Minggu, 10 Mei 2026
Pemko Pekanbaru
Super Hub Pemko Pekanbaru

Berita Pelalawan

Kasus DBD di Pelalawan Capai 128 hingga November 2022, Tertinggi di Pangkalan Kerinci

Kasus DBD di Pelalawan tahun ini meningkat drastis dibandingkan tahun 2021 yang hanya 11 kasus mulai Bulan Januari sampai Desember

Tayang:
Penulis: johanes | Editor: Nurul Qomariah
ISTIMEWA
Tim Dinas Kesehatan Pelalawan bersama perangkat kecamatan dan kelurahan serta masyarakat melakukan fogging beberapa waktu lalu. Kasus DBD di Pelalawan meningkat selama 2022. 


TRIBUNPEKANBARU.COM, PELALAWAN - Tampaknya masyarakat harus lebih mewaspadai Kasus DBD di Pelalawan pada musim hujan saat ini.

Pasalnya, Kasus DBD di Pelalawan terus meningkat sepanjang tahun 2022 sampai Bulan November.

Berdasarkan data milik Dinas Kesehatan (Diskes) Pelalawan, Kasus DBD di Pelalawan tahun ini meningkat drastis dibandingkan tahun 2021 yang hanya 11 kasus mulai Bulan Januari sampai Desember.

Padahal 2022 jumlah kasus naik berlipat-lipat dan hingga November ini sudah mencapai 128 kasus yang terpantau Diskes Pelalawan.

Sehingga perlu diperhatikan dan ditangani lebih serius oleh pemkab agar tidak menimbulkan korban di tengah masyarakat.

"Kasus tertinggi masih di Kecamatan Pangkalan Kerinci dibanding kecamatan lainnya," terang Kepa Diskes Pelalawan, Asril M.Kes melalui Kabid Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Dr Aulia Khalid kepada Tribunpekanbaru.com , Minggu (20/11/2022).

Aulia merincikan, kasus DBD sebanyak 128 pasien dengan rincian di Pangkalan Kerinci mencapai 112 kasus.

Diikuti Kecamatan Ukui 6 kasus, Kecamatan Pangkalan Lesung dan Pangkalan Kuras masing-masing 4 kasus, dan terakhir Bandar Petalangan 2 kasus.

Peningkatan kasus sangat drastis dibandingkan Bulan September lalu yang masih 70 kasus.

Dalam dua bulan ini ada 58 kasus yang muncul dan sebagian besar di ibukota Pelalawan.

Diskes menilai, Pangkalan Kerinci menjadi endemi penyakit DBD karena jumlah penduduk sangat banyak dan tempat tinggal cukup padat.

Sebagai daerah perkotaan, banyak terdapat genangan air sebagai tempat berkembang biak nyamuk aedes aegypti sebagai penyebab penyakit berbahaya ini.

"Ada tiga orang pasien yang terakhir dirawat di rumah sakit. Tapi semuanya sudah sembuh dan pulang ke rumah," terang dr Aulia.

Tim Diskes bersama aparatur kecamatan maupun kelurahan serta perangkat lainnya melakukan penanggulangan DBD.

Mulai dari pembersihan lingkungan dengan cara gotong royong, dilanjutkan dengan fogging serta pemberian bubuk abate.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved