Minggu, 3 Mei 2026
Pemko Pekanbaru
Super Hub Pemko Pekanbaru

Beban Negara & Buat Malu! INILAH 6 BUMN Indonesia yang Punya Utang Menumpuk

Berdasarkan laporan, setidaknya, ada 6 perusahaan pelat merah yang tercatat terlilit utang puluhan hingga ratusan triliun.

Tayang:
Unsplash/Sharon McCutcheon
Foto Dolar AS. Saat ini Hutang Indonesia sudah mencapai ribuan Triliun Rupiah 

TRIBUNPEKANBARU.COM - Badan Usaha Milik Negara (BUMN) adalah tombak suatu negara dalam menopang perekonomian bangsa.

Kinerja BUMN ini menjadi penentu kondisi ekonomi.

Bagaimana jika BUMN malah punya utang yang menumpuk?

Berdasarkan laporan, setidaknya, ada 6 perusahaan pelat merah yang tercatat terlilit utang puluhan hingga ratusan triliun.

Berdasarkan catatan Kompas.com, 6 BUMN itu yakni PT Angkasa Pura I (Persero), PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk, PT PLN (Persero), PT Perkebunan Nusantara (Persero), PT Krakatau Steel (Persero) Tbk, dan PT Waskita Karya (Persero) Tbk.

Penyebab menumpuknya utang di BUMN-BUMN tersebut beragam, mulai dari karena proyek penugasan, dampak pandemi Covid-19, hingga akibat aksi korupsi terselubung oleh manajemen lama.

Berikut rincian 6 BUMN yang memiliki utang menumpuk:

1. PT Angkasa Pura I (Persero)

Kinerja keuangan Angkasa Pura I atau AP I menjadi sorotan paling teranyar. BUMN pengelola bandara ini ternyata memiliki utang jumbo mencapai sekitar Rp 35 triliun.

Tumpukan utang itu utamanya diakibatkan oleh pendapatan perseroan yang tergerus selama pandemi Covid-19. Pada saat bersamaan, AP I telah menggelontorkan banyak uang untuk melakukan ekspansi dengan membangun dan mengembangkan bandara.

Wakil Menteri BUMN Kartika Wirjoatmodjo mengatakan, saat ini rata-rata setiap bulannya AP I mengalami kerugian sebesar Rp 200 miliar. Ini membuat utang perseroan berpotensi terus bertambah, dan bisa mencapai Rp 38 triliun.

"Memang AP I sekarang tekanannya berat sekali,” ujar pria yang akrab disapa Tiko itu dalam rapat kerja dengan Komisi VI DPR RI, Kamis (2/12/2021).

Menurut Direktur Utama Angkasa Pura I Faik Fahmi, pandemi Covid-19 berdampak terhadap penurunan drastis trafik penumpang di 15 bandara kelolaan perseroan. Jumlah penumpang dari semula di 2019 mencapai 81,5 juta, di 2020 menjadi hanya 32,7 juta dan diperkirakan di 2021 hanya mencapai 25 juta penumpang.

Sementara dari sisi pengeluaran atau investasi, AP I telah menggelontorkan kurang lebih sekitar Rp 19,2 triliun untuk pembangunan dan pengembangan bandara nasional.

Bandara Internasional Yogyakarta (YIA) menjadi proyek yang paling banyak menghabiskan anggaran.

Sumber: Kompas.com
Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved