Kamis, 9 April 2026
Pemko Pekanbaru
Super Hub Pemko Pekanbaru

Curigai Moskow Terlibat Serangan Akustik "Sindrom Havana" CIA Peringatkan Rusia

Ketegangan Amerika Serikat dengan Rusia semakin memuncak setelah CIA mencurigai Rusia terlibat serangan "Sindrom Havana".

Penulis: Guruh Budi Wibowo | Editor: Ilham Yafiz
Rusia Today
Logo Lembaga intelijen Amerika Serikat, CIA 

TRIBUNPEKANBARU.COM - Ketegangan Amerika Serikat dengan Rusia semakin memuncak setelah CIA mencurigai Rusia terlibat serangan "Sindrom Havana".

Direktur Central Intelligence Agency (CIA) William Burns memperingatkan Rusia tentang konsekuensi jika negara itu terkait dengan dugaan serangan akustik yang disebut sebagai "Sindrom Havana," lapor Washington Post mengutip pejabat AS yang mengetahui urusan.

Burns menyampaikan pesan tersebut selama kunjungannya baru-baru ini ke Moskow, di mana ia membahas masalah tersebut dengan para pejabat senior dari badan-badan intelijen Rusia, kata laporan itu pada hari Rabu.

Direktur CIA memperingatkan para pejabat Rusia bahwa membahayakan personel diplomatik AS dan anggota keluarga mereka akan melampaui batas perilaku normal, kata laporan itu.

Peringatan itu tidak berarti bahwa Washington menuduh Moskow melakukan kegiatan-kegiatan memfitnah itu, tetapi fakta bahwa Burns menyampaikan pesan semacam itu menunjukkan bahwa CIA memiliki kekhawatiran tentang kemungkinan keterlibatan Kremlin, tambah laporan itu.

Moskow telah berulang kali membantah tuduhan keterlibatan dalam dugaan insiden serangan akustik.

Diplomat AS pertama kali didiagnosis dengan Sindrom Havana di Kuba pada 2016 dan kemudian di China pada 2018. Para diplomat mengatakan mereka mengalami suara menusuk yang menyebabkan efek kesehatan jangka panjang.

Diplomat AS di Rusia, Tajikistan, Austria dan di beberapa negara Afrika juga melaporkan mengalami gejala Sindrom Havana, termasuk mual dan pusing.

Pemerintah AS awalnya menyalahkan Rusia atas dugaan serangan akustik, tetapi Moskow menolak tuduhan itu sebagai tidak berdasar dan tidak masuk akal.

Pada bulan Juli, Burns mengatakan Rusia mungkin bertanggung jawab atas insiden tersebut tetapi menambahkan pemerintah AS tidak memiliki bukti untuk membuat keputusan akhir.

( Tribunpekanbaru.com )

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved