Video Berita
Video Viral, Fenomena Alam "Langit Terbelah" di Pacitan, Ini Penjelasan BMKG
Sejumlah warganet berspekulasi bahkan percaya fenomena "langit terbelah" merupakan pertanda akan terjadinya gempa bumi.
TRIBUNPEKANBARU.COM - Sebuah video yang menampilkan fenomena alam disebut "langit terbelah" di Pacitan, Jawa Timur, menjadi viral di media sosial.
Keberadaan video tersebut membuat sejumlah warganet berspekulasi bahkan percaya fenomena itu merupakan pertanda akan terjadinya gempa bumi.
Lantas, bagaimana penjelasan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) terkait fenomena tersebut?
Video berdurasi 58 detik tersebut salah satunya diunggah oleh akun Facebook bernama Pacitan Network pada Sabtu (7/8/2021).
"Fenomena Langit Di Pacitan Jawa Timur," tulis pemilik akun tersebut.
Dalam video terdengar pengunggah memberikan pernyataan yang berisi penjelasan mengenai fenomena alam tersebut.
Seusai video tersebut viral, banyak warga yang menganggap jika fenomena tersebut merupakan tanda akan terjadinya gempa bumi.
Terkait fenomena penampakan awan putih yang membentuk garis panjang bak membelah langit itu, BMKG pun memberikan penjelasan.
Dikutip dari Kompas.com, Kepala Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Daryono mengatakan, ada dua dugaan terkait jenis awan unik berbentuk lurus di Pacitan.
Dugaan pertama, awan unik tersebut merupakan roll cloud atau awan gulung.
Awan yang termasuk langka, tetapi memang beberapa kali terjadi di beberapa tempat.
"Awan ini (terjadi) kerena ada pertemuan dua masa udara dengan kelembapan atau kandungan uap air yang berbeda, dua hal yang memungkinkan, dipengaruhi oleh pertemuan angin regional dengan angin laut atau darat atau terbentuk pada garis front dua masa udara yang berbeda kandungan uap airmya," jelas dia.
Sedangkan kemungkinan kedua, awan ini diduga terbentuk akibat lintasan pesawat jet.
Daryono menjelaskan, biasanya jika kejadian itu disebabkan oleh pesawat maka jejaknya relatif kecil dan diameter awannya lebih kuat dengan warna langit.
"Contrail (jejak uap air) ini umurnya sangat pendek biasanya dalam skala menit bisa hilang, bentuknya mirip awan cirrus," papar Daryono.