas kami yang tinggal di sini bersama PT PHR [PT Pertamina Hulu Rokan], Pemda baik Pemerintah Provinsi maupun Pemerintah Kabupaten/Kota dan termasuk juga LAMR.
Bagaimanapun sepahit-pahitnya atau sebaik-baiknya Chevron sudah mengambil kebijakan tentunya ada juga dampaknya,"kata Datuk Seri Syahril.
Datuk Seri Syahril berharap Chevron tidak saja meninggalkan Indonesia atau Riau tetapi berada di sini untuk bersama-sama menyelesaikan persoalan tersebut sesuai kesepakatan dengan pemerintah.
Chevron masih memiliki tanggung jawabnya dalam hal ini menyangkut tanah konsesi, TTM, dan juga termasuk pancung alas yang sedang dipertimbangkan untuk diajukkan.
"Kami kepada Pak Albert, Pak Wahyu tidak mengucapkan selamat jalan karena kita akan bersama-sama menyelesaikan ini sesuai kesepakatan kita dengan Pemerintah, Chevron tentu masih ada tanggung jawabnya dalam hal ini,"kata Datuk Seri.
Datuk Seri Syahril pada kesempatan tersebut atas nama LAMR baik di Majelis Kerapatan Adat (MKA) maupun Dewan Pimpinan Harian (DPH) LAMR mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada PT CPI atas kerja sama selama ini selama beroperasi di Provinsi Riau.
"Sedikit banyaknya terlepas dari ada yang lebih dan yang kurang sebagainya itu yang jelas kita sebagai orang Melayu merasakan kontribusi dari pihak Chevron bagi Indonesia khususnya Provinsi Riau sehingga berkembang seperti ini.
Tentunya ada jasa baik Chevron baik di bidang pendidikan, infrastruktur, dan dukungan-dukungan lainnya seperti pendirian rumah ibadah, sarana pendidikan dan lain-lain,"kata Datuk Seri Syahril.
Datuk Seri Syahril juga memberikan apresiasi pembangunan Sentra Budaya dan Ekonomi Kreatif bantuan Chevron yang belum lama ini diresmikan.
Menurutnya, walaupun secara nilai belum bernilai apa-apa bila dibandingkan dengan produksi minyak Chevron di Riau, keberadaannya telah memberi kesempatan kepada pengrajin, pelaku kuliner, berniaga dan mengembangkan seni kerajinannya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/pekanbaru/foto/bank/originals/pumping-unit-duri-field-di-blok-rokan.jpg)