Kamis, 30 April 2026
Pemko Pekanbaru
Super Hub Pemko Pekanbaru

Herry Wirawan Ternyata Tempatkan Santriwati-santriwati yang Hamil di Rumah Khusus

Anak-anak yang menjadi korban pencabulan guru ngajinya ternyata mengurus diri secara mandiri bersama-sama di rumah yang disediakan oleh HW

Tayang:
Editor: Sesri
kolase Tribun Jabar
Herry Wirawan guru pesantren di bandung 

TRIBUNPEKANBARU.COM - Fakta-fakta baru kasus pemerkosaan yang dilakukan Herry Wirawan guru pesantren terkuak.

Aksi bejat Herry Wirawantersebut dilakukan sejak 2016 di Pesantren Manarul Huda dan di Madani Boarding School di Cibiru.

Jumlah korbannya 21 santri, delapan di antaranya hamil.

Herry Wirawan juga memperlakukan korban-korbannya tak manusiawi.

Ternyata korban yang hamil di minta tinggal di suatu tempat khusus sampai kondisinya pulih kembali.

Anak-anak yang menjadi korban pencabulan guru ngajinya di sebuah yayasan pendidikan di Cibiru, Bandung, ternyata mengurus diri secara mandiri bersama-sama di rumah yang disediakan oleh HW, pemilik yayasan yang juga pelaku pencabulan.

Baca juga: Terungkap Ritual Herry Wirawan Penuhi Hawa Nafsu, Dekati Telinga Santriwati, Bisikan Ini, Jadi Mau

Baca juga: Ternyata Bisikan Ustaz Herry Buat 12 Santriawati Klepek-klepek Dan Mau Berhubungan Badan

“Mereka ngurus diri mereka sendiri di sana, tidak ada pengurus yayasan, hanya dia (pelaku) yang ada, tidak ada orang lain,” jelas Ketua Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Kabupaten Garut Diah Kurniasari Gunawan

Bukan hanya soal memasak, menurut Diah, urusan menjaga anak hingga mengantar kawan mereka yang hendak melahirkan pun, dilakukan bersama-sama.

Jadi, menurut Diah mereka membagi tugas dari mulai memasak, mencuci dan menjaga anak.

“Ada yang mau melahirkan, diantar oleh mereka sendiri, saat ditanya mana suaminya, alasannya suaminya kerja di luar kota, jadi begitu selesai melahirkan, bayar langsung pulang, tidak urus surat-surat anaknya,” katanya.

Menurut Diah, selain tempat mereka belajar di Cibiru yang juga jadi tempat mereka tinggal, pelaku juga menyediakan satu rumah khusus yang biasa disebut basecamp.

Tempat ini jadi tempat bagi anak-anak yang baru melahirkan hingga pulih dan bisa kembali kumpul.

“Jadi di lingkungannya, saat ditanya bayi-bayinya anak siapa, mereka bilang anak yatim piatu yang dititipkan,” katanya.

Menurut Diah, dirinya mendampingi langsung kasus ini dan bicara langsung dengan para korban hingga detail bagaimana kehidupan mereka sehari-hari di tempat tersebut.

Makanya, Diah merasakan betul kegetiran yang dialami anak-anak.

"Merinding saya kalau ingat cerita-cerita mereka selama di sana diperlakukan oleh pelaku,” katanya.

( Tribunpekanbaru.com / Tribun Jabar )

Sumber: Tribun Jabar
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved