Minggu, 12 April 2026
Pemko Pekanbaru
Super Hub Pemko Pekanbaru

Tak Hanya Inggris, Dunia di Ambang Resesi, Ekonomi Memburuk

Dunia di ambang resesi, tak hanya Eropa dan Amerika Serikat saja yang terdampak perang Ukraina vs Rusia yang berimbas pada kenaikan harga komoditas

Editor: Ilham Yafiz
SPENCER PLATT / GETTY IMAGES NORTH AMERICA / GETTY IMAGES VIA AFP
Trader di New York Stock Exchange (NYSE) pada 10 Juni 2022 di New York City. 

TRIBUNPEKANBARU.COM - Dunia di ambang resesi, tak hanya Eropa dan Amerika Serikat saja yang terdampak perang Ukraina vs Rusia yang berimbas pada kenaikan harga komoditas energi dunia.

Data-data ekonomi dunia juga memburuk, salah satunya, ekonomi Inggris yang menghadapi stagnasi tahun depan dan bisa jatuh ke dalam jurang resesi.

Hal ini diungkapkan oleh Konfederasi Industri Inggris (CBI) setelah memangkas prospek pertumbuhan seiring melonjaknya inflasi.

CBI menjadi lembaga ketiga yang memangkas perkiraan pertumbuhan untuk Inggris dalam seminggu terakhir.

Menyusul penurunan peringkat dari Kamar Dagang Inggris dan peringatan dari Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) bahwa Inggris yang memiliki prospek paling lemah dari semua ekonomi utama kecuali Rusia.

"Biar saya perjelas, kami memperkirakan ekonomi akan sangat stagnan. Tidak perlu banyak hal untuk mengarahkan kami ke dalam resesi. Jika tidak, itu akan menjadi satu opsi untuk banyak orang," kata direktur jenderal CBI Tony Danker dikutip dari Reuters, Senin (13/6).

Bahkan pendapatan rumah tangga turun 2,2 % tahun ini, penurunan terbesar sejak pencatatan dimulai pada 1950-an.

Walaupun pemerintah Inggris memberikan stimulus untuk biaya hidup warganya senilai US$ 46 miliar.

CBI memperkirakan ekonomi Inggris akan tumbuh 1,0 % pada tahun depan, turun dari perkiraan sebelumnya sebesar 3,0 % .

Sementara tahun ini, lembaga ini memproyeksi ekonomi tumbuh 3,7 % karena melihat output yang lebih baik dari tahun lalu.

CBI mendesak pemerintah mengganti potongan pajak yang besar atas investasi bisnis yang akan berakhir, dan untuk menghindari tindakan sepihak dalam perselisihan dengan Uni Eropa mengenai aturan perdagangan pasca-Brexit untuk Irlandia Utara.

"Ini adalah serangkaian statistik yang sulit untuk diterima. Perang di Ukraina, pandemi global, ketegangan yang berkelanjutan pada rantai pasokan semuanya didahului oleh Brexit telah terbukti menjadi resep beracun bagi pertumbuhan Inggris," kata kepala ekonom CBI Rain Newton-Smith.

Tak hanya Inggris, Badan Bea Cukai Korea Selatan mencatat ekspor untuk 10 hari pertama menyusut 12,7 % yoy pada Juni 2022.

Impor justru tumbuh 17,5 % yang membuat neraca perdagangan menjadi defisit US$ 6 miliar.

Produk sampingan, ekspor semikonduktor tumbuh 0,8 % dan produk minyak bumi melonjak 94,5 % , tetapi ekspor mobil, suku cadang mobil, dan perangkat komunikasi nirkabel masing-masing turun 35,6 % , 28,8 % , dan 27,5 % .

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved